Banjir Jakarta Dan Hari Kesiap Siagaan Bencana

Disasterchannel.co-, Tanggal 26 April 2019 kemarin, seluruh pekerja kemanusian dan kebencanaan, memperingati Hari Kesiap Siagaan Bencana hampir di seluruh wilayah dimotori oleh Badan Penanggulangan Bencana  Daerah menyatakan dirinya untuk siap siaga terhadap bencana yang ada di wilayahnya. Berbagai kegiatan di gelar, kemudian didaftarkan melalui website yang disiapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk didaftarkan. Mengapa di daftarkan, karena untuk tahun 2019 ini, diharapkan ada 50 juta masyarakat yang akan ikut ambil bagian dalam upaya kesiap siagaan terhadap bencana.

Hari kesiap siagaan bencana, ditetapkan sejak tahun 2016, hal ini merupakan upaya BNPB mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana  (PRB). Saat awal dicanangkan, HKB2016, hanya menargetkan diikuti oleh 500 ribu orang saja, mekanisme partisipasinya adalah, sebelum kegiatan berbagai lembaga mendaftarkan diri ke website yang didedikasikan untuk aktivitas HKB tersebut, serta mencantumkan jumlah peserta yang akan mengikuti simulasi, seminar, pelatihan atau kegiatan apapun berkait dengan upaya kesiap siagaan terhadap bencana. Tentu kegiatan ini mempeorleh sambutan yang sangat baik dari  masyarakat, tiap tahun jumlah orang yang mendaftar terus bertambah, yang artinya ini merupakan indikasi bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesiap siagaan.

Tahun 2019 ini BNPB mencanangkan kembali HKB dengan target 50 juta orang dapat terlibat dalam upaya kesiap siagaan. Dengan menggandeng Dharma Wanita,  yang memiliki jaringan sampai ke tingkat kampung, diharapkan kegiatan ini akan mencapai targetnya.

Tetapi jumlah penambahan target peserta tiap tahun, ternyata belum menjadi jawaban, karena hujan  dihari yang sama mengguyur Bopunjur (Bogor, Puncak dan Cianjur), serta Jakarta, dan  seperti tidak bisa dibendung sebagian wilayah Jakarta dan Bogor mengalami banjir. Padahal sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  (BMKG) sudah menyebarkan informasi tentang potensi hujan lebat yang akan terjadi di wilayah Bopunjur,  informasi BMKG ini seringkali diabaikan oleh lembaga-lembaga yang seharusnya bertugas mengamati dan mennyelenggarakan upaya kesiap siagaan. Mengapa kita tidak pernah belajar dari berbagai data yang setiap hari hilir mudik dalam media social, mengapa kecanggihan informasi yang disajikan setiap hari tidak menjadi perhatian kita semua dalam menyikapi bencana yang bisa dihitung dan diperkirakan ?

Banjir Jakarta adalah peristiwa yang hampir setiap tahun datang dan pergi, Disasterchannel menuliskannya dan me-list berdasarkan sejarah, sudah hampir ratusan tahun yang lalu Jakarta kerap disambangi oleh banjir, dan selalu tudingan yang sama juga muncul.  Ini banjir kiriman dari Bopunjur. Harusnya di wilayah hulu dulu dibenahi, baru kemudian hilir, selalu argumen petak umpet yang dilakukan.  Tahun 2013, ketika Jokowi memegang tampuk pimpinan DKI Jakarta, banjir juga melanda Jakarta, bahkan banjir pun menggenangi  jalan dekat istana negara.

Sebagian lembaga usaha mengeluhkan kerugian yang dialami, karena akibat banjir tersebut rantai distribusi produk terganggu, bahkan IBL menghitung, Unilever mengalami kerian lebih dari  Rp 1 Milyar per hari, akibat distribusi yang terganggu. Banjir di tahun 2013 ini yang kemudian mendorong DKI Jakarta harus mendialogkan berbagai upaya percepatan pembangunan kanal timur dan barat agar air yang masuk wilayah Jakarta dapat ditampung dalam kanal-kanal tersebut. Bahkan saat penulis menemui Jokowi dalam kapasitas sebagai forum yang peduli akan bencana, dalam pertemuan tersebut secara gamblang, Jokowi merencanakan untuk mengingatkan semua aparatnya agar perbaikan berbagai saluran air menjadi target dan harus dilakukan setiap 6 bulan sekali, pembuatan embung juga menjadi target-targetnya. Bahkan ditargetkan seluruh pekerjaan tersebut harus terlihat progresnya bahkan targetnya adalah  8 tahun kedepan DKI  Jakarta dapat mengurangi wilayah yang tergenang banjir, terutama untuk masyarakat yang ada di sepadan sungai Ciliwung.

Kembali lagi ke persoalan kesiap siagaan, membangun sebuah kesiap siagaan memang membutuhkan waktu yang sangat panjang, karena menjadi bagian dari mengubah budaya masyarakat yang selama ini “dimanja” oleh kekayaan alam. Bukan hanya budaya, membuat bencana menjadi pertimbangan dalam perencanaan pembangunan merupakan langkah strategis yang penting untuk diambil.

Kembali ke soal banjir Jakarta, Jakarta memang kota yang selalu tergenang ketika musim hujan tiba, tetapi sekedar bersilang lidah sudah harus diakhiri, tentu tiap pimpinan DKI Jakarta pada masanya, tidak ada satupun yang menginginkan Jakarta terkena banjir, sehingga strategi pembangunan di atas kertas pasti menunjukkan upaya-upaya untuk mengatasinya. Artinya di atas kertas, perencanaan pasti lengkap, hanya strategi eksekusinya berbeda-beda. Persoalan banjir Jakarta seperti borok yang menahun, harus ada upaya keras dan bersedia untuk tidak popular dalam menangani banjir Jakarta. Pastinya kebijakan yang baik dari pemimpin sebelumnya, tidak perlu diganti, tetapi tetap diteruskan.

Begitu juga dengan HKB, jangan berhenti hanya dengan jumlah peserta, tetapi  justru jumlah tersebut diuji saat bencana itu sendiri terjadi. Mari kita siap siaga menghadapi bencana, karena bencana bisa datang kapan saja, dan dimana saja.

Trinirmalaningrum