Tim Riset Awal Ekspedisi Palu-Koro Terjun ke Sulawesi Tengah Mei 2017 Lalu

Poso, kabupaten di Sulawesi Tengah itu Senin malam, 29 Mei 2017 digoyang gempa. Goncangan sebesar 6,6 SR itu memang tak menelan korban jiwa, tetapi puluhan rumah rusak dan beberapa orang luka. Di beberapa lokasi terlihat jalan retak, dan pada lokasi tertentu tercium bau belerang.

Dari sudut ilmu geologi, Poso memang wilayah yang rawan terhadap gempa. Ada beberapa sesar aktif di daerah itu yang menyebabkan terjadinya gempa. Umumnya yang terjadi adalah gempa darat sebagaimana peristiwa Senin malam itu. Bahkan pada kasus gempa akhir Mei, termasuk gempa dangkal karena hanya berkedalaman 10km.

Bagi tim Ekspedisi Palo-Koro, peristiwa gempa tersebut bukannya menyiutkan nyali, tetapi justru menghentakkan semangat untuk terus melanjutkannya. Di sisi lain, gempa tersebut juga menjadi bekal untuk mempermudah edukasi terhadap masyarakat karena sebagian dari masyarakat sudah merasakan langsung dampak dari gempa.

Betul, bahwa lokasi gempa yang terjadi tersebut tidak berada dalam area ekspedisi. Tetapi secara tidak langsung wilayah tersebut punya sejarah pembentukan yang sama dengan sesar Palu-Koro yang memanjang dari Palu sampai sungai Koro. Bagaimana pun Sulawesi adalah daerah bermukimnya sesar yang berpotensi menimbulkan gempa. Ada puluhan sesar yang merobek-robek Sulawesi.

Ekspedisi Palu-Koro telah memasuki babak baru dengan berangkatnya tim untuk melakukan riset awal pada 12-23 Mei 2017 silam, lima hari di antaranya turun ke lapangan. Mereka adalah Ade Kadarusman, Reza Permadi, Ivan Aulia Ahsan, Dharma Satyawan, dan Neneg Susilawati. Kemudian ada tim domumentasi yakni Denny (video) dan Nugrah (fotografi) Selain itu tim manajemen ada Trinirmalaningrum, Jojo Rahardjo, Shadiq, Neni, Ijal, dan Anif Punto Utomo.

Begitu tim menginjakkan kaki di Palu, langsung mengadakan pertemuan secara nonformal dengan Universitas Tadulako dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Abdullah, dosen geofisika Tadulako yang mendalami soal sesar Palukoro berikut gempa banyak bercerita mengenai sejarah kegempaan Palu-Koro dan bencana yang ditimbulkannya. Dari dia pula tim mendapat kata ‘Laut Berdiri’, yaitu istilah masyarakat untuk menggambarkan tsunami.

Tim Ekspedisi Palu-Koro diterima beberapa dekan Universitas Tadulako

 

 

Tim Ekspedisi Palu-Koro diterima oleh BPBD Sulteng

 

Pada hari pertama lapangan periset terjun ke wilayah Gimpu. Di kawasan ini dari tim geologi menunjukkan satu bagian dari sesar Palu-Koro yang berada di bagian bawah yaitu di sungai Koro. Wawancara dengan penduduk lokal juga dilakukan termasuk para pemburu rotan. Dari lokasi ini selanjutnya tim periset dibagi dua, satu tim melanjutkan perjalanan ke Lore Lindu dan sebagian lain kembali ke Palu.

Mewancarai penduduk setempat di pertemuan sungai Mewe dan sungai Koro di lembah Koro.

 

Pada hari kedua lapangan, tim menuju pantai Pusat Laut di Donggala untuk melihat adanya sinkhole. Dari situ menuju pantai Tanjung Karang melihat jejak sesar dan mewawancarai penduduk yang mengalami gempa masa lalu. Perjalanan menuju lokasi menyusuri teluk yang indah. Tapi di beberapa tempat juga disuguhi pemandangan penambangan pasir batu di sisi bukit, dan pelabuhan pengangkut di sisi lautnya.

