Jejak Tsunami Raksasa Ditemukan di Selatan Jawa; Kapan Akan Berulang?

Ekspedisi Palu-Koro yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat ini adalah upaya pengurangan risiko bencana (PRB) di wilayah Sulawesi Tengah yang menurut ahli geologi terancam gempa dan tsunami besar karena adanya beberapa sesar aktif di sana. Ekspedisi ini tidak akan berhenti di wilayah ini, karena ada lebih dari 200 sesar aktif di Indonesia.

Wilayah pantai selatan pulau Jawa juga salah satu yang terancam gempa dan tsunami besar. Wilayah Lebak menurut beberapa penelitian paleotsunami pernah dilanda tsunami besar ratusan tahun lalu. Meski demikian tidak ada catatan tertulis berupa manuskrip kuno tentang tsunami besar ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah di antara yang pernah melakukan penelitian itu.

Para peneliti telah menemukan deposit tsunami di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, dan Cilacap, Jawa Tengah. Deposit ini diduga berasal dari tsunami pada 1867. Deposit dibawa tsunami diperkuat dengan adanya mikroorganisme dari lingkungan laut dalam di endapan ini,” kata Yan Rizal, geolog dari ITB (Kompas).

 

Eko Yulianto, ahli paleotsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), juga menemukan jejak tsunami yang diduga terjadi sekitar 400 tahun lalu. Deposit terduga tsunami yang ditemukan di Lebak menunjukkan umur 331 tahun dan 293 tahun dengan toleransi 24 tahun. Tsunami diperkirakan terjadi sekitar tahun 1685 dan 1723.

Katalog Wichman memang mencatat adanya gempa pada 5 Januari 1699. Wichman menyebutkan, gempa ini memicu kerusakan hebat di Jakarta hingga Banten, bahkan memicu terjadinya longsor di Gunung Salak dan beberapa wilayah lain. Meski demikian gempa ini diduga bukan gempa darat, namun gempa ini nampaknya terjadi di zona subduksi.

Hasil dari beberapa penelitian ini telah diseminarkan dan ditulis oleh beberapa media besar, termasuk juga oleh National Geographic.

Selama sepuluh tahun terakhir, Eko telah mencari deposit tsunami di selatan Jawa untuk mendukung teori tentang keberadaan tsunami di kawasan tersebut. Dari penelitiannya di Sungai Cikembulan, Pangandaran, Jawa Barat, dia menemukan empat lapisan pasir yang diduga menjadi penanda keberulangan tsunami di kawasan ini.

Salah satu lapisan pasir cukup tebal, yang menunjukkan bahwa skala tsunaminya sangat besar. Dalam lapisan itu terdapat cangkang kerang Foraminifera yang menguatkan dugaan bahwa endapan ini berasal dari laut yang terbawa saat tsunami. Setelah dilakukan penanggalan, lapisan itu diduga akibat tsunami sekitar 400 tahun lalu. Itu berarti tsunami terjadi sekitar tahun 1600 atau abad ke-17 (National Geographic).

Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Daryono menyebutkan, bahwa pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah tentang kerentanan bencana gempa dan tsunami di Indonesia masih minim. Ini tentu menjadi tantangan dalam upaya mitigasi atau pengurangan risiko bencana. Padahal, dari katalog tsunami yang disusun BMKG, tercatat 230 kejadian tsunami yang pernah terjadi di Indonesia.

 

Apa yang bisa kita lakukan melihat temuan jejak tsunami besar ini? Ekspedisi Palu-Koro adalah salah satu cara untuk mensosialisasikan potensi bencana dan sekaligus membangun upaya pengurangan risiko bencananya. Penayangan film dokumenter di TV swasta adalah salah satu cara alternatif untuk membangkitkan kesadaran itu. Demikian juga penerbitan buku dan diskusi atau seminar.


Klik di sini untuk lebih jauh tentang Ekspedisi Palu-Koro