Seminar tentang Investasi PRB Berbasis Data di Bappenas

DisasterChannel.co – 04/12/2017 – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia menyelenggarakan seminar berjudul: “Investasi Pengurangan Risiko Bencana dalam Mencapai Pembangunan Berbasis Ketangguhan Nasional.” Seminar dihadiri oleh badan pemerintah seperti BNPB, Bappenas, praktisi kebencanaan, Lembaga Swadaya Masyarakat, akademisi dan lain-lain.

Tujuan seminar seperti disebut dalam seminar adalah untuk mewujudkan sasaran target rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2015-2019 bidang penanggulangan bencana, yaitu: “Menurunkan Indeks Risiko Bencana Indonesia yang semula sebesar 156,3 menjadi 132,8.

Seminar ini membahas setidaknya 3 agenda utama: 1. Kebijakan Penanggulangan Bencana 2015-2019, 2. Pelaksanaan Pengurangan Risiko Bencana, 3. Indetifikasi Kegiatan Prioritas.

Drs. Sumedi Andono Mulyo, MA, Ph.D dari Bappenas dalam makalah yang disampaikan dalam seminar ini menyampaikan antara lain, bahwa investasi dipandang sebagai upaya preventif dalam mengurangi kerugian bencana. Di Eropa dialokasikan dana 1 juta dolar AS untuk kegiatan pengurangan bencana sehingga dapat mengurangi kerugian hingga 10-40 juta dolar AS.

Sebelum itu pernah disebut oleh UNDP dan UNOCHA, bahwa 1 USD dapat menyelematkan 7 USD saat terjadi bencana. Ini kemudian populer dalam kampanye yang berjudul: Act now, save later (Each dollar invested in disaster preparedness, saves seven dollars in recovery).

Sekarang Bappenas, sebagaimana yang disebutkan dalam paparan Sumedi Andono, menyampaikan 1 Rupiah yang diinvestasikan dalam program PRB dapat menyelamatkan hingga 40 Rupiah saat terjadi bencana.

Saat berita pendek ini diturunkan, seminar masih berlangsung. Apakah seminar ini akan menghasilkan rekomendasi pada angka investasi yang ideal dalam program PRB sebagaimana yang sudah dibuat analisanya? Apakah seminar ini akan menghasilkan rekomendasi pada bentuk-bentuk pelaksanaan program risiko bencana yang paling efektif? Apakah seminar ini akan menghasilkan rekomendasi pada prioritas kegiatan yang dibahas dalam seminar ini?

Sedangkan Dr. Eko Yulianto dari Peneliti Paleotsunami dan Kebencanaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyampaikan, bahwa secara umum ada peningkatan kegiatan dan anggaran untuk penanggulangan bencana, namun pemerintah pusat dan daerah terlihat belum mampu melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana dengan baik.

Eko yang datang langsung dari Bandung tempat kantornya di LIPI berada, memberi contoh, bahwa simulasi penanggulangan bencana akan sangat mahal jika harus dilaksanakan seperti yang selama ini sudah dilaksanakan. Meski demikian Eko mempertanyakan apakah simulasi itu efektif, jika dilaksanakan oleh hanya sekelompok elit?

Ia lebih lanjut memberi contoh, bahwa simulasi penanggulangan bencana bisa saja dilaksanakan dengan cara yang kreatif dalam sebuah acara lomba lari ke arah tempat evakuasi misalnya. Contoh lain adalah belum digunakannya tempat-tempat publik yang didatangi orang secara teratur, misalnya tempat ibadah seperti mesjid yang didatangi orang semingu sekali. Seharusnya menurut Eko tempat seperti itu bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi PRB.

Eko juga mengutip Faisal Djalal dari MPBI yang sebelum Eko menyebutkan kenaikan angka bencana yang cukup signifikan, sementara itu “kapasitas” kurang tersentuh. Jumlah korban dan kerugian bencana terus meningkat dari tahun ke tahun, tetapi kesiap-siagaan belum menunjukkan perbaikan. Demikian tambah Eko.

Eko juga mengkritik sikap kebanyakan praktisi kebencanaan yang cenderung menganggap kurangnya anggaran untuk PRB. Menurut Eko dibutuhkan program PRB yang kreatif, karena untuk menentukan besarnya anggaran atau investasi di PRB amat rumit, karena membutuhkan kajian yang mendalam.

Lebih jauh mengenai pemikiran tentang investasi atau anggaran PRB ini sebenarnya sudah ditulis di dan disampaikan Eko di berbagai media dan forum. Salah satunya dimuat di media ini (klik di sini).