Hari ketiga menuju Lembah Bada untuk melihat situs megalitik dengan berbagai bentuk pahatan batu yang masih mengandung misteri. Setidaknya ada 2 misteri di sana, yaitu darimana batu granit yang digunakan untuk patung-patung itu. Kedua peralatan apa yang digunakan untuk memahat batu granit yang sangat keras itu. Perjalanan relatif jauh, di beberapa lokasi mendekati tujuan, jalannya sebagian rusak karena longsor yang hampir tiap hari terjadi. Butuh perjuangan untuk mencapai daerah tersebut. Tim bahkan menginap di desa sekitar situs tersebut yang memiliki penginapan yang relatif baik, karena ada banyak peneliti dari berbagai negara datang ke sana.

Situs megalitik di Lembah Bada yang memiliki setidaknya 2 misteri: darimana batu granit berasal dan bagaimana memahat batu granit yang sangat keras itu.

 

Baru pagi harinya di hari keempat, tim menuju ke lokasi situs megalitik. Tim ditemani oleh pak Syarif dan pak Zul dari Cagar Budaya Depdikbud wilayah Sulawesi Tengah yang bertugas merawat situs tersebut sejak bertahun-tahun.  Tim periset juga mewawancarai penduduk lokal untuk menggali informasi tentang budaya dan juga adanya gempa masa lalu yang mempengaruhi hidup mereka.

Syarif dari Cagar Budaya Depdikbud wilayah Sulawesi Tengah

 

Cukup banyak temuan awal yang diperoleh dari tim periset. Ade Kadarusman, geolog yang sudah malang melintang di wilayah Sulawesi melakukan penelitan awal untuk melihat tektonik dan sumber daya alam. Munculnya batuan sangat tua di permukaan bumi yang ditemukan mengindikasikan adanya peristiwa geologi yang unik di wilayah tersebut. Tidak hanya Ade Kadarusman, tim ekspedisi bahkan setelah dari Sulawesi Tengah pergi ke Bandung mewancarai 2 geolog senior Indonesia di LIPI Bandung, Danny Hilman dan Mudrik Daryono (lihat video wawancaranya di bawah ini).

 

Sumber daya alam yang merupakan efek tak langsung dari tektonik wilayah sesar juga ditemukan, yang sudah dieksplorasi adalah tambang emas di dekat kota Palu. Memanjang ke sesar Matano yang nyaris bergandengan dengan sesar Palukoro, di sekitar itu ada tambang nikel yang terkenal yaitu Vale (dulu Inco).

Reza dan sebagian tim ekspedisi sempat membuat konferensi pers di kantor AJI di kota Palu. Beritanya muncul di media lokal dan Kompas.

 

Reza yang selama ini aktif di bidang geowisata dalam penelitian awal itu menggali potensi yang bisa menjadikan wilayah itu sebagi geopark, yakni geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity. Di beberapa lokasi ditemukan hal menarik misalnya sinkhole batu gamping di pantai Pusat Laut di Donggala. Sayang kealamian sinkhole itu sudah terkikis. Kini Reza sedang menyusun konsep tentang bagaimana membangun wilayah sesar Palu-Koro menjadi wilayah geopark yang bisa ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

Dharma Satyawan yang selama ini berkecimpung di Fakultas Kehutanan IPB melakukan penelitian yang lebih fokus ke ekologi. Banyak hal menarik sebagai temuan awal yang ada di kawasan sesar Palukoro.

Ivan, peneliti dari LPBI NU yang berkutat di bidang sosiologi dan sejarah sudah melakukan wawancara dengan beberapa penduduk lokal, baik asli maupun transmigran. Dia pun sempat mendengarkan alunan usik tradisional yang menggunakan bambu. ‘’Sayang regenerasinya tidak jalan, jika tidak diselamatkan, orkestra bambu lokal ini akan punah,’’ kata Ivan.

