Cerita Tentang Sekolah Darurat dan Anak-Anak Tangguh di Desa Namo

Relawan kemanusian Lien Sururoh, relawan kemanusian dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali berbagi tentang program sekolah darurat yang digagasnya di Desa Namo, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pasca gempa menghantam sejumlah wilayah di Sulteng beberapa waktu lalu. Berikut ceritanya.

Desa Namo mengalami kerugian yang cukup parah akibat dari gempa yang terjadi pada 28 September 2018 lalu. Sebanyak 413 KK dan 1608 jiwa mengungsi akibat gempa berkekuatan 7.4 SR, menurut sekretaris desa bapak Anshhor, hampir 97% rumah dan bangunan rusak. Salah satu bangunan yang mengalami kerusakan adalah SD Inpres 3 Bolapapu.

Sekolah ini berdiri pada tahun 1982 dan diopersaikan pula pada tahun yang sama. Sekolah ini masih memiliki akreditasi C, memiliki luas lahan sebesar 1400m2 dengan luas bangunan 283 m2. Kerusakan yang dialami oleh sekolah ini dikatagorikan sebagai rusak sedang, ruang kelas yang ada pada sekolah ini mengalami retak yang cukup parah dan pondasi sekolah mengalami pergeseran setelah gempa terjadi.

Walaupun sekolah ini termasuk kedalam katagori rusak sedang, namun seluruh guru dan murid trauma untuk kembali melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam ruangan yang berbahan dasar batako, karena khawatir akan tertimpa bangunan bila ada gempa susulan.

Menurut keterangan ibu Fajriani guru kelas 6 “sudah ada inisiasi untuk membangun sekolah darurat, namum kami belum punya fasilitas seperti tenda atau terpal untuk tempat belajar mengajar.” Begitu tegasnya saat saya mewawancarai beliau Pada tanggal 14 Oktober 2018.

Tim respon bencana Ranita memutuskan untuk fokus membantu Desa Namo dalam penangulangan tanggap darurat bencana, oleh karenanya pada tanggal 18 Oktober 2018 kami bertolak menuju Desa Namo dengan membawa berbagai macam kebutuhan sekolah darurat dari mulai tenda pleton sampai alat-alat tulis untuk murid-murid SD Inpres 3 Bolapapu.

Keesokan harinya kami melakukan koordinasi dengan pihak sekolah secara langsung, menyambung komunikasi sebelumnya via pesan singkat mengenai inisiasi untuk mendirikan sekolah darurat.

Terhitung sudah tiga minggu sekolah terhenti pasca gempa, bila terus berlarut larut anak-anak sekolah ini akan banyak tertinggal pelajaran. Tak lama berkoordinasi sekaligus bercengkrama, kami berserta kepala sekolah dan guru sepakat untuk mendirikan sekolah darurat dengan tenda pleton mulai hari sabtu 20 Oktober 2018.

Kegiatan sekolah darurat diadakan di bawah tenda pleton, kegiatan ini dilakukan selama 7 hari terhitung dari hari sabtu tanggal 20 oktober 2018 hingga 27 oktober 2018.

Pelaksanaan sekolah darurat tim respon bencana Ranita dilaksanakan selama 2 jam. Sesuai dengan perintah Gubernur Sulteng bahwa dalam pelaksanaan sekolah darurat pasca gempa dianjurkan untuk melakukan kegiatan psikososial dengan durasi satu jam dan dilanjutkan dengan kegiatan belajar mengajar dua jam dengan materi yang lebih ringan dan pembawaan yang menyenangkan.

Kegiatan sekolah darurat dilakukan dengan sejam pertama diisi dengan kegiatan dengan bermain games bersama, bernyanyi bersama dan melakukan kegiatan lainnya yang mengugah semangat siswa.

Dilihat dari Keadaan psikologi siswa di SD tersebut saat mengikuti kegiatan sekolah darurat, hampir 75% sudah riang gembira mengikuti setiap rangkaiannya, hanya ada beberapa yang masih bingung dan trauma dengan keadaan pasca gempa hal ini dapat dilihat dari pola goresan warna, gambar dan tulisan yang mereka buat.

Tatapan mata yang sering terlihat kosong namun seiring dengan pelaksanaan selama seminggu berangsur-angsur trauma dan kebingungan mulai sirna digantikan dengan canda tawa saat kami bermain dan bernyanyi bersama.

Setelah melakukan psikososial pada satu jam pertama, rangkaian sekolah darurat diisi dengan materi sekolah seperti membaca dan menulis untuk kelas 1 sampai 3 sedangkan kelas 4 sampai 6 berhitung dari mulai perkalian hingga bangun ruang serta belajar bahasa Ingris.

