Diskusi di Perpustakaan MPR RI tentang “Pembangunan Infrastruktur Jokowi dan Ancaman Gempa”

DisasterChannel.co – 24 Nov 2017 – Bulan September 2017 lalu, Kementerian PUPR meluncurkan peta sumber dan bahaya gempa terbaru. Peta tersebut untuk digunakan sebagai pertimbangan dalam menyusun perencanaan pembangunan proyek infrastruktur. Peta yang selalu diupdate itu mencatat ada 295 sesar yang tersebar di seluruh Indonesia, kecuali Kalimantan.  Data ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat rawan bencana gempa, walau belum dapat diperkirakan berapa skala richter gempa tersebut akan terjadi, tetapi berdasarkan sejarah persitiwa bencana, sudah dapat diprediksi berapa skala richter wilayah-wilayah tertentu akan mengalami guncangan.

Sejarah mencatat, Indonesia pernah mengalami beberapa peristiwa bencana di beberapa tempat, Aceh tahun 2004, mengalami gempa 9.0 Skala Richter dan tsunami yang menelan korban lebih dari 100.000 orang meninggal dunia, dan ratusan ribu rumah habis tersapu tsunami.  Kemudian di Mentawai, yang juga menewaskan ratusan orang dan meluluh lantahkan ratusan rumah yang berada di sekitar pantai. Padang juga mengalami hal yang sama,  begitu juga dengan Bengkulu dan wilayah lain di sekitar Sumatera. Karena memang wilayah-wilayah inilah yang dilalui oleh sesar Semangko.

Tidak hanya di Sumatera, di wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku dan Papua serta Nusa Tenggara Timur juga adalah wilayah rawan gempa, tercatat wilayah-wilayah tersebut kerap mengalami gempa.  Maluku saja, sepanjang tahun 2016 tercatat mengalami gempa sebanyak 1.147 kali, sementara Papua mengalami 346 kali guncangan gempa. Artinya wilayah bagian timur Indonesia memang memiliki intensitas guncangan gempa yang cukup tinggi.

Sementara itu, kita semua mengetahui bahwa pemerintah saat ini tengah bekerja keras untuk membangun infrastruktur di beberapa wilayah.  Secara khusus wilayah timur memperoleh prioritas dalam proses pembangunan ini. Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo, meresmikan trans Papua, jalan sepanjang 284,3 Km, yang menghubungkan Wamena, Habena, Kenyam dan  Mumugu. Belum lagi beberapa ruas jalan tol yang sudah diresmikan terlebih dahulu.

Selain jalan, pemerintahan kabinet kerja ini juga mengembangkan berbagai moda transportasi,  Jabodetabek saat ini tengah giat dibangun LRT – Light Rail Transit, yang menghubungkan Jakarta dengan wilayah-wilayah penyangga  Bogor dan Bekasi, tentu harapannya agar kemacetan yang semakin meningkat, dapat teratasi.

Tidak hanya jalan-jalan tol dan sarana kereta api yang semakin membaik pelayanannya. Sulawesi pun kini mulai dioperasikan layanan kereta api.  Jalur kereta api Trans-Sulawesi adalah jaringan jalur kereta api yang dibangun untuk menjangkau daerah-daerah penting di Pulau Sulawesi. Jaringan jalur kereta api ini dibangun mulai pada tahun 2015 yang dimulai dari tahap I, yaitu jalur kereta api dari Makassar hingga Parepare. Proyek perkeretaapian Trans-Sulawesi ditargetkan mencapai panjang 2.000 kilometer dari Makassar ke Manado.

Sasaran dari pengembangan jaringan jalur kereta api di Pulau Sulawesi adalah untuk menghubungkan wilayah atau perkotaan yang mempunyai potensi angkutan penumpang dan barang atau komoditas berskala besar, berkecepatan tinggi, dengan tingkat konsumsi energi yang rendah dan mendukung perkembangan perkotaan terpadu melalui integrasi perkotaan di wilayah pesisir, baik industri maupun pariwisata serta agropolitan baik kehutanan, pertanian maupun perkebunan

Tentu pembangunan ini sangat penting bagi masyarakat Indonesia, dapat dibayangkan perekonomian Indonesia bakal berkembang dengan pesat, dengan terbukanya beberapa jalan-jalan yang semula terisolir.

Tetapi ada pula rasa gundah, mengingat Indonesia yang berada di atas beberapa lempeng dan ratusan sesar, yang setiap kali bisa saja memicu gempa bahkan di beberapa tempat memiliki potensi tsunami.  Untuk itulah kami dari Perkumpulan SKALA, bekerjasama dengan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Aksi Cepat tanggap dan di dukung oleh Perpustakaan MPR RI, akan mengadakan bincang-bincang dengan mengundang beberapa ahli  dengan tema ““Program Pembangunan Infrastruktur dan Ancaman Bencana Gempa”