Kemitraan Konservasi Buka Akses Pelibatan Masyarakat Dalam Mengelola Hutan

JAKARTA, DISASTERCHANNEL.CO-Indonesia memiliki 54 taman nasional, 6 diantaranya merupakan situs warisan dunia. Kekayaan taman nasional tidak berbanding lurus dengan kondisi perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Masyarakat memiliki akses yang terbatas dalam pengelolaan wilayah konservasi dan konflik berkepanjangan akibat masyarakat yang tidak terlibat aktif dalam pengelolaan taman nasional.

Sehingga hadirnya Peraturan Dirjen KSDAE no. 6 tahun 2018 tentang petunjuk teknis kemitraan konservasi mengatur akses masyarakat sekitar untuk turut serta dalam pengelolaan lingkungan menjadi terobosan baru KLHK dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia yang mengikut sertakan masyarakat sekitar hutan.

“Dukungan publik untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari masyarakat sejahtera dalam kawasan konservasi sangat diharapkan.” Kata Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Wiratno di Gedung Rimbawan III KLHK, Jakarta, Selasa (9/7/2019). Sembari berharap masukan berbagai pihak agar kemitraan konservasi bisa berjalan lancar dan optimal.

Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) melakukan kajian di 12 taman nasional dan 1 taman burung untuk melakukan kajian kemitraan di 6 Taman Nasional diantaranya Taman Nasional tersebut adalah TN Gunung Halimun Salak, TN Kelimutu, TN Gunung Ciremai, TN Meru Betiri, TN Gunung Tambora, dan TN Sebangau.

Kawasan konservasi menurut Direktur Program LATIN Arif Aliandi selain membawa dampak ekologis, kawasan konservasi juga membawa manfaat ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.

“Keterlibatan masyarakat dimungkinkan melalui kemitraan konservasi,” terangnya.

Ia menambahkan LATIN menemukan kemitraan konservasi memberikan jaminan bahwa pengelolaan kawasan konservasi yang melibatkan masyarakat sekitar dapat menjawab dilema pengelolaan selama ini.

Manfaat konservasi lingkungan ini memberikan manfaat dalam bentuk pendapatan dari kunjungan wisata ataupun jasa lingkungan.

Dalam mempromosikan wilayah konservasi sendiri, Direktorat PJLHK membangun aplikasi digital yang dapat diakses oleh pengguna android yaitu Wisata Alam Indonesia. Aplikasi ini berisi informasi dan edukasi di kawasan konservasi taman nasional dan taman wisata alam yang ada di Indonesia. (Ono)