Workshop Peran Industri Minerba dalam Gerakan Pengurangan Risiko Bencana

Sebagaimana kita ketahui Indonesia berada dalam wilayah Ring of Fire (deretan gunung api). Pertemuan 3 lempeng tektonik besar (juga beberapa yang kecil) di Indonesia disebut para ahli geologi menghasilkan 80 sesar aktif di berbagai wilayah di Indonesia. Gempa dan tsunami Aceh di tahun 2004 lalu adalah salah satu yang diakibatkan oleh sesar aktif. Meski demikian catatan BNPB menyebut, bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan kebakaran hutan. Semua bencana ini membuat kerugian ekonomi sebesar 30 triliun per tahun.

Pertemuan lempeng tektonik rupanya memberikan berkah bagi Indonesia. Di wilayah sesar aktif tersimpan berbagai sumber daya mineral yang berlimpah. Di tempat ini pula berbagai perusahaan tambang mineral beroperasi. Kegiatan tambang ini mengandung risiko seperti longsor, terowongan runtuh, pencemaran lingkungan dan lain-lain, sehingga perusahaan tambang umumnya siap dengan bencana lokal yang muncul karena kegiatan mereka sendiri. Meski demikian perusahaan tambang juga memiliki kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bencana geologis di wilayahnya, karena kegiatan penambangan melibatkan ahli-ahli geologi.

Perkumpulan SKALA, bersama dengan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Aksi Cepat Tanggap (ACT), Platform Nasional PRB, serta DisasterChannel.co tanggal 9 Maret lalu mengadakan sebuah workshop untuk membahas Peran Industri Minerba dalam Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Trinirmalaningrum yang juga menjabat sebagai sekjen Platform Nasional memaparkan dalam workshop ini, bahwa workshop ini juga bertujuan mengajak industri minerba untuk terlibat dalam sebuah kegiatan sosialisasi keberadaan Sesar Palu-Koro di wilayah Sulawesi Tengah yang membentang dari Teluk Palu hingga Teluk Bone. Kegiatan sosialisasi ini sudah dirancang dalam bentuk sebuah ekspedisi yang diberinama Ekspedisi Palu-Koro.

Trinirmalaningrum juga menambahkan Ekspedisi Palu-Koro akan menghasilkan sejumlah documentary yang akan ditayangkan di televisi. Format documentary-nya tentu bersifat menghibur, namun diselipkan edukasi tentang Sesar Palu-Koro dan potensi bencana apa yang dikandung wilayah ini serta bagaimana mengurangi dampaknya. Documentary ini diharapkan dapat menggugah kesadaran banyak orang terutama para pengambil keputusan dan aktivis gerakan PRB untuk mengurangi dampak bencana di wilayah itu dan wilayah lainnya di Indonesia.

Selain documentary juga ada serangkaian pameran foto dan diskusi atau seminar yang akan diselenggarakan setelah ekspedisi selesai dilaksanakan. Berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan setelah ekspedisi diharapkan akan menciptakan gaung yang lebih panjang.

Menjadi pembicara dalam workshop ini antara lain, Harry Seldadyo dari SMERU Research Institute, Muhammad Hendrasto dari ESDM, Sukmandaru dari IAGI, Trinirmalaningrum dari Platform Nasional dan Perkumpulan SKALA, PT Freeport Indonesia dan J. Resources, serta Kemenko Maritim.

Workshop dibuka oleh Syuhelmaidi Syukur dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) dengan memaparkan kiprah ACT selama ini dalam respon terhadap bencana di berbagai wilayah. ACT sudah bergerak untuk kemanusiaan dalam skala nasional maupun internasional yang dimulai sejak tsunami 2004. Syuhelmaidi menyampaikan bahwa ACT juga antusias dalam gerakan PRB atau untuk mencegah bencana. Dari sisi masyarakat kita harus memberikan edukasi, agar paham dengan apa yg harus dilakukan untuk mengurangi atau menanggulangi bencana. Dalam Hyugo Framework, bencana adalah urusan kita semua. Dikuatkan dalam Sendai framework dimana lembaga usaha harus telibat dalam penanganan bencana.

