Sungai, Dilema Kesenangan, Keuntungan dan Kesadaran Lingkungan

Sungai merupakan sumber kehidupan bagi manusia, menjadi  urat nadi kehidupan sejak berjuta-juta tahun lalu. Selain memanfaatkan sebagai air minum, aliran air sungai juga memberikan dampak ekonomi bagi sebagaian orang.  Aliran air sungai dimanfaatkan sebagai olah raga arung jeram yang sekaligus dijadikan ajang  uji adrenalin. Tapi apakah mereka sadar akan sungai itu sendiri?

Lodewijk Rainier Korua, pria perawakan tinggi membagikan pengalamannya dalam acara sarasehan perintis dan senior pecinta alam di Situgunung, Sukabumi, Kamis-Jumat (24-25/8/2017). Bapak tiga anak ini merupakan pecinta alam yang menjadikan hobinya ke dalam bisnis.

Melalui wisata arung jeram, dia menjadikan sungai sebagai sumber penghidupan masyarakat Citarik, Sukabumi. Lody menjelaskan bahwa ada komponen dalam wisata arung jeram yaitu, masyarakat sebagai tenagakerja, pengusaha memperoleh keuntungan, pemda memperoleh   PAD (Pendapatan Asli Daerah), tamu memperoleh  kesenangan. Namun, ada satu hal yang terlupa, alam.

Sudah umum bahwa alam dimanfaatkan dalam mencari keuntungan, “Mereka bukan pecinta alam tapi mereka adalah pengusaha.” Sambungnya.

Saat ini Lody sedang menyoroti masalah sampah yang ada di Sungai Cisadane, Bogor. Melesatnya wisata arung jeram memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap lingkungan sungai. Terhitung ada 14 jasa arung jeram di Sungai Cisadane, akses yang mudah dan dekat dengan Ibukota serta wisata alam Puncak menjadikan arung jeram Cisadane ramai pengunjung.

Selain sungai, dia juga melihat standar keamanan yang digunakan dalam wisata alam tersebut. Demi mendapatkan keuntungan, pengusaha arung jeram melakukan apapun salah satunya mengesampingkan keamanan. Bila hal itu terjadi, pengabaian standar keamanan, maka pengabaian akan lingkungan juga terjadi. Saat ditanya apakah masyarakat sekitar sadar akan hal tersebut, Lody menjawab, “Sadar. Tapi itu sudah menjadi lingkaran setan yang tidak bisa dihindari.” (Santi)