Banten Dan Pengetahuan Lokal Tentang  Gempa dan Tsunami

Disasterchannel.co. Jakarta.  Banten mengapa  selalu identic dengan santet ? Sebuah perbuatan untuk mecelakai orang lain,  sebutan ini seperti generic diingatan orang.  Padahal menurut catatan sejarah,  Banten adalah wilayah metropolis pada masa Kesultanan Maulana Hasanuddin putra dari Sunan Gunung Jati, Banten menjadi kota yang sangat berpengaruh dalam perdagangan rempah-rempah.  Selama hampir tiga abad Kesultanan Banten mampu bertahan bahkan mencapai kejayaan yang luar biasa, yang di waktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya. Perang saudara, dan persaingan dengan kekuatan global memperebutkan sumber daya maupun perdagangan, serta ketergantungan akan persenjataan telah melemahkan hegemoni Kesultanan Banten atas wilayahnya.

Tetapi Banten juga penuh dengan catatan peristiwa bencana  yang pernah terjadi, gempa, tsunami, bahkan pandemic pernah dialami oleh Propinsi ini sebelumnya. Tanggal 5 Januari 1699,  saat Nusantara masih diduduki VOC-Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn (1691-1704), Batavia dan sekitarnya diguncang gempa bumi yang cukup besar. Dalam buku hasil penelitian yang berjudul “Indonesia’s Historical Earthquakes” dalam Geoscience Australia (2015) yang disusun Jonathan Griffin dan kawan-kawan menyebutkan, gempa pada 1699 ini merupakan gempa bumi bersejarah yang paling signifikan pada abad ke-17. Anthony Reid lewat buku Historical Evidence for Major Tsunamis in the Java Subduction Zone (2012) menuliskan bahwa guncangan saat itu lebih besar dan kuat dibandingkan dengan gempa bumi yang pernah terjadi. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang disajikan dalam makalah bertajuk “Palaeotsunami, Interdisciplinary Study of The South Java Giant Tsunami” (2017), gempa ini terjadi ketika Batavia diguyur hujan deras pada pukul 01.30 dini hari. Di Bantam (Banten) dan sebagian daerah di Jawa bagian barat lainnya, termasuk Buitenzorg (Bogor) dirasakan gempa susulan pada pukul 06.00 pagi, demikian pula masyarakat di Lampong (Lampung) dan sekitarnya yang juga merasakan guncangan yang cukup besar.

Pusat gempa bumi pada 5 Januari 1699 itu memang belum bisa dipastikan, ada pendapat yang memperkirakan gempa tersebut berpusat di suatu tempat antara Cisalak hingga Lampung. Perkiraan lainnya, gempa bumi terjadi akibat tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang termasuk dalam Zona Megathrust. Zona ini sudah terbentuk berjuta-juta tahun yang lalu. Menurut Peta Sumber Gempa Nasional (2017), ada tiga lokasi di Jawa yang berpotensi menimbulkan gempa bumi besar dalam Zona Megathrust, yakni Selat Sunda, pesisir selatan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta segmen Jawa Timur hingga Bali. Selain itu, ada perkiraan lain yang juga bisa menjadi salah satu penyebab gempa bumi yang melanda Batavia, Banten, hingga Lampung tersebut, yakni meletusnya Gunung Salak di Bogor pada malam tanggal 4 Januari 1699 atau beberapa saat sebelum gempa terjadi.

Pendokumentasian Pengetahuan Tentang Bencana

 

Pengalaman bencana di masa lalu, melahirkan pengetahuan di tengah masyarakat  bagaimana  merespon dan melakukan upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Pengetahuan tersebut  umumnya masih tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat.  Pengetahuan inilah yang akan dituliskan kembali, Yyasan Skala Indonesia (Perkumpulan Skala) bekerjasama dengan Yappika, saat ini tengah mengumpulkan pengetahuan lokal  tentang gempa bumi dan tsunami di wilayah Banten.  Kegiatan sudah dimulai sejak awal Maret,  dimulai dengan diskusi dengan  tim, para ahli serta merancang model penelitian serta penulisan dan pembuatan film dokumenter.

 

Hasil dokumentasi tersebut diharapkan nantinya dapat dapat dijadikan bahan untuk mengembangkan strategi mitigasi berbasis kampung.  Selain itu, bahan-bahan yang terkumpul nantinya akan dijadikan bahan untuk mengkampanyekan kesadaran masyarakat akan bencana serta upaya-upaya mitigasi yang sederhana.

Tim Peneliti yang beranggotakan 15 orang akan mengunjungi beberapa wilayah di Banten, sementara  yang lainnya akan mengumpulkan berbagai data  dari berbagai pihak di wilayah Serang, Pandeglang, Bayah, Labuan, dan tempat-tempat lainnya yang meninggalkan penanda bahwa di kawasan tersebut pernah terjadi bencana gempa dan tsunami.

 

Kami akan terus melaporakan dari lapangan perkembangan perjalanan tim kami. (RN)