Seri Pengetahuan Lokal Banten II : Misteri Dibalik Kata Urat Gunung Kendeng  

Disasterchannel.co. Jakarta – Langkah kaki berpijak pada dataran daerah Lebak. Semilir sejuk angin menyertai pemandangan indah yang tersaji ketika melihat deretan gunung-gunung berdiri megah dengan balutan pepohonan hijau disertai awan tipis dikejauhan. Dibalik keindahan yang tersaji terdapat pula cerita yang harus digali dari pesona deretan Pegunungan Kendeng. Salah satu wilayah yang terletak di Gunung Kendeng adalah Kecamatan Leuwidamar. Morfologi Leuwidamar terdiri dari pegunungan, perbukitan dan dataran rendah. Morfologi Pegunungan menempati bagian tengah dan timur lembar Leuwidamar, dicirikan oleh beberapa gunung api strata atau kerucut gunung api dengan ketinggian antara 500 meter hingga 1950 meter di atas permukaan laut.[1] Desa Kanekes terletak di Kecamatan Leuwidamar, desa ini merupakan desa dimana Suku Baduy tinggal. Sejarah dan petuah leluhur terus-menerus diwariskan kepada generasi Suku Baduy. Baris Sepuh atau leluhur Baduy pernah berkata mengenai istilah urat Gunung Kendeng.

Menurut cerita leluhur yang disampaikan Bapak Ijom (ketua Rt 02) Desa Kanekes menyebut bahwa di daerah Baduy merupakan daerah yang dilalui urat Gunung Kendeng. Menurutnya, pulau Jawa dianalogikan dengan tubuh manusia, dimana pulau Bali dan Madura adalah kakinya, Ujung Kulon adalah kepalanya sedangkan daerah Baduy dimana Gunung Kendeng berada merupakan paru-parunya. Paru-paru adalah objek vital bagi tubuh manusia, tanpa paru-paru manusia tidak akan bisa bernafas dan terus hidup. Begitu pula dengan pulau Jawa, bila Gunung Kendeng yang diibaratkan seperti paru-paru tidak terjaga atau rusak, maka tidak akan ada kehidupan. Olehkarenanya suku Baduy memegang teguh petuah leluhur untuk terus mengaja paru-paru pulau Jawa yang mereka diami. Dibalik kata urat Gunung Kendeng terdapat pula makna yang berarti bahwa ada sebuah patahan yang berada di jalur Gunung Kendeng. Terdapat sebuah amanat dari leluhur untuk menjaga urat Gunung Kendeng, khususnya urat yang berada di paru-paru pulau jawa, daerah yang harus dilindungi diantaranya adalah: Gunung Halimun, tepatnya ada di hulu Sungai Ciberang atau yang disebut dengan Gunung Sangga Buana, Gunung Madur yang berada di daerah Bayah serta Gunung Honje yang berada di Ujung Kulon yang dianalogikan sebagai kepala.

Cerita serupa diturunkan oleh caturrangga baris sepuh yang ada di Kiara Payung, Kecamatan Panggarangan. Menggunakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala bercorak batik coklat sembari duduk bersila disebuah saung disaat terang bulan, ia mulai membuka mulutnya untuk bercerita, sosok ini kerap disapa dengan sebutan Aki Agus. Pria berusia 90 tahun ini dengan gamblang menjelaskan petuah leluhur mengenai bencana. Dalam percakapannya ia berkata bahwa ada beberapa istilah kegempaan tersendiri yang disebutkan oleh leluhur. Aki Agus menyebutkan kata Sidat yang dapat diartikan sebagai segmen patahan, sementara kata urat diartikan sebagai sesar.

Tatapan serius terpancar saat aki Agus menerangkan mekanisme terjadinya gempa. Menurutnya, saat ini lempeng-lempeng bumi khususnya subduksi di Selatan Banten sedang mengunci diri untuk mengeluarkan energi yang besar. Saat ini sidat atau segmen patahan terus bergerak dan mengeluarkan getaran-getaran gempa kecil yang kekuatannya hanya kisaran 2-3 SR. Aktivitas sidat yang terus bergerak dapat memicu urat atau patahan ikut bergerak, bila urat bergerak akan memicu pula pergerakan lempeng atau zona subduksi yang ada di Selatan Banten.

Diterangkan lebih lanjut bahwa terdapat beberapa sidat yang ada di Selatan Banten. Di daerah Bayah dekat dengan tempat Aki Agus tinggal, terdapat sidat yang letaknya di Cimandiri laut atau biasa disebut sesar Cimandiri-Bayah. Urat Gunung Kendeng disebut olehnya dengan penjelasan bahwa pusat jalur sesar yang membelah dan menyebar dari Banten sampai Gunung Tangkuban Perahu merupakan urat Gunung Kendeng. Sesar atau urat ini memiliki jalur yang melalui beberapa daerah diantaranya adalah wilayah Lebak Utara, melalui Gunung Liman terus membentang ke daerah Pongkor Bogor, Gunung Salak, Gunung Sangga Buana dan Gunung Sanggar Bentang, Gunung Gede pada bagian utara hingga ke Gunung Tangkuban perahu.

Jika dilihat dari struktur geologinya, daerah Bayah terdapat sesar yang berupa sesar naik, dengan arah bidang sesar relatif barat timur, barat laut-tenggara dan sesar jurus mendatar dengan arah bidang relatif utara-selatan dan sesar normal memotong batuan berumur tua pada Formasi Bayah berumur Paleosen-Eosen hingga batuan yang berumur muda Formasi Cimanceuri berumur Pliosen. Hasil penelitian Ediar, 2014 menunjukkan bahwa batuan beku Bayah berasal dari daerah samudera yang terpisah dan bermigrasi ke arah kepulauan dan bercampur dengan massa batuan beku benua membentuk batuan beku transisi. Tidak seluruhnya batuan beku di daerah kepulauan terbentuk pada lingkungan busur benua. Hal ini disebabkan pada daerah yang terbentuk oleh interaksi samudera dan benua oleh penyusupan kepingan batuan samudera ke dalam batuan benua, sehingga membentuk lingkungan tektonik yang berorientasi dengan lingkungan transisional [2]

Berdasarkan pada peta geologi Lembar Leuwidamar, Daerah Komplek Pegunungan Bayah, merupakan pertemuan antara Geantiklin (penggembungan daerah secara luas) Jawa dengan Geantiklin Bukit Barisan di Sumatera, sehingga terjadi deviasi struktur, jurus umum dan struktur geologi yang bervariasi. Secara umum lembar Leuwidamar memiliki struktur geologi lipatan antiklin (punggungan lipatan) dan sinklin (lembahan lipatan) dengan pola atau arah relatif barat timur disertai struktur sesar-sesar transversal yang berarah utara – selatan yang memotong dan menggeser sumbu-sumbu antiklin. Secara lokal di beberapa tempat terdapat penyimpangan arah sumbu antiklin dan sinklin yang disebabkan oleh adanya pembentukan Kubah Bayah.[3]

Daerah Bayah dan Cicarucub memiliki hubungan yang erat, kasepuhan Bayah dan Cicarucub merupakan anggota dari Keasepuhan Adat Banten Kidul (sabaki). Dalam aspek geologi, Bayah dan Cicarucub termasuk kedalam wilayah Bayah Dome atau Kubah Bayah. Kubah Bayah merupakan salah satu daerah mineralisasi logam di daerah Banten dan Jawa Barat yang sangat potensial. Kubah Bayah adalah tempat dimana kegiatan magmatik pada Zaman Tersier dan batuan sedimen berumur Paleogen, Neogen hingga Kuarter, serta batuan metamorfik yang berumur Tersier awal dijumpai. Sebagian besar produk kegiatan magmatiknya pada umumnya tersusun dari batuan beku seperti batuan beku dalam (plutonik) dan gunungapi (vulkanik) selain merupakan salah satu daerah dengan singkapan batuan berumur Tersier yang paling lengkap di Pulau Jawa.[4]

Oyot Agus yang merupakan pemimpin kasepuhan Cicarucub Hilir, Desa Neglasari Kec, Cibeber, juga menceritakan mengenai istilah urat Gunung Kendeng. Oyot Agus menerangkan makna urat Gunung Kendeng berdasarkan petuah leluhur diartikan sebagai sebuah tali untuk memperkuat ikatan batiniah antar wilayah dan memiliki cerita mendalam dibalik ikatan itu. Lebih lanjut ia menerangkan bahwa ikatan yang terjalin membentuk pola seperti gelang yang saling mengunci. Daerah daerah yang dilalui dan termasuk kedalam lingkaran dalam gelang itu adalah wilayah Gunung Kendeng, Gunung Salak, Batu Tulis, Rancamaya dan pegunungan daerah Bandung. Diyakini bahwa ikatan batiniah yang kuat antar wilayah di urat Gunung Kendeng akan memunculkan sosok pemimpin baru yang disebut sebagai “Budak Angon”. Pemimpin ini akan membawa kesejahteraan dan kemakmuran di negara ini.

Menurut oyot Agus, Urat Gunung Kendeng adalah suatu gelang yang mengikat. Konsep ini sama dengan konsep dari kubah Bayah. Kawasan Kubah Bayah (Tambang Cikotok, Cirotan, dan Cikidang dan sekitarnya) merupakan kawasan dengan tipe mineralisasi hidrotermal yang cukup komplek dan bervariasi. Pembentukan mineralisasi di kawasan ini sangat dikontrol oleh pola struktur bersifat melingkar atau ”circular structure” dan struktur yang bersifat liniasi atau ”lineanment structure”. Kawasan Kubah Bayah memiliki karakteristik morfologi tersendiri, ditandai oleh perbukitan curam dan lembah yang terjal dengan bentuk sungai yang sempit. Bentuk morfologi di kawasan ini meliputi perbukitan G. Hanjawar, Gunung Jaya Sempurna, G. Sanggabuana, G. Malang-Liman pada bagian utara serta Gunung Peti pada bagian selatannya. Salah satu Bukit tertinggi adalah G. Hanjawar, dengan ketinggian diatas 1000 meter diatas permukaan laut[5]

Terdapat beberapa kesamaan yang didapatkan dari ketiga sumber yang berbeda mengenai urat Gunung Kendeng. Urat Gunung Kendeng terbentang mulai dari Gunung Kendeng, melalui Gunung Halimun Salak dan kemudian berakhir di daerah Bandung tepatnya di Gunung Tangkuban Perahu. Urat diartikan sebagai sesar atau patahan dan juga sebuah tali ikatan, kedua pernyataan ini memiliki keterkaitan satu sama lain yang memungkinkan memiliki sejarah mengenai fenomena yang sama pada masa lalu yang dapat dibuktikan dengan penelitian lebih lanjut. (LS)

 

Sumber:

[1] Sujatmiko and S. Santoso. Geological Map of the Leuwidamar Quadrangle, Java. 1992.
Source: https://www.amuzigi.com/2015/11/geologi-lembar-Leuwidamar-jawa.html?m=1

[2] Ediar Usman Dan Udaya Kamiludin. 2014. Lingkungan Dan Evolusi Tektonik Batuan Dan Sedimen Berdasarkan Unsur Kimia Utama Di Perairan Bayah Dan Sekitarnya, Provinsi Banten Pusat Penelitian Dan Pengembangan Geologi Kelautan, Jln. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40176

[3] Sujatmiko and S. Santoso. Geological Map of the Leuwidamar Quadrangle, Java. 1992.

[4] Johanes Hutabarat. 2016. Geokimia BAtuan Volkanik Formasi Cikotok Di Segmen Utara Kubah Bayah, Banten, Desaptemen Geosains, Fakultas Teknuk Geologi Universitas Padjajaran.

[5] Bambang Nugroho Widi Kelompok Penelitian Mineral. 2007. Model Mineralisasi Di Daerah Kubah Bayah: Suatu Pendekatan Strategi Dalam Eksplorasi Mineral. Pusat Sumber Daya Geologi