Gempa Poso, Sesar Palu-Koro dan Warisan Peradaban Kuno Sulawesi Tengah

DisasterChannel.co – 03/06/2017. Gempa yang mengguncang Poso beberapa terakhir ini sebenarnya tidak mengagetkan. Wilayah Sulawesi memang dilalui oleh sebuah sesar besar aktif yang dikenal dengan nama sesar Palu-Koro membentang dari Teluk Palu hingga ke lembah Koro dan berbelok ke Sesar Matano di sebelah timur. Namun gempa Poso kemarin bukan disebabkan oleh sesar besar tadi, tetapi oleh sesar lokal yang lebih kecil di wilayah sekitar Sesar Palu-Koro.

Apakah aktivitas sesar lokal ini mempengarahui aktivitas Sesar Palu-Koro? Sukmandaru Prihatmoko, ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) 5 Mei 2017 kemarin dalam konferensi persnya, di sekretariat IAGI di kawasan Pancoran menjawab: Tidak. Selain Sukmandaru, konferensi pers ini juga dihadiri oleh Anif Punto dari media Berita IAGI dan beberapa peniliti seperti dari IPB, Dharma Satyawan, Shusi Susilawati dari LIPI, Ivan Aulia Ahsan dari UI. Juga hadir Wahyu Novyan dari Aksi Cepat Tanggap yang beberapa hari ini juga memberikan bantuan melalui perwakilannya di Sulteng.

Setiap sesar aktif sebagaimana disampaikan oleh para geolog IAGI memiliki siklusnya masing-masing. Berdasarkan studi paleoseismologi yang dilakukan Mudrik Daryono, Sesar Palu-Koro memiliki siklus 130 tahun. Pada tahun 1907 terjadi gempa yang bersumber dari retakan sesar yang berarah tegak lurus Sesar Palu-Koro sekitar wilayah Kulawi hingga Lindu.

Dua tahun berikutnya, terjadi gempa bumi 1909 yang bersumber dari sesar utama Palu Koro dengan kekuatan lebih besar yang menghancurkan seluruh wilayah itu. Besarnya gempa digambarkan dengan jatuhnya buah kelapa yang masih muda dari pohonnya.Tahun-tahun sekarang ini adalah tahun-tahun siklus 130 tahun dari masa aktif Sesar Palu-Koro. Geolog Mudrik Daryono menyampaikan itu dalam disertasinya  untuk memperoleh gelar PhD beberapa tahun lalu.

Kemudian pada 2012 silam terjadi gempa di wilayah yang hampir sama dengan karakteristik gempa identik dengan gempabumi 1907. Jika siklus berulang, dimana gempa pertama akan disusul oleh gempa kedua yang jauh lebih besar dengan jarak dua tahun, berarti kawasan Sulawesi tengah terancam gempa berkekuatan besar di atas 7 SR dalam waktu tidak lama lagi. Ini yang harus diwaspadai.

Ada beberapa nama geolog senior yang juga sudah mendalami sesar Palu-Koro ini selama beberapa dekade, antara lain: Ade Kadarusman dan Danny Hilman Natawidjaja. Geolog Heriyadi Rachmat juga mendalami aspek geo park di Sulawesi Tengah

 

Aspek Sosial dan Budaya di sekitar Sesar Palu-Koro  di Sulawesi Tengah

Selama ribuan tahun, berbagai peradaban silih berganti mendiami wilayah Sulawesi Tengah. Kerawanan yang tinggi terhadap gempa membuat kita mesti menengok kembali wilayah ini sembari menggali kearifan-kearifan dalam hal penanggulangan bencana dari masa lalu dan memetik hal-hal baik yang relevan untuk kemaslahatan masa kini. Dan di atas semua itu: menjaga keselamatan manusia beserta warisan peradaban di sekitarnya.

