Topan Hagibis: Bagaimana Jepang Menghadapi Bencana

Jepang baru saja diterjang topan paling mematikan selama 60 tahun terakhir. Topan Hangibis. Bagaimana cara negara modern itu menghadapinya?

Peringatan mengenai topan sudah santer diinformasikan sebelum topan itu sampai ke negeri Jepang. Warga masyarakat segera menyerbu supermarket untuk membeli persediaan makanan. Seperti yang disampaikan oleh Youtuber asal Indonesia yang tengah menimba ilmu di negeri Sakura, Jerome Polim melalui Instastory-nya pada Minggu (12/10/2019).

Pengurangan risiko bencana di Jepang telah mengakar sehingga mereka terlihat ‘santai’ dalam menghadapi topan Hagibis. NHK melaporkan bahwa 2 minggu setelah topan Hagibis 70% korban adalah lansia diatas 60 tahun (26/10/2019).

Dari 88 korban tewas akibat topan Hagibis, 20 korban berusia 70 tahun, 13 korban berusia 80 tahun dan 8 orang berusia 90 tahun. 58 korban berjenis kelamin laki-laki dan 30 korban berjenis kelamin perempuan.

Mizan Bisri WNI yang tengah menempuh post doc di Jepang menjelaskan pengalamannya menghadapi topan Hagibis dan bagaimana pemerintah Jepang siap dalam menghadapi topan yang menewaskan 74 orang itu.

Seminggu sebelum terjadi pemerintah Jepang telah mengeluarkan prakiraan cuaca mengenai topan Hagibis. Pada 10 Oktober, keputusan untuk membatalkan acara telah diambil, seperti kualifikasi GF Jepang diundur.

Keesokan harinya, 11 Oktober, perusahaan-perusahaan mengeluarkan rencana operasi menjelang topan. Kereta api ditutup, masyarakat mulai stock makanan dan minuman dan lain-lain. pada Jumat malam, tempat evakuasi di Kecamatan Adachi(ku) sudah dibuka. Evacuation warning level 3 telah keluar pada Sabtu pagi tanggal 12 Oktober, yaitu mengevakuasi lansia dan disabilitas. Dan pada tanggal 12 Oktober, warning level 5 keluar di seluruh wilayah Adachi.

Bisri menekankan beberapa hal penting yang sangat perlu ditekankan dari kejadian kemarin, yaitu:

  • Kejadian bencana tahun ini, termasuk topan Hagibis, mengetes level early warning Jepang yang baru
  • Perkembangan real time inundation, landslide, and flood risk yang baru di platform JMA (Japan Meteorological Agency)
  • Perkawinan informasi risiko dengan kapasitas / fasilitas tanggap darurat di tingkat lokal
  • Peran media yang semakin baik saat keadaan darurat, dan inklusif
  • Akses yang terbuka perangkat pemantauan banjir

Rizki Fitrasha anggota U-Inspire juga memberikan gambaran bagaimana sekolah dan pemerintah berperan aktif dalam menghadapi topan Hagibis. Anak-anak sekolah (TK/SD/SMP/SMA) telah terbiasa melakukan pelatihan evakusi bencana. Acara yang rutin dilakukan 1-2 bulan sekali pada jenjang TK dan 2-3 bulan sekali pada jenjang SD. Selain itu orang tua juga akan ikut dalam pelatihan evakuasi beberapa bulan sekali.  Sekolah dan orang tua tergabung dalam mailing list untuk keadaan darurat. Sekolah juga akan memberikan email khusus bila terjadi keadaan darurat.

Melihat bagaimana Jepang bisa memprediksi bencana lebih maju daripada negara lain, Bisri menjelaskan bahwa memang ada di investasi pendidikan, rekayasa, dan ilmu pengetahuan, serta manusia. Tapi harus dipahami tidak semua bisa diprediksi dan di-forecast.

“Contoh ekstrim, pemerintah Jepang officially tetap bilang prediksi gempa tidak/ belum bisa. Tapi evaluasi berkala terhadap risiko gempa harus. Dan mereka mempersilahkan lembaga riset, private, pemerintah sendiri mengaji dan mengolah data-data terkait yang mungkin membawa lebih dekat pada prediksi gempa.”

Track record Jepang dalam menghadapi bencana, seperti memiliki pencatatan yang baik selama ratusan tahun kebelakang.

“untuk penerapan di Indonesia, sudah mulai diterapkan. Hanya saja jumlahnya belum sebanyak Jepang mengingat luas Indonesia jauh lebih luas dari Jepang dan masih adopsi teknologi. Sudah banyak kerjasama penelitian baik dari pemerintah maupun institusi pendidikan tinggi untuk mengembangkan sistem prediksi bencana.” Jelas Fitra dalam sesi tanya jawab Kulwap IYDRR x U-Inspire pada Minggu (27/10/2019).

Dia juga menekankan prediksi melalui analisa data-data yang didapat sebelumnya. Data dari Indonesia masih belum selengkap Jepang. Dan mungkin sosialisasi sampai masyarakat masih kurang.

 

Sumber: Notulensi Kulwap IYDRR x U-Inspire Topan Hagibis: Cerita dari Tokyo oleh Tinitis Rinowati

https://www3.nhk.or.jp/news/html/20191026/k10012151641000.html