Antara Palu, Donggala dan Kulawi

Lien Sururoh, seorang relawan kemanusian dari Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Battutah (KMPLHK RANITA) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta turut membantu korban gempa di Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu berbagi catatan pengalaman untuk pembaca Disaster Channel.  Berikut ini catatanya :

Gempa bumi  dengan kekuatan bermagnitudo 7.4 (sebelumnya 7.7) terjadi pada Jumat tanggal 28 September 2018 terjadi di Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa bumi yang  terjadi menimbulkan  tsunami yang melanda beberapa wilayah diantaranya adalah sepanjang pantai kota Palu dan di pantai Donggala bagian barat.

Mengutip laporan situasi yang dirilis BNPB update 5 februari 2019 menyebutkan bahwa gempa dan tsunami Sulawesi Tengah menimbulkan dampak kerugian sebesar Rp. 2,89 triliun rupiah dan dampak kerusakan sebesar 15,58 triliun rupiah.  Gempa dan tsunami tersebut juga mengakibatkan 4.340 warga hilang dan meninggal, 172.635 warga mengungsi serta 4.438 jiwa mengalami luka-luka.

Berangkat dari organisasi yang terlibat aktif dalam penanggulangan becana baik dalam fase emergency respon ataupun tindakan pengurangan risiko bencana.  Kami didelegasikan oleh KMPLHK Ranita Uin Jakarta untuk merespon bencana yang terjadi. ke empat relawan yang ditugaskan iyalah: Lien Sururoh RAN.14.299, Abdurrahman Heriza RAN.14.298, Iqbal Ramadhan RAN.15.302 dan Risma Triyurita RAN.15.314

Relawan Ranita pertama kali menginjakkan kaki di Kota Palu tepatnya di bandara Mutiara Sis Al-Jufri setelah sebelumnya berangkat dari bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Sultan Hasanudin Makassar kemudian menumpangi pesawat Hercules yang mendarat di Palu tepatnya pada tanggal 5 Oktober 2018.

Pemandangan tidak biasa mulai terlihat di sekitar bandara yang beberapa atap dan temboknya hancur, tumpukkan logitik hasil angkutan pesawat Hercules menumpuk di sudut pintu masuk bandara, lalu lalang TNI memindahkan dan menyusun logistik serta relawan yang hilir mudik berdatangan menunggu jemputan cukup menggambarkan keadaan tanggap darurat akibat gempa yang terjadi.

Silae, merupakan daerah pertama yang dibantu dalam penanggungalan bencana yang relawan Ranita lakukan. Kelurahan Silae adalah salah satu kelurahan yang sangat dekat dengan pantai yang berada di teluk Palu.

Merupakan daerah yang rawan terhadap tsunami dan gempa, terlihat dari peta ancaman bencana yang terdapat di kantor kelurahan. Namun sayangnya banyak orang mengatakan bahwa mereka sudah terbiasa dengan goncangan yang dirasakan bahkan mereka mengemukakan bahwa “bukan Palu bila tidak goyang” tapi mereka belum pernah mengalami bencana yang berdampak besar seperti ini.

Begitu pula dengan Tsunami, orang-orang tua bercerita mereka sering mengalami terjangan ombak besar yang mungkin mereka tidak mengetahui bahwa itu tsunami. Terdapat pula legenda mengenai “laut berdiri” yang merupakan gambaran kejadian tsunami.

Di kelurahan ini banyak bangunan yang hancur akibat tsunami menerjang teluk Palu dan beberapa pantai di daerah donggala. Meskipun daerah kota Palu merupakan teluk yang kebanyakan orang menganggap bahwa daerah teluk tidak akan terjadi tsunami, namun pada kenyataannya daerah ini diterjang tsunami pada tanggal 28 September lalu.

Relawan Ranita selanjutnya melangkahkan kakinya menuju kec. Sirenja yang terletak pada bagian pantai barat kab. Donggala. Sebelumnya tim relawan telah mencari dan mendapatkan data bahwa daerah ini kekurangan bantuan olehkarenanya kami bertolak kesana pada tanggal 9 Oktober 2018.