Sutopo Purwo Nugroho dari BNPB yang ikut memberi sambutan menyampaikan, bahwa BNPB mendukung kegiatan seperti ini. Indonesia memiliki cadangan tambang yang besar, namun dibalik itu semua, data bencana di indonesia juga sangat besar, menurut Sutopo. Meski demikian lebih dari 95% bencana terjadi adalah bencana hidrometeorologi yang juga membutuhkan dukungan dari ahli geologi dan industri minerba untuk mengurangi dampak bencana.

Harry Seldadyo memberi kritik pada industri minerba, karena menurutnya kurang memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan kapasitas manusia. Misalnya disebut oleh Harry, bahw di wilayah minerba kemiskinan tetap berlangsung. Seorang peserta workshop menjawab kritik ini dengan menjelaskan bahwa industri minerba tidak secara langsung memberikan sumbangannya pada wilayah sekitar, karena kewajiban minerba tetap dipenuhi kepada pemerintah, seperti membayar pajak dan meminimalkan dampak dari kegiatan minerba di wilayah itu.

Budi Santoso (J. Resources) menyampaikan peta bencana geologis otomatis dibuat oleh perusahaan minerba, karena ahli geologi bekerja di sana. Apalagi perusahaan minerba mengubah bentang alam yang bisa mengakibatkan bencana. Oleh karena itu perusahaan minerba juga menguasai PRB di wilayahnya yang tentu saja dapat dimanfaatkan untuk gerakan PRB di wilayah itu dan sekitarnya.

Iwan Setiawan dari PT Freeport Indonesia banyak menjelaskan soal SOP bencana di wilayah operasional mereka. PTFI juga membuat peta potensi bencana dengan menggunakan beberapa teknologi modern seperti In SAR untuk pemetaan lewat satelit yang bisa melihat pergerakan tanah. Apa yang sudah dilakukan oleh PTFI dapat digunakan untuk pengembangan program PRB di wilayah sekitar yang lebih luas. Seorang peserta workshop bertanya tentang keterlibatan PTFI dalam gerakan PRB yang lebih luas atau di bahagian lain dari Indonesia yang dijawab oleh Iwan, bahwa PTFI memiliki program CSR yang sudah banyak terlibat dan mengembangkan wilayah di mana PTFI beroperasi dan membuka kemungkinan untuk terlibat dalam gerakan PRB yang lebih luas.

Kemenko bidang maritim menyampaikan bahwa investasi lebih banyak ditanam di pulau Jawa, yaitu lebih besar dari 50%. Sisanya ditanam dan tersebar di kawasan lain. Ada masih banyak kawasan minerba di luar pulau Jawa yang akan menarik investasi yang lebih banyak lagi di masa mendatang. Salah satu kawasan industri minerba berada di wilayah Sesar Palu-Koro, yaitu di kawasan industri Morowali yang menjadi salah satu dari 14 kawasan industri prioritas Indonesia. Di kawasan ini akan dibangun berbagai infrastruktur yang menunjang industri minerba, termasuk bandara dan supply air bersih. Pengembangan kawasan lain di luar pulau Jawa tentu membutuhkan perhatian kita semua, karena sebagian wilayah itu adalah wilayah bencana.

Sukmandaru dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia memaparkan dasar-dasar geologi yang berkaitan dengan gerakan PRB. Dalam presentasinya, Geologi dibagi menjadi 4 topik besar, yaitu: 1. georesources, 2. geohazard, 3. geoengineering, 4. geoenvironment. Empat topik besar ini menggambarkan kaitan antara industri minerba dengan gerakan PRB. Sukmandaru memaparkan juga bahwa kontribusi Industri Tambang itu antara lain: 1. Ke-ahlian untuk Geologi Eksplorasi, Geologi Teknik, Geologi Tambang yang semua itu bisa menghasilkan Pemetaan dan Evaluasi Potensi Bencana. 2. Dana yang dapat digunakan untuk mengembangkan Program Pengelolaan Lingkungan dan Pengembangan Masyarakat. Sukmandaru sangat berharap ada regulasi untuk keterlibatan industri minerba dalam PRB, karena industri minerga sangat berkaitan dengan geologi dan PRB.