Propinsi Sulawesi Tengah terdiri dari 12 suku bangsa yaitu Kaili, Pamona, Saluan, Banggai, Pipikoro, Napu-Bada, Mori, Bungku, Tomimi, Toli-Toli, Buoi, dan Balantak. Setiap suku bangsa tersebut menyebar dan mendiami wilayah geografis yang berbeda seperti pesisir pantai, lembah dan dataran tinggi. Dari 12 suku bangsa tersebut 5 diantaranya terlintasi sesar aktif Palu Koro, yaitu suku bangsa Kaili, Pamona, Pipikoro, Napu-Bada, dan Toli-Toli. Keanekaragaman wilayah sebaran pemukiman mencirikan arsitektur rumah tradisional yang berbeda-beda menjadi identitas budaya dan jejak peradaban pada masa lalu. Miniatur bangunan rumah tradisional di pesisir pantai, lembah dan dataran tinggi berbeda-beda dan dapat dilihat di museum daerah.

Semua rumah tradisional merupakan rekonstruksi bangunan tahan gempa dan adaptasi dengan lingkungan alam yang ditempatinya. Saat ini jarang ditemukan masyarakat yang masih mempertahankan rumah tradisonal dan sebagian sudah menggantinya dengan kontruksi rumah gaya modern. Namun suku bangsa Kulawi masih mempertahankan tradisi budaya dan arsitektur tradisional yang disebut rumah adat Lobo.

Rumah adat Lobo

Rumah adat Tambi

Ikhsam, wakil kepala museum daerah Provinsi Sulawesi Selatan, menyampaikan bahwa persepsi gempa diyakini oleh masyarakat tradisonal ada dua, yaitu gempa kecil ditandai sebagai tanda leluhur akan datang dan tanda memperkuat tulang bumi, sedangkan gempa dengan kekuatan besar ditandai sebagai bentuk cobaan atau ujian dan sarana intropeksi diri, yang kemudian disusul dengan menyelenggarakan ritual atau upacara adat Linu.

Upacara adat Linu atau gempa bumi dilaksanakan sesudah terjadi gempabumi, karena adanya kepercayaan bahwa penguasa tanah menjadi marah akibat perlakukan manusia yang tidak baik. Ritual yang dilakukan oleh suku Kulawi pada masa lampau merupakan pemujaan terhadap Karampua Ntana (penguasa tanah) dan Karampua Langi (penguasa langit), dengan tujuan memohon perlindungan dari malapetaka dan sebagai ucapan syukur atas perlindungan yang diberikan oleh dewa-dewa. Ritual tradisi ini masih dipelihara hingga saat ini terakhir gempa 2012, seluruh warga yang merasakan gempa khususnya Kulawi menggelar upacara adat Linu.

Persepsi lain yang berkembang selain gempa sebuah peristiwa alam yang mendatangkan bencana, bagi warga di sekitar Danau Lindu disyukuri sebagai berkah. Gempa dengan kekuatan M 6,2 SR pada 18 Agustus 2012, menggoncang kuat  dan dekat pusat gempa, mendatangkan berkah karena akses jalan menjadi tersambung yang sebelumnya tidak dapat terakses karena masuk dalam kawasan Taman Nasional. Menurut Nurdin, salah seorang tokoh adat di situ, setelah jalan dibangun perkembangan desa menjadi pesat, akses kendaraan beroda empat dapat melintas dan akses jaringan telekomunikasi. Pendapat lain dari saksi hidup, seorang warga di Donggala, Ibu Erna (usia 65 tahun) menceritakan pengalaman gempa besar yang pernah dialami semasa hidupnya, terjadi pada malam hari hampir seluruh warga di pantai lari menuju bukit dan bermalam hingga esok pagi. Waktu kejadian tidak dingatnya dengan persis tapi teringat tahun 1996 saat anaknya lahir dan data sejarah kejadian gempa mencatat tahun yang sama yaitu 1996 tejadi di pantai Barat dengan kekuatan M. 7,6 SR.

