Selain Berdoa, Apa yang Bisa Dilakukan Untuk Mengantisipasi Bencana?

Beberapa waktu lalu Indonesian Youth On Disaster Risk Reduction (IYDRR), sebuah forum kepemudaan yang fokus pada isu pengurangan risiko bencana (PRB) dan isu-isu lain yang berkaitan dengan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Indonesia, mengajak para pemuda khususnya, dan masyarakat luas umumnya, untuk berkarya dalam kata demi mencerdaskan masyarakat sebagai salah satu bentuk upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Inisiatif gerakan bertajuk #CerdasBencana ini mengangkat tema “Selain Berdoa, Apa yang Bisa Dilakukan Untuk Mengantisipasi Bencana?”.

Dikutip dari blog IYDRR, tema ini berangkat dari rasa keprihatinan salah satu anggota IYDRR terhadap pernyataan pejabat publik, yang dalam suatu forum ilmiah awal 2017 lalu menjawab pertanyaan dengan ambiguitas makna doa. Pertanyaan tersebut seputar pemanfaatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bidang Pariwisata di kawasan Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung sebelumnya telah diatur berdasarkan PP No.26 Tahun 2012. Dan sejak 2015 lalu, resmi menjadi kawasan yang diperuntukkan bagi kegiatan usaha pariwisata, pendukung penyelenggaraan hiburan dan rekreasi, serta pertemuan dan kegiatan terkait lainnya.

Pertanyaan dilontarkan terkait risiko bencana di kawasan Tanjung Lesung yang diresmikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bidang pariwisata, yang berpotensi terhadap kejadian gempabumi, tsunami, dan banjir (Revisi RTRW Kabupaten Pandeglang 2011-2031). Di depan mimbar ilmiah para mahasiswa yang sebagian di antaranya tengah menggali keilmuan Strata Magister Program Studi Manajemen Bencana untuk Keamanan Nasional, pertanyaan tersebut dijawab dengan kalimat “Untuk bencana alam, kita bisa apa? Ya tinggal berdoa saja.”

Beberapa saat lalu, tepatnya Desember 2018, lokus pertanyaan ‘pemancing’ jawaban tersebut diuji dalam bentuk bencana alam gelombang tinggi dan tsunami. Teringat akan jawaban pejabat publik yang telah lama memegang berbagai jabatan kepemimpinan dari masa ke masa tersebut, menjadikan ‘pemantik’ dalam memaknai peran doa menghadapi bencana.

Berdoa yang tidak ditempatkan pada awal mula sebagai bagian dari kesungguhan, malah didahului frasa “kita bisa apa”, dapat mengecilkan makna upaya dari sekian banyak  pihak. Ribuan peneliti, pakar, teknokrat, relawan, masyarakat, bahkan lembaga pemerintahan yang bekerja keras dalam ikhtiar mereduksi risiko bencana. Upaya tersebut benar-benar diuji melalui kejadian longsor dan ambruknya salah satu sisi Gunungapi Anak Krakatau akibat aktivitas vulkanik, dan menimbulkan tsunami yang menjadi akhir usia ratusan manusia. Dua bencana alam, satu waktu, ratusan nyawa, ribuan dampak, disimplifikasi hanya pada satu upaya, ‘tinggal berdoa saja’.

Seruan berkarya tersebut ‘memantik’ rasa penasaran salah satu penasihat komunitas U-INSPIRE (Youth and Young Professionals in Science and Technology for Disaster Risk Reduction), Dr. Udrekh Hanif seporang peneliti BPPT yang kerap dipanggil Pak Udrekh, dengan melakukan survei sederhana. Beliau menggali pendapat para anggota grup WhatsApp U-INSPIRE melalui pertanyaan,”Kapan (biasanya) orang sering berdoa dan hanya berdoa?”.

Beliau memulai dengan kondisi ‘sakit’, ‘menjelang ujian’, dan ‘berumah tangga’, yang kemudian disambut dengan berbagai jawaban dari para anggota. Mulai yang serius seperti ‘ketika terjadi gempa besar’, sampai dengan yang receh seperti ‘ketika dapat undangan pernikahan mantan’. Ragam jawaban ini kemudian disambut kembali oleh Pak Udrekh, yang juga merupakan peneliti geosaintis maritim BPPT, dengan pembahasan di antara ranah psikologis dan filosofis yang cukup berat dan mendalam.