Point of concerns yang dipaparkan oleh Sukmandaru dari IAGI

 

Sejalan dengan IAGI, Muhammad Hendrasto dari ESDM dalam presentasinya memaparkan tentang kegiatan penambangan yang mensyaratkan adanya kemampuan untuk mengatasi atau upaya pengurangan risiko bencana di lokasi penambangan. Sejak tahun 1995 sudah dikeluarkan Peraturan Menteri tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum. Bahkan di 2016 dikeluarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 6183 K/73/MEM/2016 Tentang Tim Energi dan Sumber Daya Mineral Siaga Bencana. Peraturan ini bertujuan untuk mengurangi dampak bencana saat terjadi bencana alam yang lingkup tugas Tim ESDM Siaga Bencana meliputi seluruh wilayah Indonesia yang terkena bencana. Sejak tahun 2006 Tim ESDM Siaga Bencana sudah terlibat dalam respon bencana di berbagai wilayah di Indonesia.

 

Salah satu point yang disampaikan ESDM dalam presentasinya.

 

 

Workshop ini adalah rangkaian dari workshop sebelumnya yang dilaksanakan bulan Agustus 2016 lalu yang lebih banyak membahas secara geologis mengenai wilayah Sulawesi Tengah yang dilalui oleh Sesar Palu-Koro. Selain potensi sumber daya alam dan potensi bencananya bahkan juga potensi wisata geologinya, dalam workshop tahun lalu itu juga dibahas topik lain seperti persoalan sosial, keindahan alam, flora dan fauna hingga catatan prasejarah di wilayah itu.

Workshop kedua kali ini membahas keterlibatan industri minerba dalam gerakan PRB dan secara khusus membahas tentang bagaimana industri minerba dapat terlibat dalam Ekspedisi Palu-Koro yang juga merupakan bagian dari gerakan PRB di wilayah Sulawesi Tengah.

Mengapa ekspedisi ini penting? Salah satunya adalah karena sebuah hasil riset di Jepang menunjukkan bahwa ada 3 faktor utama yang dapat menyelamatkan orang dari bencana, yaitu: 1. Kesiapsiagaan diri, 2. Bantuan dari keluarga, 3. Bantuan dari lingkungan (kampung, desa atau wilayah tempat terjadi bencana). Faktor lain, misalnya tim SAR hanya berperan sebesar kurang dari 10% saja. Sementara orang-orang yang selamat dari bencana adalah sebesar 90% lebih karena 3 faktor utama tersebut di atas.

Riset lain yang perlu dikedepankan adalah salah satu riset UNDP dan UNOCHA yang menemukan setiap 1 dollar yang diinvestasikan pada program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dapat mengurangi kerugian hingga 7 dollar saat terjadi bencana.

Gerakan PRB baru muncul di Indonesia sekitar 10 tahun terakhir ini. Belum banyak yang memahami dan ikut terlibat dalam gerakan ini, termasuk juga institusi pemerintah. Tahun ini (2017) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan mulai lebih aktif mengkampanyekan gerakan PRB ini melalui berbagai platform, termasuk melalui media sosial. Perkumpulan SKALA dan DisasterChannel.co terlibat secara aktif dalam kampanye ini. Konsep sudah dibuat, tinggal mematangkannya dan melaksanakannya segera.

 


Baca tulisan lainnya:
Ekspedisi Palu-Koro Akan Segera Dilaksanakan Bulan April 2017
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1)
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2)
Ekspedisi Palu-Koro dan Beberapa Aspek Unik Yang Mesti Dikedepankan.
POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO & TEKNOLOGI GPS
Waspadai Siklus Gempa pada Sesar Palu-Koro
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Wilayah Rawan Gempa Besar di Sulawesi
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Kerawanan Bencana Gempa dan Tsunami
Gempa Bumi Berdasarkan Kedalaman Episenternya
Dirgahayu Republik Indonesia


Sort by:   newest | oldest | most voted
trackback

[…] tulisan lainnya: Peran Industri Minerba untuk Pengurangan Risiko Bencana Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1) Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2) Ekspedisi Palu-Koro dan Beberapa […]

wpDiscuz