Selain peristiwa gempa lokal yang dialami, peristiwa tsunami 2004 di Aceh juga membawa perubahan wawasan tentang kebencanaan bagi seluruh warga perisir pantai di Indonesia, khususnya bagi Sulawesi Tengah. Karena Berselang 20 hari dari kejadian tsunami Aceh terjadi gempa yang cukup besar dengan kekuatan M 6,4 SR sebagian warga pesisir mengira gempa akan disusul tsunami seperti yang mereka saksikan tsuami Aceh melalui berita televisi.

 

Ekspedisi Palu-Koro

Berangkat dari apa yang disampaikan oleh para geolog Indonesia juga para ahli kebencanaan, sosiolog dan antropolog yang telah melakukan penelitian di sana sebelumnya, Perkumpulan SKALA, Platform Nasional untuk Pengurangan Risiko Bencana, IAGI, Aksi Cepat Tanggap, Kementrian Maritim, telah melakukan Survey Awal di wilayah Sulawesi tengah beberapa hari lalu (12-23 Mei 2017). Survey awal ini untuk menyusun rencana kerja dari Ekspedisi Palu-Koro yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2017. Survey awal ini selesai hanya beberapa hari sebelum gempa Poso terjadi.

Tim Survey Awal didampingi oleh forum PRB Sulteng bertemu dengan BPBD Palu.

Tim Survey Awal di Universitas Tadulako yang diwakili oleh Pak Abdulah wakil dekan Fakultas GeoFisika yang banyak melakukan gerakan mitigasi bencana di Sulteng.

Tim Survey Awal di Lembah Koro yang dilalui oleh Sesar Palu-Koro.

Lembah Bada tempat situs megalitik yang artefaknya terbuat dari batu granit yang keras dan berusia 2500-4000 tahun. Geolog belum menemukan dari mana batu granit untuk membuat patung ini berasal. Ada lebih dari 1000 artefak tersebar di berbagai tempat. Menurut para arkeolog, ada kesamaan bentuk patung dengan patung megalitik yang ada di Turki dan Easter Island.

 

Taman Nasional Lore Lindu pernah diguncang gempa keras sekali hingga memutuskan akses ke wilayah penduduk setempat. Bantuan harus diberikan dengan helikopter.

Ekspedisi Palu-Koro akan menggali kembali persepsi dan pengetahuan masyarakat berdasarkan cerita rakyat atau mitologi, serta pengalaman kejadian bencana yang pernah dialami langsung atau diceritakan kembali secara turun temurun. Jejak pengetahuan lokal tentang gempa selama survei awal ditemukan jejak pengetahuannya, namun untuk tsunami masih perlu pendalaman khususnya diwilayah pesisir barat Sulawesi Tengah.

Sesar aktif Palu-Koro tidak banyak dikenal keberadaannya oleh masyarakat setempat saat ini, namun rekaman jejaknya masih tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat pendahulu dan bukti peradaban yang sebagian sudah ditinggalkan. Ekspedisi Palu-Koro yang akan dilaksanakan pada Agustus-September 2017 bertujuan membangunkan kembali ingatan, sejarah peradaban, dan kesiapsiagaan akan ancaman sesar Palu-Koro yang menurut para geolog dari IAGI sudah jatuh tempo siklus pengulangannya. (Ivan/Shusi/JR)


 

Untuk informasi yang lebih lengkap silahkah kunjungi situs Ekspedisi Palu-Koro di sini: http://ekspedisipalukoro.co


Baca tulisan lainnya:
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1)
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2)
Ekspedisi Palu-Koro Akan Segera Dilaksanakan Bulan April 2017
POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO & TEKNOLOGI GPS
Waspadai Siklus Gempa pada Sesar Palu-Koro
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Wilayah Rawan Gempa Besar di Sulawesi
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Kerawanan Bencana Gempa dan Tsunami
Gempa Bumi Berdasarkan Kedalaman Episenternya
Dirgahayu Republik Indonesia