Langkah Sederhana Penyebaran Pengetahuan Bencana

Bencana bisa terjadi kapan dan di mana saja. Tetapi, kerugian dari bencana bisa diminimalkan jika kita mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan dalam upaya mengantisipasi bencana. Kita sebagai manusia, tentunya memiliki akal dan pikiran yang diberikan Tuhan sebagai suatu potensi. Maka dari itu, kita pun harus bertanggung jawab untuk menjaga agar akal pikiran tetap sehat.

Salah satunya dapat dilakukan dengan menimba pengetahuan, terutama apabila pengetahuan tersebut dapat berguna bagi banyak orang. Termasuk juga di dalamnya pengetahuan terkait dengan kebencanaan. Walaupun kita sudah berdoa kepada Tuhan untuk diselamatkan, tapi apakah keimanan kita cukup kuat untuk ‘meyakinkan’ Tuhan agar menyelamatkan kita? Tuhan memang menginginkan kita agar selalu berdoa karena hal tersebut merupakan suatu kewajiban mutlak manusia untuk mensyukuri apa yang telah diberikan oleh-Nya. Lalu, apakah kewajiban kita hanya berdoa saja? Bukankah kita juga berkewajiban untuk saling tolong menolong?

Sebenarnya sudah banyak masyarakat yang peduli dan berbondong-bondong membantu setelah terjadinya bencana. Namun, sayangnya minim sekali orang yang peduli guna untuk mempersiapkan diri sebelum sebuah bencana terjadi. Menyebarluaskan pengetahuan dan informasi terkait kebencanaan sebetulnya juga merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi  bencana. Upaya ini menjadi penting dalam rangka keselamatan dan membangun kesiapsiagaan sebelum terjadi bencana.

Sebetulnya, banyak anggota masyarakat yang sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan terkait pengurangan risiko bencana (PRB). Namun terkadang, informasi ini hanya berhenti pada tingkat individu semata. Padahal masih banyak anggota masyarakat lain yang membutuhkan pengetahuan tersebut. Untuk mengatasi kesenjangan informasi ini, alangkah baiknya apabila informasi terkait PRB dapat dibagikan setidaknya kepada orang terdekat terlebih dahulu, seperti kepada keluarga, tetangga, dan sahabat. Hal ini dapat dilakukan dengan sangat sederhana, misalnya dengan mengangkat kejadian bencana yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia sebagai bahan obrolan santai. Suasana diskusi informal antar anggota keluarga dan teman ini dapat menjadi pintu masuk untuk menekankan  pentingnya usaha-usaha PRB dalam kehidupan keseharian kita.

Selain menyebarluaskan informasi kepada masyarakat umum, kita juga perlu memberikan perhatian khusus kepada anggota masyarakat penyandang disabilitas. Walaupun mereka merupakan termasuk kelompok rentan yang harus diprioritaskan dalam kejadian bencana, namun sebenarnya mereka juga memiliki kemampuan untuk mengurangi risiko bencana sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Maka dari itu, tugas kita adalah menyediakan informasi terkait PRB dalam berbagai format agar dapat diakses oleh seluruh anggota masyarakat, terutama para penyandang disabilitas. Misalnya, dengan membantu menjelaskan secara verbal informasi terkait PRB kepada teman-teman yang tuna netra, atau bahkan lebih baik lagi dengan menyediakan buku saku dalam format huruf braille. Meskipun kebijakan terkait penanganan, perlindungan, dan partisipasi penyandang disabilitas dalam penanggulangan bencana sudah diatur dalam Peraturan Kepala BNPB Nomor 14 tahun 2014, namun sayangnya saat ini keterlibatan aktif para penyandang disabilitas masih kurang maksimal.

Berdoa tentu sangatlah penting dalam menghadapi bencana. Namun dengan menerapkan serta menyebarluaskan pengetahuan terkait PRB, maka sebenarnya kita juga sedang meningkatkan keimanan untuk ‘meyakinkan’ Tuhan bahwa kita memang sungguh-sungguh ingin diselamatkan. Hanya Tuhan lah yang dapat mengubah dan menetapkan takdir, tapi sebagai makhluk yang memiliki akal dan potensi, maka kita berkewajiban untuk menjaga, menjalankan dan memanfaatkan apa yang telah diberikan.

Penulis  : Ryan Mirza Ibrahim

SUMBER