Hasilnya, sebagian besar jawaban tersebut ialah doa dan hanya berdoa dalam spektrum ‘kepepet’, walaupun tersirat sudah ada usaha yang dilakukan. Contohnya, ketika terjadi gempa besar atau berada dalam pesawat yang tiba-tiba berguncang dan terasa seperti kehilangan daya angkat.

Dalam pandangannya, terutama kejadian bencana alam, terdapat perilaku maupun upaya yang lumrah dilakukan banyak orang. Misalnya, ketika melihat langit mendung, petir menyambar, kemudian disikapi dengan membawa payung, mengenakan jas hujan, atau pindah ke tempat yang lebih aman. Artinya, bukan hanya pasrah dan tawakal (baca: berserah diri). Untuk kasus-kasus tertentu, seperti kejadian gempa dan tsunami, cenderung lebih sering ditemui munculnya ungkapan ‘banyak-banyak berdoa’, ‘pasrah’, dan ‘tawakal’.

Dari observasi ringan tersebut, beliau mengaitkannya dengan sepenggal kalimat dalam pembukaan UUD 1945, “…berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”, yang memang ‘Indonesia banget’. Sebab baginya, di samping usaha yang diakhiri dengan ber-tawakal, memang merupakan naluri bangsa ini untuk menempatkan elemen ketuhanan sebagai bagian dalam kehidupan, dan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan kuasa-Nya.

Apakah berdoa merupakan bagian dari upaya antisipasi?

Sudut pandang Pak Udrekh kemudian memberi celah pertanyaan yang dilontarkan oleh Jamjam Muzaki, anggota U-INSPIRE sekaligus bagian dari Sekretariat Nasional (SEKNAS) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), mengenai ‘apakah berdoa ditujukan untuk mengantisipasi bencana?’.

Pertanyaan ini kemudian membawa gagasan Tinitis Rinowati, anggota komunitas U-INSPIRE dan IYDRR (Indonesian Youth on Disaster Risk Reduction), mencuat ke permukaan. Dalam pengetahuannya mengenai early warning system alam ketika akan terjadi peristiwa/ fenomena alam yang berdampak besar, salah satunya dapat diamati melalui perubahan perilaku hewan. Jika memang beberapa –kalau bukan semua- hewan secara naluriah dapat menghindari kejadian alam yang berdampak ekstrim, bukankah manusia juga (seharusnya) bisa?

Menurutnya, dengan berdoa yang baik dan benar seperti meningkatkan keterlibatan alam bawah sadar, atau semacam meditasi yang memusatkan kekuatan batin atau hal lain di luar hal lahiriah, seharusnya naluri alamiah seperti hewan-hewan (insting) tadi menjadi hal yang tidak mustahil untuk pula dimiliki manusia. Maksudnya, berdoa memiliki berkorelasi positif terhadap tingkat kepekaan manusia yang telah berdoa tersebut untuk dapat mengenali tanda atau gejala tertentu dari kejadian alam (termasuk bencana).

Terlebih manusia Indonesia, -meminjam istilah Bapak Udrekh tadi- menempatkan faktor ketuhanan sebagai bagian dari naluri bangsa ini. Namun demikian, muncul pula pendapat bahwa berdoa malah menempatkan manusia pada perasaan false sense of security atau merasa seolah-olah aman setelah merapal doa. Yang akhirnya, menyebabkan manusia berada pada kondisi yang pasif hingga abai terhadap ikhtiar-ikhtiar yang perlu dilakukan.

Jamjam kemudian menguraikan keyakinannya, bahwa berdoa benar-benartermasuk salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi bencana. Menurut perspektifnya, doa betul-betul bisa menyelamatkan. Namun, doa tidak berdiri tunggal dan seharusnya bukan merupakan sesuatu yang bertentangan dengan perilaku. Doa adalah komplementer dan bersifat mendasar.

Mengacu pada beberapa literatur dalam agama Islam, dapat dijumpai doa tolak bala untuk keselamatan selama perjalanan, doa sapujagat untuk keselamatan dunia akhirat, mendoakan orang lain agar selamat, sehat dan bahagia, dan seterusnya. Seluruh perilaku dan kegiatan umat Islam menurutnya, terdapat doa spesifik yang dilafalkan. Ia kemudian menguatkannya dengan istilah yang disampaikan dalam hadis, mengenai doa yang diibaratkan sebagai senjata dari orang beriman. Lebih dalam lagi, Tuhan menyampaikan melalui kitab suci, “Berdoalah kepada-Ku, maka (pasti) akan Aku kabulkan untukmu.”

