Tanah, Gunung, Iklim, Vegetasi Asli Tidak Bisa Dipisahkan

Oleh : Dr. Ir. Amien Widodo, M.S*

Banjir bandang hampir selalu menimbulkan korban dengan jumlah yang banyak, kerusakan yamg massif dan kerugian ekonomi sangat besar. Kenapa? sebab banjir ini tidak hanya banjir air tapi juga diikuti lumpur, batu batu, batang batang pohon dll. Material yang ikut hanyut ini bisa membunuh dan menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Seperti yang baru saja terjadi di Sentani Jayapura dengan korban meninggal 73 orang.

Kenapa bisa terjadi ? Tanah adalah material alam yg lepas atau belum terpadatkan, yang  terbentuk karena pelapukan batuan yang masih menempel diatas batuan induknya. Pembentukan tanah ini akan banyak di jumpai di daerah puncak sampai lereng bukit atau gunung dikenal dengan “tanah lereng”. Tanah tersebut terbentuk merupakan fungsi dari batuan induknya, iklim, topografi, pohon dan waktu.

Awal mulanya sebagian besar gunung dibentuk oleh batuan kemudian karena iklim dan pohon. Awalnya pohon berukuran kecil dan terus berusaha mencari nutrisi mineral tanah lewat akar. Ujung ujung akar mengeluarkan enzim untuk melapukkan batuan. Seiring dengan berjalannya waktu pohon bertambah besar, akarnya tambah panjang dan tanahpun tambah tebal. Hutan menjadi lebat menutupi seluruh gunung.

Tanah hasil pelapukan yg tebal bisa stabil dan bertahan di lereng yg tajam karena dipegang oleh akar serabut hutan dan sedangkan akar tunjang berfungsi sebagai angker (paku) ke lapisan tanah di bawahnya.

Banyaknnya hutan asli di pegunungan  berfungsi sebagai tata iklim, tata air dan tata angin. Energi air hujan yang jatuh ke bumi ditahan kanopi hutan dan jatuh ke bawah masuk lewat serasah  yang akhirnya meresap ke dalam tanah. Hutan di gunung mampu meresapkan “air hujan semusim” kedalam tanah  sebesar  > 80%, dan sebagian kecil air hujan dialirkan sebagai air permukaan.

Ini berarti hujan semusim lebih dari 80 persen diresapkan kedalam tanah dan dikeluarkan secara proporsional di sekeliling gunung sebagai *mata air* (sumber air) yang akan menyuplai dan menambah debit air sungai di sekeliling gunung sehingga sungai bisa berair selama setahun.

Manusia bertambah banyak dan mulai merambah kawasan yang mestinya tidak boleh dihuni. Penggantian hutan asli di pegunungan dari hutan menjadi kawasan wisata penuh dengan hotel, villa2,  permukiman, persawahan, perkebunan dll. menyebabkan tanah gunung tidak terlindungi dan tidak stabil.

Tanah gunung semakin tidak stabil dan siap longsor. Awalnya akan muncul retakan-retakan tanah di puncak sampai lereng dan air hujan yang turun >80% akan mengalir, sebagian  yang lain akan meresap lewat retakan.  Retakan retakan semakin melebar dan mulai menurun. Masyarakat mengenal sebagai tanah bergerak. Banyaknya retakan akan dimasuki air hujan sehingga tanah lereng tambah berat dan mulai turun yg ditunjukkan bagian bawah lereng menggelembung. Bila hujan terus menerus, tanah lereng akan longsor seperti cairan dan bila masuk sungai akan mengalir sebagai banjir bandang yang akan menerjang dan membawa apa saja yang dilewatinya.

Tanah bergerak, ambles karena akan longsor. Foto :Amien Widodo.

Bagaimana mencegahnya atau mengurangi risiko banjir bandang? Satu satunya jalan menghutankan kawasan pegunungan. Penghutanan kembali dengan reboisasi jelas tidak efektif karena butuh waktu lama untuk tumbuh, untuk itu bersamaan dengan reboisasi dibarengi dengan rekayasa vegetasi yaitu dengan penanaman batang pohon yang masih hidup dengan aturan sekitar 2/3 masuk ke dalam tanah, 1/3 muncul di permukaan atau ditaruh seperti di gambar. Harapannya dari batang yang tertanam tumbuh akar serabut yang akan meningikat dan memperkuat tanah.

Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk memgembalikan fungsi kawasan puncak gunung mengingat kawasan tersebut sudah beralih fungsi secara masive, sistemik, dan terstruktur. Saat ini kawasan itu dimiliki pejabat pejabat dan pengembang kakap. Pemerintah harus tegas untuk mengembalikan fungsi kawasan tersebut sebagai kawasan hutan lindung dan kawasan resapan.  ·

*Penulis adalah Dosen dan Ketua Laboratorium Geofisika Teknik Lingkungan – Institut Teknologi Surabaya.