Sungai Cheonggyechon, terbersih di Seoul Korea Selatan

Seoul, Februari 2018. Sungai ini dulunya  tak ubahnya  dengan sungai Ciliwung, jorok, kotor, dan di bantarannya bertumpuk rumah-rumah yang  sampah-sampah rumah tangganya, dialirkan melalui sungai ini.  Di atas sungai ini dibangun jalan bebas hambatan, sehingga lengkap sudah kondisi lingkungan di bawah sungai tersebut, di musim dingin tempat tersebut beku di keliling salju, sementara saat musim  semi, kotoran dan sampah-sampah bertebaran dimana-mana. Masyarakat juga menggunakan sungai sebagai MCK, tidak berbeda dengan sungai Ciliwung di Jakarta.

Menurut laman Pemerintah Kota Seoul, setelah Perang Korea (1950 – 1953), Cheonggyecheon menjadi lokasi pemukiman kaum pendatang yang ingin mengadu nasib di ibu kota. Pada dekade 1970-an, Cheonggyecheon berubah fungsi menjadi salah satu simbol “modernisasi” Korsel. Di tepi sungai berdiri ratusan tiang pancang dan beton untuk pembangunan jalan layang.

Bantaran sungai Chenggyochong dulu kala – 1970 an (Sumber: Laman Pemerintah Seoul)

Pada 2003, Wali Kota (saat itu) Lee Myung-bak melakukan perubahan revolusioner. Lee yang pecinta lingkungan menginginkan agar Sungai Cheonggyecheon bisa kembali pada status awal, yaitu sebagai sungai kecil yang mengalir di jantung ibu kota. Keputusan yang boleh dibilang kontroversi dan nekad, karena jalan layang yang menutupi sungai tersebut di bongkar. Rumah-rumah kumuh yang ada di bantaran sungai kemudian di revitalisasi menempati rumah susun yang telah disediakan oleh pemerintah.

Jalan layang di singkirkan, juga tiang-tiang pancang yang ada di atas sungai tersebut di bongkar. Alhasil sungai saat ini menjadi bersih, dan menjadi tempat warga Seoul ber sosialisasi, bahkan menjadi tempat para turis menikmati berbagai festival yang diadakan hampir setiap malam ketika musim semi tiba.

Sayang ketika saya mengunjungi sungai yang kini menjadi bersih tersebut saat musim dingin, di bulan Februari, tetapi punggirang sungai di buat selasar, dimana masyarakat bisa menikmati lampu-lampu yang sengaja di pasang di sepanjang sungai, serta beberapa tenpat duduk sengaja di sediakan bagi mereka yang akan berjalan di sepanjang sungai.

Sungai Chenggyechong saat ini (sumber Laman Pemerintah Seoul)

Pada malam hari tepat di sepanjang sungai seperti di sulap, lampu-lampu, lampion serta hiasan paying berwarna yang sengaja di pasang di atasnya, menjadikan sungai yang dulunya kotor menjadi sangat cantik.

Upaya Lee Myung Bak, membersihkan sungai Cheonggyechon ini kemudian menaikkan pamornya, dan Lee kemudian menjadi Presdien Korea pada masa 2003 – 2013.

Kemudian, bagaimana dengan nasib Ciliwung, yang sudah sejak jaman Belanda, habis-habis di eksploitasi, air tidak ada tempat untuk memberikan kesuburan bagi tanah yang dilewatinya, karena rumah-rumah memadati tanah tempat seharusnya air memberi kehidupan.

Ibu Kota adalah wajah kita semua, wajah warga masyarakat Indonesia, bukan sekedar wajah warga Jakarta. Untuk itu dibutuhkan Guernur yang berani bertindak, mengambil keputusan penting untuk kesejahteraan seluruh masyarakat yang berada dan bertempat tinggal di Jakarta. Langkah berani Lee mungkin perlu ditiru oleh Gubernur dimana saja, termasuk Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Pasti senang warganya, diberi tempat untuk bersosialisasi, walau di bantaran sungai sekalipun. (RN)