Konteks ini bermakna, bahwa ketika manusia telah berdoa untuk keselamatan selama perjalanan, makan pendoa tersebut akan selamat. Meskipun dalam pelaksanaannya, keselamatan atau keadaan selamat tidak dapat diraih hanya dengan berdoa, sebab dalam beragama pun terdapat tata cara, prosedur, dan aturan. Contohnya, dalam agama Islam mengenal fiqih yang mengantarkan pemahaman kesatuan antara upaya lahir dan batin. Kemudian, Jamjam kembali mengutip firman Tuhan dalam kitab suci Al-Quran, “Kamu akan memperoleh (kondisi yg kamu alami/ nasib) apa yang kamu usahakan (lahir batin – sepaket, tidak lahir saja atau tidak batin saja-). Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri mengubah keadaan yang akan menimpa dirinya.”

Menurut beliau, makna berdoa terletak pada dimensi kesadaran yang mengantarkan usaha-usaha yang sifatnya fisik (lahiriah) menjadi keniscayaan merupakan perwujudan dari doa, bukan sesuatu yang paradoks atau seolah-olah bertentangan. Lebih lanjut, secara praktis beliau mengibaratkan perspektif tersebut ke dalam wujud akibat ketika telah berdoa –yang pasti akan dikabulkan Tuhan-, Tuhan akan menggerakkan diri kita agar berupaya sesuai dengan tujuan dari doa kita. Ia kemudian menguatkan, “Jika kita berdoa untuk selamat, maka kita akan digerakan untuk berperilaku yang menunjang keselamatan kita. Doa untuk dapat bergiat #siapuntukselamat, semestinya karena telah berdoa untuk keselamatan diri, sejatinya menyuruh diri kita untuk mempraktikkan prosedur keselamatan.”

Bahwa doa merupakan aspirasi dari kesadaran akan kehambaan kita di hadapan Tuhan, dan sebagai hamba yang telah didaulat jadi khalifah (baca: utusan/ pemimpin) di muka bumi ini, semestinya (kita) menyadari bahwa keselamatan diri dan bumi ada di tangan kita. Selanjutnya, ketika kita berdoa untuk keselamatan diri dan bumi, niscaya kita akan menjaga diri dan bumi kita dari kehancuran, dari bencana.

Lebih jauh berdasarkan pemahaman agamanya, agar selamat di akhirat, sesungguhnya manusia diperintahkan untuk mengurusi nasib selama di dunia. Kemudian, bagaimana caranya agar terhindar dari api neraka sekaligus api di dunia? Terhindar dari bencana?

Firman Allah SWT, “fasaluu ahladzikra inkuntum laa ta’lamuun.” Tanyalah kepada ahli dzikir, ahli mengingat, mengingat kehambaan kita, mengingat peran kita sebagai manusia. Termasuk mengingat banyak hal, seperti peneliti, jadi tanyalah peneliti. Atau, orang yang kerap berkontemplasi, penemu, bertanyalah (kepadanya). Bertanya berapa banyak sekolah yang berada di atas sesar aktif, bertanya bagaimana agar sekolah itu aman, bertanyalah agar keluarga kita aman, dan seterusnya. Jawaban tersebut bahkan sudah ada, asalkan diiringi dengan usaha terus mencari, terus bertanya, terus melakukan upaya, selain doa.

Selanjutnya Wahyu Setyawan Minarto, anggota U-INSPIRE dan juga tim Safekids Indonesia, menanggapi konteks kesatuan doa dan upaya tersebut dari sudut pandang safety procedure. Ketika kecelakaan dianggap takdir dan nasib, sebenarnya bertolak belakang dengan prinsip safety itu sendiri, yakni all accident can be prevented.

Istilah ‘centil’ nan ‘nakal’ dalam membawa tema ini, sesungguhnya bertujuan untuk ‘mengusik’ atau lebih jauh menggerakkan (khususnya) generasi ‘milennial’ dan warganet kekinian. Bahwa, IYDRR berupaya menggelitik kesadaran dan mengantarkan santapan awal pagi yang ringan bagi para pemuda, untuk terlibat dalam upaya PRB, sekecil apapun peran tersebut terlihat.

Meliza Rafdiana, salah satu penggagas U-INSPIRE yang juga berperan di balik layar Predikt!, kemudian menanggapi dengan harapannya akan inisiatif #CerdasBencana, untuk dapat memberikan kontribusi untuk bahan pendidikan publik, termasuk komunitas. Tujuannya, tentunya membantu mengubah paradigma masyarakat, sebab soal berdoa, begitu lekat dengan kebiasaan sehari-hari.

Penulis: Tinitis Rinowati/IYDRR.