Kumpul-Kumpul Pencinta Alam

Keprihatinan dengan situasi yang terjadi, dimana, agama seringkali lebih di kedepankan, dibandingkan nilai-nilai kemanusian universal,  untuk itulah  beberapa pecinta alam senior mengambil inisiatis untuk berkumpul dan menyatakan kembali  nilai-nilai yang selama ini menjadi dasar para pencinta alam, yaitu tidak membedakan suku, agama dan ras dalam berakivitas. Demikian penjelasan dari  Aristides Katoppo, mewakili Mapala UI yang hadir dalam  Sarasehan Pencinta Alam, yang berlangsung di Situpatenggang, Sukabumi  Agustus lalu, pertemuan diikuti oleh senior pecinta alam,  diantaranya, Aristides Katoppo, Gunawan Alif, Rudi Badil, Iwan Abdurahman, Martua Sirait,  Lodewijk Rainier Korua.

Selain memperbincangkan situasi terkini, diskusi hangat mengenang masa-masa kejayaan kelompok-kelompok pencita alam yag berbasis di kampus-kampus ini  juga membahas  persoalan lingkungan yang terasa semakin komplek, serta berbagai peristiwa bencana yang kerap terjadi.  Lodewijk Rainier Korua membeberkan pengalamannya bagaimana dia menyiapkan perahu karet untuk penangan banjir di Jakarta, di mana dia dan pecinta alam lainnya mampu menempuh titik banjir. Selain itu pada bencana dahsyat tsunami Aceh 2004, para pecinta alam ikut terjun langsung dalam penyelamatan.

Perbincangan santai dengan mengingat kembali, bagaimana alam memberikan kasih sayangnya, tidak lupa Iwan Abdurahman dari Wanadri  pun menyuguhkan lagu-lagu penuh kenangan bagi para peserta sarasehan tersebut, pertanyaan-pertanyaan  filosofis pun di lontarkan, “apakah kita pernah berterima kasih kepada rumput dan matahari ?” (Santi)