Bagaimana Seseorang Bisa Dikatakan Sadar Bencana?

Disasterchannel.co-, Seorang followermemberikan direct messageke akun @disasterchannelco. Dia menanyakan apakah ada indokator kesiapsiagaan bencana. Pertanyaan membuat saya ikut bertanya juga, apakah ada ukuran bagi seseorang bisa dikatakan sadar bencana? Saya melemparkan pertanyaan tersebut ke kawan-kawan saya yang memang aktivis kebancanaan.

Menurut Direktur Yayasan Skala Indonesia Trinirmalaningrum, seseorang bisa dikatakan sadar bencana apabila pertama mengenal potensi bencana di wilayahnya. Kedua mengetahui peta sederhana wilayah, dan di mana rambu atau ciri tempat evakuasi, titik kumpul yang aman.

“Dan yang ketiga, mengetahui bagaimana teknik menyelamatkan diri ketika bencana terjadi. Itu yg paling minimal.” Terang ketua Ekspedisi Palu-Koro ini.

Lebih jauh, seorang pengusaha dan pegiat isu kebencanaan Tinitis Rinowati menjelaskan indikator sadar bencana dari sisi Sendai Framework.

“Ada tahapan awal yang bisa jadi mirip dengan istilah understanding the risks. Sadar bencana atau sadar risiko. Artinya, boleh dikroscek ke Sendai Framework ya haha, sederhananya sebagai individu ataupun bagian dari masyarakat, kita dahpunya pemahaman konsep ancaman di manapun kita berdiri. Minimal, dengan pemahaman itu kita jadi tau mana ajatindakan yang perlu kita ambil dalam mengurangi risiko.”

Dia memberi contoh semisal pergi liburan ke salah satu kota, sebut saja Banyuwangi. Di sana secara sadar kita mencari potensi ancaman yang mungkin terjadi. Kita bisa mencari hal itu melalui banyak sumber seperti membuka aplikasi InaRisk, lihat di mesin pencari, tanya orang-orang, baca papan informasi, dan sebagainya.

“Terus kita jadi tau ternyata tahun 1994 di sana pernah ada tsunami, terus harus apa? Gakjadi liburan? Atau pindah destinasi? Atau gimana? Nahsadar bencana itu jadi yang taudan mempersiapkan diri kalau ancaman itu datang. Jadi lebih waspada, memilih tempat menginap di jarak aman, siap tas siaga, dan sebagainya. Jadi gaharus jadinya menghindar atau malah apatis, tapi sadar yang setelah tauada ‘apa’, cari taulebih lanjut untuk harus ‘bagaimana’.” Jelasnya.

Editor dan kontributorIndonesian Youth and Disaster Risk ReductionSuci Inaqa menambahkan selain sudah paham apa yang perlu dilakukan saat menghadapi bencana, dia (seseorang-red) juga sudah prepareakan kemungkinan terjadi bencana. Dan level lebih tingginya, setelah bencana dia juga tau apa yang perlu dilakukan.

“Analoginya, ketika hujan kondisi yang akan terjadi pasti badan kebasahan, trus bisa masuk angin, pilek, sakit, tas, dan sepatu juga basah. Prepare-nya, pas udah masuk musim hujan, bisa antisipasi membawa payung, atau kalomalas bisa bawa jaket waterproof, trussepatu juga pilih yang (dari bahan dasar) karet, dan selalu bawa covertas. Kalau udahkejadian, misal setelahnya baju jadi basah karena dia gakbawa payung, jas hujan, dan barang-barang antisipasi tadi, dia gakpanik kebasahan, karena dia bakal ngeringinbaju dan badannya pakai hand dryeryang suka ada di kamar mandi kantor atomall itu.”

Secara sederhana mungkin sadar bencana adalah kita sudah tau apa yang harus kita lakukan bila terjadi bencana. Sebelumnya juga kita sudah mempersiapkan kemungkinan potensi yang ada di tempat kita berada. Lalu setelah itu, kita mengerti apa yang harus dilakukan bila kita mengalami bencana.

Tidak seperti di film Gundala garapan Joko Anwar, Sancaka tidak melakukan apapun saat melihat potensi kekerasan yang ada di sekitarnya. Ya, tapi akhirnya dia menjadi orang yang ikut campur sihhehe. Karena seperti dalam kebencanaan, daripada habis waktu menunggu ilham untuk menjadi seorang superhero, mulailah melibatkan diri kita dalam upaya pengurangan risiko bencana dengan langkah: Sadar Bencana.(ono)