Neneng Susilawati , seorang peneliti sosiologi LIPI yang banyak melakukan penelitian di wilayah bencana menelusuri bahwa ada 12 suku di Sulawesi Tengah dan lima di antaranya terlintasi sesar Palukoro yakni Kaili, Pamona, Pipikoro, Napu-Bada, dan Toli-Toli. Dilihat dari miniatur rumah tradisional tradisional di museum sejarah sudah menampakkan kontruksi yang tahan gempa.

Menurut Sushi, persepsi dan pengetahuan masyarakat berdasarkan cerita rakyat atau mitologi, serta pengalaman kejadian bencana yang pernah dialami langsung atau diceritakan kembali secara turun temurun perlu ditelusuri lebih mendalam. Jejak pengetahuan lokal tentang gempa telah ditemukan, namun untuk tsunami masih perlu pendalaman.

Selesai kegiatan lapangan, tim periset mengadakan workshop yang dihadiri oleh BPBD, Forum PRB (Pengurangan Risiko Bencana), dan dari Universitas Tadulako. Workshop diadakan di kantor BPBD dan juga di Universitas Tadulako. Ekspedisi Palu-Koro mendapat dukungan penuh dari BPBD Sulteng dengan diberikannya ruang untuk sekretariat di kantor tersebut, bahkan juga beberapa fasilitas lainnya. ‘’Dari workshop itu ada beberapa hal yang disampaikan dan menjadi masukan bagi tim peneliti,’’ kata Trinirmalaningrum.

Workshop di BPBD

 

Workshop di Universitas Tadulako

 

Masukan itu pertama, bahwa fokus riset tetap di Palu-Koro. Kedua, riset mendalam mengenai bahasa-bahasa yang mau punah. Ketiga, penelitian hendaknya masuk wilayah pantai barat karena disitu ada pulau yang hilang dan ada pulau yang muncul setelah gempa. Keempat, penelitian lebih detil soal flora dan fauna yang terganggu bencana.

Masukan itu akan menambah bekal untuk riset mendalam yang rencananya akan dilaksanakan pada akhir Agustus-September mendatang. Sejauh ini tanggapan dari masyarakat berbagai kalangan sangat positif terhadap ekspedisi ini. Begitu pula dari pemerintah setempat, dan juga media. Bahkan beberapa media sudah menyatakan minatnya untuk bergabung dalam riset nanti.

Ekspedisi Palukoro ini kelak akan menghasilkan riset yang komprehensif mengenai sesar Palokoro. Bukan hanya dari sisi geologinya saja yang secara keilmuwan sangat dekat dengan proses terjadinya sesar beserta efeknya, tapi juga bidang ilmu lain. Semuanya akan terkait dengan bencana yang selalu mengancam daerah itu. Budaya daerah misalnya bisa saja punah ketika suatu saat terjadi gempa besar yang mengubur bidaya tersebut. Bahasa lokal pun bisa ikut terpunahkan. Flora dan fauna juga begitu, yang bisa punah karena bencana besar.

Banyak hal yang terkait dengan keberadaan sesar Palukoro. Untuk itulah kenapa Ekspedisi Palkoro ini meskipun baru tahap awal sudah memperoleh banyak apresiasi.

Sumber: Anif Punto Utomo, Pemred majalah IAGI
Gambar utama: Denny Sugiharto

 

Untuk informasi yang lebih lengkap silahkah kunjungi situs Ekspedisi Palu-Koro di sini: http://ekspedisipalukoro.co


Baca tulisan lainnya:
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1)
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2)
Ekspedisi Palu-Koro Akan Segera Dilaksanakan Bulan April 2017
POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO & TEKNOLOGI GPS
Waspadai Siklus Gempa pada Sesar Palu-Koro
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Wilayah Rawan Gempa Besar di Sulawesi
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Kerawanan Bencana Gempa dan Tsunami
Gempa Bumi Berdasarkan Kedalaman Episenternya
Dirgahayu Republik Indonesia