Investasi Untuk Pengurangan Risiko Bencana

Jakarta, Disasterchannel.co,- Topan Hagibis, yang menyerang Jepang pada pertengahan Oktober lalu, menewaskan 91 orang. Kekuatan angin topan dan banjir yang melanda Jepang merupakan rekor terkuat sepanjang empat dekade. Walau informasi tentang topan Hagibis telah diinformasikan dengan sangat gencar,  kesiapsiagaan dipersiapkan, tetapi hantaman Hagibis tetap menimbulkan korban yang tidak sedikit.

Topan yang mematikan ini mengisyaratkan kita semua bahwa perubahan iklim sedang terjadi. Bahwa suhu dunia naik, memberi gambaran potret di masa depan. Dimana banyak wilayah-wilayah yang akan mengalami dampak dari perubahan iklim. Dunia bisnis di Jepang melaporkan – menurut beberapa media online di Jepang, kerugian lebih dari 130 miliar yen. Bisnis pertanian terutama yang mengalami kehancuran yang sangat signifikan, panen apel gagal, kemudian rusaknya saluran irigasi. Sistem transportasi juga terganggu berimbas pada pengiriman beras yang juga terganggu.

Tidak hanya itu, musim gugur yang biasanya dipenuhi oleh para turis yang ingin menikmati keindahan beberapa wilayah di Jepang juga mengalami penurunan yang sangat drastic. Beberapa penginapan dan hotel serta sumber air panas terputus akses karena pipa-pipa yang rusak. Beberapa layanan kereta gunung di Prefektur Nagano di Jepang juga ditangguhkan karena tanah longsor.

Investasi untuk pengurangan risiko bencana menjadi sangat penting, seperti yang disampaikan oleh Sekretaris Jendral UNISDR saat pertemuan Global Platform pada tahun 2011, bahwa investasi 1 US dollar akan menyelamatkan 7 US dollar. Artinya investasi pada upaya pengurangan risiko bencana akan menyelamatkan banyak hal.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mengikuti komitmen dunia untuk upaya pengurangan risiko bencana, sebagai negara yang sebagaian wilayahnya dikelilingi oleh cincin api. Maka Indonesia merupakan negara dimana hampir semua wilayahnya memiliki potensi bencana. Sehingga upaya pengurangan risiko bencana harus dilakukan sedini mungkin.

Banjir di Jabodetabek, menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), negara mengalami kerugian lebih dari  Rp 10 triliun. Jumlah tersebut belum menghitung seberapa besar kerugian yang dialami oleh lembaga usaha.

Pengalaman banjir di Jabodetabek memang membuat beberapa wilayah kemudian menyadari bahwa informasi dini yang disebarkan oleh BMKG harus dibarengi dengan langkah-langkah taktis agar jika terjadi sesuatu kerugian dapat ditekan sebesar mungkin.

Dalam mengelola bencana, setiap wilayah yang memiliki potensi bencana wajib untuk menyusun rencana kontijensi, dokumen ini dibuat sebagai panduan bagi setiap pemegang kepentingan terkait dengan kebencanaan untuk menyiapkan diri jika terjadi sesuatu di wilayahnya. Selain memandu jika terjadi bencana, dokumen ini juga menjadi panduan untuk berlatih bersama, antar pemerintah dengan masyarakat dan upaya apa saja yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak bencana.

Kembali ke persoalan anggaran, saat ini anggaran untuk bencana di Indonesia mengalami penurunan dari Rp. 700 miliar per tahun menjadi Rp. 610 miliar per tahun. Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani, angka tersebut merupakan anggaran rutin BNPB. Sementara anggaran bencana tidak hanya ada di BNPB, tetapi di beberapa kementerian anggaran kebencanaan juga tersedia. Selain itu, pemerintah juga menyediakan anggaran on call, artinya jika terjadi bencana dan membutuhkan dana maka dana tersebut bisa digunakan kapan saja. Misalnya di tahun 2018, pemerintah sudah mengeluarkan dana sebesar Rp 7 triliun.

Lalu bagaimana kita menghadapi bencana? Yang terpenting adalah memperkuat masyarakat, memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kita hidup di wilayah cincin api. Dimana bencana hampir setiap tahun terjadi, sehingga mau tidak mau kita harus siaga menghadapi bencana. Dan yang tidak boleh dilupakan, bahwa pengetahuan lokal sebagai bekal masyarakat di masa lalu. Pengetahuan local tersebut penting untuk digali dan dipopulerkan kembali, karena masyarakat di masa lalu tentu memiliki pengalaman tentang bagaimana mereka merespon bencana alam.

Upaya ini memang membutuhkan biaya tetapi hal itu adalah sebuah upaya investasi untuk masa depan, agar masyarakat Indonesia menjadi jauh lebih tangguh menghadapi bencana. (RN)