Kegiatan sekolah darurat diakhiri dengan memberikan snack kepada seluruh siswa yang datang sebagai apresiasi kedatangan mereka dan merangsang untuk memberikan semangat kepada anak-anak agar tetap hadir mengikuti sekolah darurat.

Kehadiran siswa pada pelaksanaan sekolah darurat setiap harinya rata-rata mengalami penurunan. Jumlah kehadiran siswa pada hari ke 4 mengalami penurunan yang drastis diakibatkan sehari sebelumnya dan pada dini hari terjadi gempa susulan dengan intensitas rendah namun terasa oleh seluruh warga, olehkarena sebagian orangtua murid kembali tidak mengizinkan anaknya untuk sekolah.

Penurunan terus terjadi pada hari ke lima dan enam hal ini terjadi karena menurut keterangan guru SD tersebut, bila tiba waktu hari Jumat dan Sabtu murid-murid sering tidak masuk sekolah karena sering ada acara keluarga dan anak murid diperintahkan untuk membantu orangtuanya.

Sekolah darurat dihentikan oleh Tim respon bencana Ranita karena pada sekolah telah dapat dilaksanakan secara normal oleh guru dan staff sekolah lainnya. Kelas 4-6 melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas masing-masing sementara untuk kelas 1-3 melakukan kegiaatan pembelajaran didalam tenda sekolah darurat.

Walau sekolah darurat sudah berakhir dan mereka telah belajar di kelasnya masing-masing dengan normal, sebagian dari murid SD Inpres 3 Bolapapu sering berkunjung ke pos kami untuk bermain dan bercengkrama bersama.

Beberapa kali setelah pulang sekolah mereka berkunjung mengajak kami bernyanyi, bermain bersama bahkan belajar bersama. Sesekali kami membuat origami bersama sambil bercanda tawa, beberapa kali kami menghafal perkalian bersama dan memberi hadiah kepada yang hafal setelah itu kami bercakap-cakap hingga kami dekat dengan anak anak SD Inpres 3 Bolapapu.

Cerita cerita mulai terucap oleh beberapa anak-anak, ada beberapa cerita yang mengesankan dari mereka, salah satunya adalah cerita Israfil murid kelas 5 SD Inpres 3 Bolapapu dia bercerita kepada kami bahwa ”dulu saya sama teman teman mainnya di lapangan kak, tapi sekarang udah ngk bisa karena lapangannya dijadikan tempat pengungsian, jadi kita main ke sini kak” dengan logat bahasa kulawi dia menyampaikan ceritanya.

Sebelum gempa 28 September silam lapangan itu dijadikan tempat bermain bola, volly dan karet setiap hari setelah mereka pulang sekolah dan sore harinya dipakai untuk bermain volly atau sepak takrau untuk para remaja desa.

Semenjak gempa anak-anak ini tidak punya tempat bermain, beruntung anak-anak desa ini kreatif dan mudah beradaptasi, menjadikan mereka membuat permainan baru dari kayu dan bahan bekas atau bermain di tempat lain yang jauh dari reruntuhan.

Salah satu cerita yang tak kalah menarik terlontar dari Rado murid kelas 6, setelah mengantarkan kami kelapa muda, sambil menikmati air kelapa dia bercerita saat terjadinya gempa. Rado berkata ” Waktu gempa pas maghrib, semuanya goyang kecang sampai susah saya berdiri. Langsung saya dibawa keluar sama keluarga saya, semuanya gelap karena listrik langsung mati. Bangunan semua rubuh, akhirnya kita semua kumpul di lapangan kak. Semua cuma duduk dilapangan sambil menangis, sampai malam larut dan kita semua kelaparan kak.

Akhirnya ibu ibu masak nasi pakai barang yang masih ada, setelah matang kita berbaris dan masing masing hanya dapat satu kepal nasi untuk mengganjal perut kita.” mendengar kisah kisah mereka membuat hati terasa iba dan rasa salut muncul kepada anak-anak ini, dengan segala cobaan yang mereka alami mereka tetap gembira dan tidak banyak mengeluh walau beberapa hari setelah gempa hanya makan mie instan dan nasi.

Anak- anak Desa Namo adalah anak yang tangguh dengan segala keadaan yang ada, mereka bertahan dan tetap gembira tanpa peduli yang terjadi sebelumnya. (Lien)

Sort by:   newest | oldest | most voted
trackback

[…] Sumber : disasterchannel.co […]

wpDiscuz