Mitigasi untuk Resiliensi Bencana Pasca Tsunami Selat Sunda

Disasterchannel.co. Jakarta – Libur telah tiba tetapi virus corona belum sirna, lagi-lagi liburan harus tertunda. Jangan risau, sobat DC bisa cari-cari referensi destinasi wisata yang cocok untuk dikunjungi dikemudian hari. Ngomong-ngomong tentang pariwisata, Sobat DC pasti tahu keindahan Pantai Tanjung Lesung yang tersohor itu?

Pasir putih yang halus, dipadu dengan air jernih kebiruan dengan hembusan angin sepoi-sepoi membuat siapa saja terpikat dengan keindahan Pantai Tanjung Lesung. Menghirup udara segar dengan pemandangan menakjubkan sembari bersantai rasanya sangat cocok sekali untuk menghilangkan penat. Berenang dengan santai sambil rileksasi atau mencoba aktivitas lainnya seperti seperti snorkeling, diving bisa menjadi pilihan.

Selain Pantai Tanjung Lesung, terdapat pula banyak pantai yang bisa dikunjungi di deretan tepi barat Banten, diantaranya adalah Pantai Bodur, Pantai Carita dan lainnya. Pesona keindahan alam deretan pantai yang ada di tepi barat Banten, serta letaknya yang tak jauh dari ibu kota menjadikan pantai-pantai ini memiliki daya tarik sendiri bagi para wisatawan. Kawasan wisata ini masuk ke dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Tanjung Lesung menjadi salah satu KSPN prioritas yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 2011 tentang rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional dan masuk dalam Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) Krakatau-Ujung Kulon dan sekitarnya.

Pesona Pantai Tanjung Lesung dan sekitarnya berkurang drastis pasca terjadinya tsunami 22 Desember 2018 silam. Letak geografis Pantai Tanjung Lesung yang masuk pada jalur cincin api pasifik, salah satunya berdekatan dengan gunung api aktif Gunung Anak Krakatau. Kabupaten Pandeglang sendiri memiliki indeks risiko bencana dengan klasifikasi tinggi. Kejadian tsunami pada 22 Desember 2018 silam, menyadarkan kita bahwa daerah ini memiliki risiko tinggi terjadinya tsunami.

Berkaca pada dampak kerugian yang sangat tinggi menimpa sektor pariwisata yang ada di daerah Pandeglang, maka sangat penting untuk mengurangi dampak yang akan terjadi dengan upaya mitigasi. Langkah awal untuk membangun ketahanan (resiliensi) bencana tsunami pada kawasan pariwisata di Pandeglang adalah mengidentifikasi karakteristik ancaman, kerentanan dan risiko bencana Tsunami. Karakteristik meliputi sejarah kejadian tsunami, trigger tsunami, wilayah terdampak, serta upaya adaptasi dan mitigasi yang telah dilakukan. Berdasarakan data dan informasi, Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan upaya memetakan kembali zonasi ancaman tsunami di Kabupaten Pandeglang. Hasil pemetaan tersebut, dapat dijadikan dasar dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Kajian tersebut juga harus dijadikan dasar review rencana tata ruang wilayah Kabupaten Pandeglang. Langkah selanjutnya adalah membangun informasi dan sistem peringatan dini. Pencegahan bencana seperti pemantauan melalui sistem peringatan dini, latihan atau gladi ketahanan sangat penting untuk dibangun dan dikembangkan

Pelaku usaha pariwisata atau pengelola dapat melakukan tindakan mitigasi bencana tsunami diantaranya dengan melakukan kerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah II untuk upaya mitigasi bencana bagi kepariwisataan di daerah tersebut. Pihak BMKG memberikan sejumlah fasilitas berupa peralatan deteksi dini bencana. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memberikan informasi dini bencana bagi wisatawan dan masyarakat sekitar selalu waspada terhadap bencana, terutama gempa bumi dan tsunami. Menyediakan beberapa titik kumpul dan jalur evakuasi. Jalur evakuasi menjangkau seluruh kawasan Tanjung Lesung. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan keamanan bagi wisatawan, sehingga aktivitas wisata bisa terus berjalan. Melakukan pembangunan daerah wisata berdasarkan peraturan yang ada (Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2016) tentang Batas Sempadan Pantai. Memberikan pengetahuan, pelatihan dan sosialisasi terkait mitigasi bencana kepada pelaku wisata dan wisatawan.

Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah juga sangat besar dalam membangun ketahanan (resiliensi) pada tahap pascabencana. Pemerintah harus menjembatani dan menjadi akselerator dengan fasilitasi percepatan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tunami selat sunda tersebut harus dapat dipadukan dengan masterplan plan pengembangan pariwisata Pandeglang berbasis mitigasi bencana. Akademisi dapat mengambil peran dalam membuat kajian wilayah dengan ancaman dan risiko tsunami di wilayah pesisir Pandeglang. Sementara media dapat berperan untuk mempromosikan dan sebagai media sosialisasi kesiapsiagaan terhadap ancaman tsunami, serta mempromosikan pariwisata yang telah pulih.

Pembangunan kembali tempat pariwisata harus berdasarkan prinsip pengurangan risiko bencana agar dapat mengurangi dampak atau bahkan mengilangkan dampak dalam berbagai aspek. Bencana adalah urusan bersama, kolaborasi berbagai pihak dengan berbagai keahlian dan kemampuan perlu dilakukan untuk membangun ketahanan atau resiliensi. (LS)

 

Sumber:

Wulung S., Abdullah C. Upaya Mitigasi Pasca Tsunami di Destinasi Pariwisata. ejurnal.binawakya.or.id 2020, 14, 2883-2893.

Shalih O., Tambunan M.P., Tambunan R.P. Membangun Ketahanan (Resiliensi) Bencana pada Kawasan Pariwisata (Studi Kasus: Kabupaten Pandeglang Pasca Tsunami Selat Sunda 2018). Sosial and Tecnological Innovation on Disaster for Industry 4.0 Proceeding Book Vol.1. 2019 hal 174-179