Saat Angin Kencang Menerpa Jakarta

Hari itu, tepatnya pukul 15.45, Senin, (19/12/2016) di Pasar Minggu, saat pulang dari agenda dari seorang teman, saya sengaja naik kereta untuk memantau keadaan kondisi cuaca selama menunggu. Saya menengok melalui jendela kereta, awan mulai gelap mendung, tapi tidak tampak seperti akan hujan deras. Tidak terlalu gelap dan masih ada sedikit cahaya.

Sekitar 20 menit setibanya di stasiun UI Depok, saya melihat ke langit lagi. Langit semakin gelap dan angin kencang mulai terasa dingin. Saya merasakan angin menerpa sejuk. Jarang saya dapat angin kencang seperti ini. Apakah ada tanda-tanda hujan besar? Tapi, saya lihat angin sampai bisa menggoyahkan motor yang akan saya kendarai di parkiran stasiun tersebut. Saya jadi was-was. Semoga aman terkendali, kata saya dalam hati. Segera saya pakai jaket motor untuk menutup dinginnya angin kencang. Saya berpikir dan berdoa, semoga sampai tujuan dengan baik-baik saja.

Setelah melewati gerbang parkir, angin kencang masih menerpa tubuh saya. Semakin dingin saja saat itu karena dalam kereta saja sudah kedinginan AC, ditambah lagi begitu sampai di luar, udara dipenuhi angin kencang. Saya melewati pertigaan keluar jalan besar, angin masih menerpa juga walau tidak sekencang di parkiran tadi. Saya memacu motor dengan kecepatan sedang menuju rumah.

Setelah 10 menit, akhirnya sampai di gerbang perumahan di mana terdapat satpam tengah siaga. Angin kencang masih terasa. Pertanda apa ya? Saya bertanya dalam hati. Hujan atau jangan-jangan angin puting beliung lagi? Semoga saja tidak, mengingat saya pernah melihat sendiri angin puting beliung ketika berada di kawasan Harapan Indah, Bekasi. Saat itu, saya melihat tempat sampah sampai terangkat oleh angin.

Setelah memasuki rumah, saya langsung ke lantai dua. Untuk berganti pakaian dan beristirahat sejenak. Saya pikir, kejadian angin kencang di Pasar Minggu akan seperti kejadian beberapa minggu sebelumnya yang mengakibatkan runtuhnya reklame dari jembatan stasiun Pasar Minggu. Saya merinding mengingat kejadian tersebut.

Di dalam kamar, masih ada angin kencang menerpa ketika saya membuka jendela. Gubrak! Jendela itu menghantam pinggiran tembok di sebelahnya. Saya kaget dengan angin yang masih mengikuti saya. Saya tidak tahu kecepatan angin itu berapa. Tetapi saya ingat namanya anemometer. Saya ingat alat itu sewaktu belajar IPA di sekolah dulu. Walaupun tidak tahu cara menggunakannya, tapi mengerti sedikitlah.

Saya pun mencoba mencari tahu soal bermacam angin kencang melalui Google. Informasi di bawah ini saya kutip dari link ini: http://studentforumid.blogspot.co.id/2012/11/angin-topan-plh.html (diakses pada 3/01/2017). Ternyata angin badai ada berbagai macam tipe.

Hurricane (angin ribut)

Angin ribut adalah badai berskala besar yang berkisar pada wilayah 100-1.000 mil. Angin ribut menghasilkan hujan dan kecepatan angin antara 74-160 mil per jam. Angin badai tipe ini memiliki putaran berlawanan arah jarum jam dan kerap menimbulkan hujan yang berpotensi banjir. Angin ini terjadi di Samudera Atlantik dan Pasifik bagian timur.

Typhoon (Angin Topan)

Serupa dengan angin ribut, angin topan memiliki karakter yang mirip, namun memiliki intensitas yang cenderung lebih besar karena terjadi di Samudera Pasifik bagian barat dengan lautan yang luas.

Tornado (Angin Puting Beliung)

Tornado merupakan badai lokal yang mempunyai diameter 50 m sampai lebih dari 1,5 mil. Sering muncul di Amerika Serikat saat udara dingin dari Kanada bertemu dengan udara hangat dari Meksiko. Angin ini dapat bertiup pada kecepatan 60-320 mil per jam dan menyebabkan lebih banyak kerusakan dibandingkan angin tipe lain. Tornado biasanya diikuti oleh hujan es dan petir. Angin puting beliung amat sulit diprediksi dan berdurasi pendek.

Di Indonesia, angin topan adalah yang paling sering terjadi atau kita sering juga menyebutnya dengan angin badai yang disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam sistem cuaca. Radius topan dapat menjangkau ratusan kilometer dengan kecepatan 20 km/jam.

Pada artikel yang sama, saya juga menemuka tips berupa strategi mitigasi dan upaya pengurangan bencana terkait badai. Rincian hal yang bisa kita lakukan, sebagaimana saya kutip pada sumber yang sama, antara lain:

  1. Membuat struktur bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk mampu bertahan terhadap gaya angin.
  2. Perlunya penerapan aturan standar bangunan yang memperhitungkan beban angin, khususnya di daerah yang rawan angin topan.
  3. Penempatan lokasi pembangunan fasilitas yang penting pada daerah yang terlindung dari serangan angin topan.
  4. Penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin.
  5. Pembuatan bangunan umum yang cukup luas yang dapat digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi orang maupun barang saat terjadi serangan angin topan.
  6. Pengamanan/perkuatan bagian-bagian yang mudah diterbangkan angin yang dapat membahayakan diri atau orang lain di
  7. Kesiapsiagaan dalam menghadapi angin topan, mengetahui bagaimana cara penyelamatan diri.
  8. Pengamanan barang-barang disekitar rumah agar terikat/dibangun secara kuat sehingga tidak diterbangkan angin.
  9. Untuk para nelayan, supaya menambatkan atau mengikat kuat kapal-kapalnya.

Linda Lestari

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz