Empat Belas Tahun Gempa Yogya dan Likuefaksi

Disasterchannel.co. Jakarta. – Empat belas tahun yang lalu, tepatnya pada 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.53 WIB, gempabumi mengguncang Yogyakarta dengan kekuatan 5,9 Skala Richer. Gempabumi yang terjadi sekitar 57 detik itu, menghancurkan ratusan ribu rumah dan menyebabkan ribuan orang meninggal.  Pusat gempa berada di Sungai Opak di Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul dan jalur gempa sampai ke Klaten.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Bantul, Dwi Daryanto, jumlah korban meninggal di wilayah Bantul ada 4143 korban tewas, dengan jumlah rumah rusak total 71.763, rusak berat 71.372, rusak ringan 66.359 rumah. Total korban meninggal gempa DIY dan Jawa Tengah bagian selatan, seperti di Klaten, tercatat mencapai 5.782 orang lebih, 26.299 lebih luka berat dan ringan, 390.077 lebih rumah roboh akibat gempa waktu itu. Dwi menyebut,

Bila ditinjau dari aspek geologi, daerah Yogyakarta merupakan bagian dari lempeng benua Eurasia yang terletak dekat dengan zona subduksi yang terbentuk akibat tumbukan antara Lempeng Benua Eurasia dan Lempeng Samudra Indo – Australia. Tumbukan ini yang menghasilkan zona subduksi dan jalur magmatisme yang selanjutnya membentuk jalur gunung api termasuk di dalamnya Gunung Merapi. Oleh sebab itu, sebagian besar daratan di tanah Yogya merupakan endapan rombakan gunung api muda salah satunya berasal dari aktivitas Gunung Merapi dan bagian lainnya tertutup endapan alluvium. Sumber gempa di darat telah teridentifikasi berasal dari Sesar Opak. Inilah sesar atau patahan yang dianggap sebagai penyebab gempa Yogya 2006.

Berdasarkan penelitian Cecep Sulaeman dan kawan kawan pada tahun 2008 , mengemukakan bahwa adanya sesar berarah barat daya – timur laut dengan jenis sesar mendatar mengiri. Sesar tersebut dikenal dengan nama Sesar Opak. Posisi sumber gempa bumi 27 Mei 2006 diperkirakan berlokasi pada jarak 10 km sebelah timur Bantul.

 

Likuefaksi di Yogya

Sobat DC pasti sudah familiar dengan kata likuefaksi semenjak bencana yang menimpa Sulawesi tengah pada 28 September 2018 silam. Ternyata jauh sebelum bencana yang menimpa Palu dan wilayah sekitarnya, di Yogyakarta tepatnya di Kabupaten Bantul, Sleman, dan Klaten juga dilaporkan adanya kejadian likuefaksi. Peristiwa likuefaksi ini ditandai dengan munculnya pasir halus sepanjang retakan tanah, beberapa sumur penduduk kering, dan bangunan menjadi miring.

Belajar dari gempa Sulawesi Tengah yang mengakibatkan likuefaksi berdampak besar di wilayah Kelurahan Balaroa, Petobo, Jono Oge dan Sibalaya Selatan, rasanya sobat DC perlu mengetahui apa itu likuefaksi dan potensi likuifaksi di daerah Yogyakarta.

Likuefaksi merupakan gejala peluruhan pasir lepas yang bercampur dengan air akibat guncangan gempa, di mana gaya pemicu melebihi gaya yang dimiliki litologi (deskripsi batuan) setempat dalam menahan gempa. Hal ini menyebabkan beberapa kejadian seperti penurunan cepat (quick settlement), pondasi bangunan miring (tilting), penurunan sebagian (differential settlement) dan mengeringnya air sumur yang tergantikan oleh mineral nonkohesif.

Berdasarkan penelitian Taufid DKK, 2016, potensi likuefaksi di daerah Yogyakarta sebagian besar berpotensi sedang, dan semakin ke arah Sesar Opak (timur) potensinya semakin tinggi. Potensi likuefaksi ini memiliki nilai yang sebanding dengan perhitungan dampak kerusakan akibat penurunan tanah. Likuefaksi merupakan salah satu faktor penyumbang kerusakan bangunan pada gempabumi 27 Mei 2006 karena menunjukkan hubungan yang positif antara potensi likuefaksi beserta perhitungan penurunan tanah akibat likuefaksi.

Sementara itu, menurut penelitian Mase, 2007, menyatakan bahwa Likuefaksi dapat terjadi di Yogyakarta Selatan. Likuefaksi ditentukan dengan menggunakan parameter rasio peningkatan tekanan air (ru). Likuefaksi berpotensi terjadi apabila nilai ru > 1.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa pasir dari selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berpotensi likuefaksi untuk setiap beban dinamik yang diberikan. Dimana nilai rasio peningkatan tegangan air pori maksimum (ru max) yang diperoleh bernilai lebih besar atau sama dengan satu. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa, durasi terjadinya likuefaksi menjadi semakin lama, seiring dengan bertambahnya percepatan maksimum yang diterapkan. Semakin besar percepatan maksimum yang diterapkan, maka semakin besar pula tegangan air pori maksimum yang dihasilkan. Disimpulkan berdasarkan hasil tekanan air pori berlebih yang diperoleh, umumnya melebihi tegangan efektif tanah.

Semakin tinggi waktu getaran juga menghasilkan waktu likuefaksi yang lebih pendek dalam percepatan tanah maksimum yang sama. Percepatan tanah maksimum yang lebih besar umumnya meningkatkan waktu tekanan air pori. Durasi getaran yang lebih lama juga menghasilkan waktu yang lebih lama. Durasi likuefaksi menjadi lebih lama ketika percepatan tanah maksimum yang diterapkan meningkat.

Durasi getaran yang lebih lama juga menghasilkan durasi likuefaksi yang lebih lama. Percepatan tanah maksimum yang lebih besar mampu menghasilkan rasio tekanan air pori berlebih maksimum yang lebih tinggi. Dalam nilai yang sama dari akselerasi puncak tanah yang diterapkan, durasi getaran yang lebih lama juga berpotensi menghasilkan rasio tekanan air pori berlebih maksimum yang lebih tinggi.

Sobat DC, sekarang sudah tahu kan mengenai potensi likuefaksi di Yogya? Bila sudah tahu potensi bahayanya, maka kita harus bersiapsiga untuk meminimalisir risiko bencananya.  (LS)

 

Sumber:

Geomagz-Vol-6-No-2-Juni-2016.pdf

Sulaeman C et all. 2008. Karakterisasi sumber gempa Yogyakarta 2006 berdasarkan data GPS 1 Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 3 No. 1 Maret 2008: 49-56 49.

Buana T et all. 2016. The Relationship of Liquefaction Potential on Young Volcanic Deposits of Merapi Volcano And Damaged Buildings At Bantul Regency Due To Earthquake On May 27th, 2006.Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 7 No. 2, Agustus 2016: 89 – 102

Mase Zalbuin. 2017. Experimental Liquefaction Study of Southern Yogyakarta Using Shaking Table. Jurnal Teoretis dan Terapan Bidang Rekayasa Sipil Vol. 24 No. 1 April 2017

https://regional.kompas.com/read/2017/05/27/13193441/mengingat.kembali.gempa.yogyakarta.11.tahun.lalu