Pemuda Merespon Bencana

Sejak erupsi freatik pertama pada Sabtu (25/11) meningkat ke fase fragmatik yang menyebabkan status gunung Agung meningkat menjadi Awas terhitung mulai dari hari Senin (27/11). Akibat dari penetapan status ini, warga yang memiliki kediaman radius 8 Km dan 10 Km  pada sektoral barat daya, selatan, tenggara, timur laut dan utara dari puncak Gunung Agung, harus diungsikan di pos pengungsian yang tersedia. Ledakan pengungsian yang mencapai 63.885 jiwa, tersebar pada sembilan kabupaten di 255 titik pengungsian. (BNPB)

Siklon tropis Cempaka Senin (27/11), disusul siklon tropis Dahlia pada Kamis (30/11) yang berada di selatan Jawa, memberikan dampak berupa hujan dengan intensitas tinggi, angin kencang, dan gelombang tinggi di wilayah Jawa tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Akibatnya, Banjir dan Longsor melanda Pacitan dan Wonogiri. Dengan sebanyak 35 desa di Kabupaten Pacitan terdampak banjir.

Seluruh rentetan kejadian ini menggerakkan pemuda yang tergabung dalam unit kegiatan mahasiswa KMPLHK RANITA (Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibu Batutta) UIN Jakarta, mengerahkan timnya untuk merespon bencana pada tiga tempat yang berbeda yakni, Tika Nurlita dan Mujahidin bertugas merespon Bencana erupsi Gunung Agung di Bali; Umu Ruqyah dan Deny Setiawan bertugas untuk merespon bencana longsor dan banjir di Pacitan; serta Lana Faiza dan Mustazky Ishom bertugas merespon becana banjir dan longsor di Yogya pada awalnya, kemudian tim menyimpulkan untuk bergeser ke Wonogiri karena kondisi di Yogya sudah kondusif.

Wildan, Ketua Umum UKM KMPLHK RANITA mengatakan, “Sejak Sabtu pada minggu lalu, kami mengirimkan tim respon ke tiga wilayah yang berbeda dalam waktu yang sama, ditempatkan di lokasi terdampak untuk membantu memenuhi kebutuhan di sana”. Relawan pun dibekali dengan kemampuan dasar disaster management yang diperoleh dari pendidikan di RANITA.

Tim respon Pacitan membuka askes menuju daerah terisolir bersama dengan aparat setempat, daerah tersebut adalah Desa Penggung Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Setelah itu, melakukan Assessment atau pencarian data pada daerah terdampak di desa Penggung, tim respon Pacitan menyatakan bahwa, “Saya keliling tempat pengungsian warga bareng kepala desa, di sini cuma ada relawan lain selain dari RANITA sejumlah satu orang dari Tagana dan sisanya relawan lokal. Akses ke desa dan ketempat pengungsian itupun susah. Jadi, media dan relawan lain pun belum ada yang ke sini. Di sini pun dibutuhkan trauma healing untuk anak-anak yang orang tuanya meninggal, butuh listrik dan hygen kit”, terang Umu. Beberapa kebutuhan mendesak lain seperti alat penerangan, alat masak dan makan, alas tidur, selimut dan tenaga medis pun dipaparkannya dalam laporan harian tim respon. Selain pencarian, mereka melakukan trauma healing kepada anak-anak di pengungsian.

Tim respon Bali melakukan pencarian data pada wilayah Rendang, Bungaya dan Banjar Subagan. Hasil dari assessment, rata-rata setiap pos pengungsian membutuhkan tambahan MCK dan tempat penampungan air. Beberapa tempat pengungsian merupakan pural yang menyulitkan warga untuk melakukan sanitasi. Tika mengatakan bahwa, “Jumlah MCK yang ada di pos pengungsian hanya puluhan, tidak memenuhi kebutuhan MCK untuk ribuan orang pengungsi.”

Sampai saat ini semua tim respon masih menjalankan tugasnya untuk membuat program yang tepat sasaran di ketiga wilayah tersebut. Penyaluran bantuan dalam bentuk program dilaksanakan dari donasi yang terkumpul di pos peduli bencana KMPLHK RANITA yang berada di Taman Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

KMPLHK RANITA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta