Didalam Iklim Yang Baik (Kuat) Terdapat Masyarakat Yang Sehat

Disasterchannel.co -,  Mens Sana in corpore sano, yang kemudian ditafsirkan sebagai “didalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”, adalah kutipan yang sangat popular dikalangan masyarakat untuk menyadarkan dan menyemangati diri bahwasannya berolahraga tidak hanya menguatkan tubuh juga menyehatkan jiwa. Kiranya kutipan diatas bisa juga hampir senada dengan gambaran bagaimana keadaan iklim bumi kita tercinta saat ini dengan hubungannya terhadap kesehatan penduduk bumi. Adakah korelasinya?

Laporan terakhir The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa pengetahuan ilmiah tentang bagaimana iklim akan berubah memberikan gambaran emisi gas rumah kaca dimasa mendatang. Laporan tersebut juga mengestimasi perubahan temperatur global antara 1,4oC dan 5,8oC pada akhir tahun 2100. Pembuat kebijakan internasonal bertujuan menjaga peningkatan temperatur global pada kisaran dibawah 2oC. Penemuan IPCC selanjutnya menyarankan permukaan air laut, dan peningkatan dalam kejadian cuaca ekstrim.

Walaupun efek perubahan iklim dan konsekuensi pemanasan global tidak dimengerti secara pasti,beberapa efek langsung terhadap peningkatan temperatur dapat diukur, seperti peningkatan kejadian penyakit yang berhubungan dengan kenaikan temperatur, peningkatan angka kematian karena gelombang panas seperti yang terjadi di India dan Pakistan 2015 lalu. Kondisi iklim yang tidak stabil dapat juga menyebabkan peningkatan kejadian bencana alam, seperti badai, angin siklon putting beliung, kekeringan, dan kebakaran hutan, yang berdampak terhadap kesehatan fisik dan mental masyarakat yang terserang.

Pola iklim yang terganggu menyebabkan efek tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Efek terhadap pola hujan yang meningkat bencana banjir dapat menyebabkan peningkatan kejadian penyakit perut karena efeknya pada sumber air dan penyediaan air bersih, penyakit malaria, demam berdarah dengue, chikungunya dan penyakit lainnya yang ditularkan melalui rodent seperti leptospirosis. Efek tidak secara langsung sangat terasa akibatnya terlebi kepada daerah didunia dengan penduduk miskin.

Terdapat sejumlah penyakit yang diprediksi prevalensinya akan meningkat sebagai akibat perubahan iklim. World Health Organization (WHO), 2004, telah mengidentifikasi beberapa penyakit yang sangat besar kemungkinan karena perubahan iklim telah menyebabkan terjadinya wabah.

Dalam 50 tahun , laju deforestasi (penebangan hutan) dan pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak , gas, batubara telah secara dramatis meningkatkan jumlah gas rumah kaca di atmosfir bumi. Proyeksi  kenaikan rata-rata suhu permukaan diseluruh Indonesia akibat gas rumah kaca sampai dengan periode 2020-2050 adalah sekitar 0,8-1oC relative terhadap periode iklim terakhir di abad ke-20 (Bappenas, 2010). Gas rumah kaca akan terus “menghangatkan” dunia. Gelombang panas yang dihasilkan akan menyebabkan peningkatan tajam masalah kesehatan yang berhubungan dengan panas, seperti kelelahan, stroke, dehidrasi, serangan jantung,gagal jantung.

Sebagian orang berada dalam risiko tinggi untuk massalah kesehatan yang ditimbulkan akibat perubahan iklim. Kelompok-kelompok yang rentan tersebut diantaranya, anak-anak, orang tua, orang-orang dengan kondisi medis tertentu seperti penyakit saluran pernapasan (asma), penyakit saraf, dan jantung, orang-orang yang bekerja diluar rumah dengan paaparan cuaca ekstrem dan polusi udara, orang yang tinggal  didaerah rawan kekeringan, kebakaran hutan, dan orang yang tinggal di pesisir pantai.

Beberapa bulan terakhir Indonesia dilanda kekeriangan panjang yang terjadi diberbagai daerah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan kekeringan yang dialami banyak daerah di Indonesia berlangsung hingga Oktober 2017. Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat data Informasi dan Humas BNPB, mengatakan, BMKG merilis data sebagian besar pulau Jawa saat ini sedang mengalami puncak musim kemarau dan akan masuk awal musim baru pada bulan Oktober-November 2017. “Awal musim hujan 2017/18 disebagian besar daerah diprakirakan mulai akhir Oktober-November 2017, sebanyak 260 zona musim (76 persen) dan mengalami puncak musim hujan pada Desember-Februari 2018” Ujar Sutopo.

Dengan demikian sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa adanya kekeringan yang terjadi megakibatkan kemungkinan potensi penyakit  yang dapat menyerang masyarakat karena permasalahan kebersihan dna kekurangan air bersih. Hal ini tidak lain karena dampak secara langsung baik tidak langsung dari perubahan iklim.

Usaha yang dilakukan untuk mengantisipasi dampak lebih buruk dari kekeringan tersebut telah dan akan terus dilakukan oleh pemerintah berupa pembanguna sumur bor, pembangunan perpipaan, pemanenan hujan, pembangunan embung, bending dan waduk telah dapat mengurangi dampak kekeringan.

Pemprov Jawa Barat bahkan kini menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan di 8 kabupaten/kota Jabar akibat kemarau  panjang yang melanda Jabar. Sementara itu di Kabuaten Karawang, status siaga darurat berlaku hingga 31 Desember 2017. Kekeringan di kabupatem ini melanda 21 desa dengan jumlah penduduk terdapat 23.836 Jiwa.

Ini persis seperti apa yang dikatakan oleh Prof. Dr Rahmat Witoelar (Ketua Utusan Khusus Presiden bidang Pengdalian Perubahan Iklim), bahwa dalam perubahan iklim apa yang disebut dengan kering di musim penghunan dan lembab di musing kemarau. Pola cuaca yang tidak teratur ini ternyata sangat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

 

Muhamad Marwan.