Daerah pantai Barat Donggala memiliki keindahan pantai yang memikat hati dengan desiran ombak menyampu pasir putih terlihat di sebelah kiri sepanjang perjalanan menuju kec. Sirenja sedangkan pada sebelah kanan beberapa kali kami melewati longsor tebing akibat gempa.

Beberapa daerah sepanjang pantai barat di kec. Sirenja diantaranya Desa Tompe, Valentuma, Lende Tovea, Lompio, Tanjung Padang dan hanya desa Sipi salah satu daerah yang letaknya bukan di tepi pantai yang kami kunjungi untuk mendistribusikan bantuan.

Merasakan pesona senja di desa-desa ini begitu berbeda, disana kami bisa menyaksikan indahnya matahari tenggelam di pantai barat Donggala dengan ombak yang tenang sekaligus menyaksikan beberapa kehancuran akibat dahsyatnya hantaman tsunami.

Perpindahan garis pantai terlihat jelas setelah gempa dan tsunami terjadi. Terlihat dari letak bangunan yang hancur menurut keterangan warga berada sekitar dua sampai empat meter dari bibir pantai sekarang tepat berada di tepi pantai terlebih lagi bila bulan purnama dan air pasang terjadi maka bangunan tersebut tergenang air laut.

Seluruh kec. Sirenja dengan pesona pemandangan matahari tenggelam yang indah seketika sirna digantikan dengan malam gelap gulita, semua pengungsi hanya mengandalkan senter beruntung bila memiliki genset.

Perjalanan selanjutnya membawa kami terjerumus dalam petualangan baru menuju kec. Kulawi. Kulawi merupakan salah satu kecamatan yang ada di kab. Sigi merupakan salah satu daerah yang dilalui oleh sesar Palu-Koro. Wilayahnya yang terletak diantara perbukitan membentuk pola pesebaran pemukiman dikecamatan Kulawi menjadi tersebar tidak merata.

Warga masyarakat biasanya membangun pemukiman yang polanya tersebar di wilayah lembahan-lembahan gunung yang cukup datar dan dekat dengan aliran sungai yang sekaligus menjadi sumber air bagi kehidupan masyarakatnya. Selain itu, wilayahnya yang berbukit-bukit menjadikan pekerjaan utama masyarakat kulawi adalah bertani.

Masyarakat biasanya membuka lahan-lahan pertanian diatas bukit maupun dilereng-lereng curam dengan tingkat kemiringan 40-60 derajat. Jenis tanaman yang menjadi komoditas diwilayah kulawi adalah padi, kopi, kakao, dan cabe rawit.

Daerah kulawi merupakan salah satu kecamatan yang mengalami dampak gempa paling parah, banyak sekali rumah yang hancur penanggulangan bencana dan pendistribusian logistik menuju daerah ini sangat sulit karena akses menuju daerah ini terputus akibat longsornya tebing tebing yang berada diantara desa Salua dan Namo masyarakat sering menyebutnya dengan daerah ”gunung potong”.

Kami baru bisa melintasi akses gunung potong pada 13 oktober 2018, dalam perjalanan ini  kami menghabiskan waktu 4 jam, yang seharusnya ditempuh dengan waktu 2 jam dari kota Palu untuk menuju ibu kota Kulawi yaitu desa Bolapapu.

Perjalanan melalui sekitar 20 titik longsor didaerah gunung potong dengan kondisi jalan yang licin akibat hujan. Pada hari sebelumnya daerah longsor ini menelan korban jiwa, ditandai dengan ranting yang di balut dua kain putih disebuah gundukan tanah longsor di salah satu bekas longsor yang kami lalui.

Keputusan tim respon bencana ranita untuk fokus membantu desa Namo dalam penangulangan tanggap darurat bencana.  Desa Namo merupakan sebuah desa yang terletak di kecamatan Kulawi Kab. Sigi terletak lebih kurang 70 km kearah selatan dari kota Palu, dengan rata-rata ketinggian lokasi desa berkisar diantara ketinggian 400-700 meter diatas permukaan laut.

Daerah Kulawi termasuk desa Namo merupakan daerah yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat. Suku yang berada di daerah ini merupakan suku Kulawi, bahasa yang digunakan di daerah ini adalah bahasa Kulawi, bahasa ini hampir mirip dengan bahasa Kaili.

