Waspada Sesar Citarik, Penyebab Gempa Sukabumi 10 Maret 2020

Disasterchannel.co. Jakarta – Gempa bermagnitudo 5,1 terjadi di Sukabumi pada 10 Maret 2020 menyebabkan ratusan rumah rusak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mencatat ada 2.991 jiwa terdampak bencana gempa Selasa 10 Maret 2020. Update pada Senin 16 Maret 2020 saat tanggap darurat berakhir.

Kerusakan rumah akibat gempa ini  juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. BPBD Kabupaten Bogor melaporkan terjadi kerusakan  di Kecamatan Pamijahan. Beberapa rumah  mengalami kerusakan yang tersebar di  Desa Gunungbunder, Cibunian, Purwabakti, Cibitung Kulon dan Pasarean.

Dilansir dari Kompas.com, Daryono, Kepala Bidang Informasi Gempabumi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan “Dapat dijelaskan bahwa pembangkit gempa ini berbeda. Saat itu gempa dipicu oleh aktivitas Sesar Citarik yang lokasinya di sebelah barat sesar Cimandiri,” Sesar ini masih aktif hingga saat ini dengan mekanisme sesar geser atau mendatar mengiri (sinistral strike slip). Sementara itu, Sesar Cimandiri memiliki orientasi timur timur laut-barat barat daya, memanjang dan tersegmentasi dalam 5 segmen mulai dari Pelabuhan Ratu sampai Gandasoli. Sesar ini cukup aktif dengan mekanisme sama dengan Sesar Citarik.

Menurut penelitian Sidarto tahun 2008 menyatakan bahwa, Sesar Citarik merupakan sesar aktif yang cukup besar. Sesar ini dicirikan oleh keputusan Sungai Citarik. Sesar Citarik memotong Pulau Jawa di bagian barat yang memanjang dari Samudra Hindia, Pantai bagian tenggara Palabuanratu, Kota Palabuanratu, Sungai Citarik, Bogor, perbatasan Bekas dan Jakarta dan menerus ke Laut Jawa.

Berdasarkan analisis kekar dan pergeseran Sungai Cimandiri, Sesar Citarik merupakan sesar mendatar mengiri, sehingga lokasi rangkaian gunung api kuarter Gunung Endut, Gunung Batu dan Gunung Salak diduga merupakan daerah bukaan (pull Apart) yang dapat berfungsi sebagai celah keluarnya magma dan membentuk ketiga gunung api tersebut.

Sesar ini melalui beberapa daerah penting, seperti Jakarta (ibu kota Negara), Bogor dan Bekasi yang merupakan daerah penyangga ibu kota, dan juga Palabuanratu yang merupakan daerah wisata. Sehingga keberadaan sesar aktif ini perlu diwaspadai, mengingat daerah yang dilewati memiliki jumlah penduduk yang padat dan pembangunan yang padat.

Dari paparan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perlunya perhatian terhadap upaya upaya mitigasi bencana gempa disepanjang jalur sesar aktif Citarik. Mengingat daerah yang dilalui oleh sesar ini merupakan daerah daerah padat penduduk. Belajar dari pengalaman bencana yang terjadi, perlu dilakukan pembangunan berdasarkan pada kajian risiko bencana dari masing-masing tempat yang ada. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dampak kerugian dan meniadakan korban jiwa. Perlunya keterlibatan penta helix dalam penanggulangan bencana, tak terkecuali dalam mengenai aktivitas sesar Citarik. (LS)