Memahami Pesan Para Leluhur

Apa sih yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan dan tujuan? Jawabannya hanya satu, DUIT. Doa Usaha Ikhtiar Tawakal. Doa sebagai pengharapan aau permintaan kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang dibarengi dengan usaha atas apa yang kita inginkan, ikhtiar dengan berbagai cara. Setelahnya kita akan Tawakal atas apa yang kita dapatkan.

Dalam mengantisipasi bencana, tentu kita berda agar senantiasa diberikan keselamatan dari segala bentuk ancaman. Lalu selain berdoa apa yang kita lakukan? Toh bukannya doa adalah sesuatu yang mujarab dalam menjalani hidup ini? Allah saja bilang. “Mintalah kepadaKu maka akan Kukabulkan.”

Tidak semudah itu perguso~

Allah atau Tuhan-Tuhan lain yang diyakini oleh manusia tentu tidak akan mengabulkan semua doa kita jika tidak baik untuk kita. Dia tau yang terbaik untuk kita sehingga doa tidak semua atau lama untuk dikabulkan.

Jadi kalo misalnya ada bencana lalu kita berdoa tapi Tuhan tau doa kita tidak baik untuk kita, trus tidak dikabulkan dan kita mati dalam bencana itu bagaimana? Maka yang baik untuk kita adalah kembali kepada-Nya. Bercanda ahaha.

Hanya Dia yang tau bila itu terjadi. Ingat setelah berdoa ada Usaha dan Ikhtiar. Salah satu usaha yang bisa kita lakukan salah satunya adalah memahami pesan yang telah diberikan oleh para leluhur kita.

Belajar dari peristiwa G 28 S Palu, di mana terjadi terror yang tidak hanya mengguncang Palu, Sulawesi Tengah tetapi juga Indonesia dan dunia. Banyak orang yang saling menyalahkan, menyalahkan kebudayaan dan perilaku yang lupa akan ketuhanan.

Bumi yang kita cintai ini telah berumur jutaan tahun, telah banyak generasi yang menempatinya. Generasi-generasi itu sudah bisa membaca proses alam yang terjadi. Sebagai contoh adalah suku Kaili di Sulawesi Tengah. Konon Kota Palu sekarang adalah laut yang terangkat sehingga menjadi daratan. Bagi Suku Kaili, ada himbauan untuk tidak lama-lama berada di Palu, “Sudah kalo ke Palu 7 hari saja!”

Banyak legenda yang dikisah oleh Suku Kaili, salah satunya adalah kisah anjing dan ular naga. si ular naga marah karena si anjir mengigit ular naga, dan si anjing ditarik sepanjang Sesar Palu-Koro berada sekarang.

Bukan hanya legenda, Suku Kaili juga memiliki konsepsi kehidupan yang tangguh bencana, seperti yang disampaikan oleh Mohammad Marzuki, staf pengajar prodi antropologi Universitas Tadulako. Suku Kaili, memiliki kata-kata terkait bencana, seperti Topalu’e yang berarti tanah yang bergerak, Bombatalu adalah pukulan tiga gelombang laut yang menghancurkan, Linu yang berarti gempa atau getaran keras yang menghentak serta Nadolo yang berarti tanah yang menghisap atau tanah lumpur yag mengubur/terkubur di bawah tanah yang hancur.

Sistem zonasi dalam ruang kehidupan juga memperlihatkan bagaimana Suku Kaili siap menghadapi bencana. Dimana tempat tinggal, ruang produksi, ruang sosial dan ruang ritual berada di tempat terpisah dan itu tidak bisa dilanggar. Konsep lumbung makanan juga telah dikenal Suku Kaili, yaitu Gampiri. Suku Kaili telah mengembangkan managemen krisis sistem penyimpanan hasil produksi. Ada dua bentuk gambiri, yaitu gambiri kampung (Boya) dan gambiri keluarga yang letaknya bisa dibangun di lokasi Talua atau di belakang rumah tinggal.

Siklus bencana yang bercenderungan terulang telah didokumentasikan dengan penamaan daerah rawan bencana.  Kata Kaili sendiri diambil dari nama pohon yang sangat besar dan tinggi yang dapat terlihat dari pantai. Ada Beka yang berarti tempat yang terbelah, Balaroa yang berarti bencana yang melanda banyak  orang. Bangga berarti terendam, Duyu berarti longsor dan Talise diambil dari nama pohon yang banyak tumbuh di bibir pantai.

Menurut cerita, daerah yang terjadi bencana pada 28 September 2018 di Palu sudah ditinggalkan oleh Suku Kaili karena  daerah tersebut memang rawan bencana.

Kenapa tanah yang ditinggalkan kembali ditempati? Mungkin orang sekarang tidak mengetahui daerah tersebut rawan bencana juga terlalu abai akan pesan yang telah disampaikan.

Sudah saatnya kita, selain berdoa kita bisa menghormati dan mempertimbangkan kearifan lokal. Kita tidak bisa menghindari bencana tapi kita bisa hidup harmonis dengan bencana.  (Ono)