Kebanyakan warga yang berasal dari daerah ini sudah sering merasakan gempa, bisa dikatakan bahwa mereka sudah terbiasa dengan goncangan gempa yang terjadi. Mereka memiliki rumah adat yang terbuat dari material kayu dengan atap rumbia “daun sagu kering yang dianyam”. Dahulu rumah di daerah ini dibangun dari material kayu seperti rumah adat yang ada di daerah ini, namun karena modernisasi dan bahan baku kayu yang lebih mahal maka masyarakat memilih untuk membangun rumah dari batako.

Terjadi pula gempa pada tahun 2012 dengan kerugian yang cukup parah tetapi tidak ada korban jiwa, banyak rumah-rumah yang hancur namun sangat disayangkan warga tetap membangun ulang rumahnya dengan batako hal ini menandakan bahwa Warga belum beradaptasi mitigasi bencana gempa.

Beberapa tindakan yang kami lakukan dalam respon tanggap darurat diantaranya evakuasi dilakukan di beberapa daerah yaitu Perumnas Balaroa menemukan 8 jenazah, evaluasi di Jl. Komodo menemukaan 1 janazah. Pendistribusian logistik dilakukan di beberapa daerah diantaranya, di wilayah BTN Silae kemudian di Kec. Sirenja tepatnya di desa Desa Tompe, Valentuma, Lende Tovea, Lompio, Tanjung Padang dan Sipi.

Pendistribusian logistik dilanjutkan di Kab. Sigi yaitu Desa Bora, Biromaru, dan Kawatuna dan terakhir melakukan penditribusian logistik di kecamatan Kulawi tepatnya di desa Boladangko dan Desa Namo. Mendirikan dan melaksanakan Sekolah Darurat selama satu minggu di SDN Bolapapu 3 desa Namo, sekolah darurat dilaksanakan dengan kerjasama antara relawan, guru dan kepala sekolah.

Pelaksanaan sekolah darurat diisi dengan psikososial, hal ini dilakukan untuk menarik minat siswa yang trauma berada di bangunan yang berbahan dasar batako terlebih lagi bangunan sekolah ini sudah retak retak akibat gempa, setelah tindakan psikososial kemudian dilanjutkan dengan materi pembelajaran.

Membuat sarana Sanitasi berupa 6 unit toilet masing-masing tiga unit di  dusun satu  dan dusun tiga desa Namo. karena banyak rumah warga yang hancur begitu pula pada toiletnya, maka untuk memenuhi kebutuhan sanitasi para penyintas karena sebelumnya mereka harus jauh pergi ke sungai hanya untuk buang air.

Membuat Power Plant Panel Surya untuk membantu warga dusun Sapoo desa Namo yang kesulitan memperoleh BBM sebagai bahan bakar genset untuk penerangan akibat akses terputus dengan longsoran yang ada di gunung potong. Merenovasi masjid untuk melancarkan ibadah yang dijalankan warga desa Namo.

Melihat besarnya kerugian yang ditimbulkan akibat gempa, penderitaan dan perjuangan para penyintas dalam bertahan hidup saat tanggap darurat membuka mata kami bahwasannya kerugian yang sudah  dialami dapat kita reduksi dengan melakukan beberapa upaya-upaya mitigasi. Perlunya mitigasi bencana dalam melaksanakan pembangunan, terlebih lagi untuk memilih tempat tinggal bahkan pusat kota bagi pemerintah terkait.

Seperti yang terjadi di Palu dan sekitarnya, sebelumnya sudah dilakukan ekspedisi mengenai sesar Palu-Koro yang menguak potensi-potensi bencana di wilayah sesar Palu-Koro. Namun sangat disayangkan karena kurangnya literasi bencana, potensi-potensi bencana yang sudah terkuak tidak dijadikan sebagai landasan dalam pembangunan hal ini yang menyebabkan banyaknya kerugian ketika bencana terjadi.

Kenali bahaya yang ada disekitar kita untuk mengurangi risiko yang akan ditimbulkan perlu dijadikan pedoman oleh kita dalam menjalankan hidup di daerah rawan bencana seperti Indonesia. (Lien)