Gubernur Mengajar, Sebuah Ikhtiar Untuk Hadapi Bencana

Bencana alam bisa datang kapan saja. Entah itu kodrat Illahi karena siklus alam, atau terjadi karena ulah manusia. Tinggal di daerah rawan bencana seperti Maluku, seharusnya kita punya kemampuan mitigasi dan tanggap menghadapi bencana.

Program Gubernur Mengajar yang dilaksanakan Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Provinsi Maluku dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku di Auditorium Kampus Unpatti pada 23 hingga 25 Januari 2017, diawali Lomba Mading antar SMA/SMK/MA se-Kota Ambon dengan tema “Manggurebe Kurangi Risiko Bencana di Maluku”, merupakan ikhitiar bersama untuk membangun kemampuan (capacity building) anak didik kita untuk bagaimana memahami dan mampu mengelola risiko bencana yang ada guna meminimalisir dampaknya.

Target dari kegiatan yang hanyalah menjadi entry point dari sejumlah rencana yang sudah disiapkan itu, semata-mata untuk mengadvokasi kebijakan di tingkat pemerintah, sekaligus mengedukasi generasi muda kita, khususnya yang masih duduk di bangku SMA untuk menjadi tanggap menghadapi bencana.

Secara geografis, posisi Indonesia (termasuk Maluku) sangatlah strategis berada di lintasan khatulistiwa yang secara klimatologis memiliki curah hujan yang tinggi, berada di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta diantara Benua Australia dan Benua Asia. Karena posisinya itu, hasil alam kita sangat melimpah, mulai dari darat, dalam laut, hingga perut bumi. Alam yang membawa berkah ini ternyata juga bisa mendatangkan bencana.

Maluku berada di daerah pertemuan tiga lempeng tektonik yang aktif (Australasia, Pasifik dan Eurasia), yang apabila bergesekan dapat menghasilkan energi yang berpotensi mengakibatkan gempa bumi, patahan tektonik, hingga tsunami. Bencana tsunami Aceh 26 Desember 2004 dengan korban jiwa lebih dari 200 ribu jiwa meninggal, seakan baru menghentak kita. Padahal, tsunami yang pernah melanda Maluku jauh lebih dahsyat.

Catatan tsunami tertua di Nusantara mengisahkan tentang peristiwa tsunami di Maluku. Seorang naturalis, Georg Everhard Rumphius, mencatat tentang kejadian gempa bumi disusul tsunami yang melanda Pulau Ambon, Seram dan pulau-pulau sekitarnya, pada 17 Februari 1674. Petaka itu bukan hanya menewaskan 2.322 orang di Pulau Ambon dan pulau-pulau sekitarnya, tetapi juga menewaskan istri Rumphius dan satu anak perempuannya.

Tsunami raksasa yang pernah melanda zona megathrust Laut Banda pada tahun 1674 itu, juga tercatat di dalam katalog tsunami Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional (NOAA) Amerika Serikat dan WinITB yang disusun para ahli Rusia, dengan ketinggian tsunami saat itu mencapai 80 meter.

Kita juga punya riwayat gempa yang mengakibatkan patahan tektonik hingga tsunami, terjadi di pantai selatan Seram, 29 Februari 1899. Peristiwa yang dikenang sebagai “Bahaya Seram” itu mengkibatkan 4000an orang tewas atau hilang, 500an orang terluka, dan desa Amahai hancur total akibat digulung ombak tinggi dan gempa bumi.

Cerita yang kemudian melegenda di masyarakat setempat bahwa di ujung tanjung Kuako (Amahai) dan semenanjung Elpaputith tadinya merupakan perkampungan yang saat ini sudah tenggelam. Tidak jauh dari Amahai (ke arah timur sekitar 10 kilometer) kita akan mendapati Negeri Rutah (Runtuhan Amahai), yang warganya berasal dari Amahai dan memilih mengungsi ke lokasi desa itu akibat kampung mereka sudah terendam air laut.

Kengerian ini bukan cerita mengada-ada dan berlebihan. Koran Australia, The Brisbane Courier, pernah menulis peristiwa itu pada edisi 1 Desember 1899 dengan judul ”Banyak Korban Tewas, Gempa Mematikan di Hindia Timur”. Ilmu pengetahuan modern mencatat, kejadian di Elpaputih sebagai amblesan dasar laut (patahan tektonik) yang disusul tsunami, sebagaimana dicatat Latief Hamzah, Nanang T. Puspito dan Fumihiko Imamura dalam Tsunami Catalog and Zones in Indonesia (2000).

Kita juga jangan sampai lupa. Desa Galala di Teluk Dalam Ambon pernah dihantam “Air Turun Naik” (tsunami) pada 8 Oktober 1952. Tak hanya Galala, Waelela dan Rumah Tiga yang berada di seberang (dipisahkan oleh Teluk Ambon) juga mengalami peristiwa serupa.

Menurut kesaksian beberapa saksi yang hingga kini masih hidup, saat itu air laut seakan mendidih, disusul semburan busa yang mengangkasa hingga ketinggian sekitar sepuluh meter. Musibah gempa dan tsunami yang masih menyimpan misteri itu, mengakibatkan aktivitas peribadatan jemaat Kristen di Galala lumpuh hingga enam tahun lamanya.

Pakar geologi dari Brigham Young University, Amerika Serikat, Prof. Ronald Albert Harris, yang pernah memprediksi gempa dan tsunami Sumatera (Aceh), mengatakan, dari hasil penelitiannya terungkap sebanyak 23 gempa besar pernah terjadi di Maluku, dan sebagian gempa itu mengakibatkan tsunami.

Sejarah mencatat, tahun 1629 terjadi tsunami di sekitar Laut Banda dengan ketinggian sekitar 15 meter, disusul peristiwa tsunami hebat tahun 1674 dengan ketinggian mencapai 80 meter. Tahun 1852, tsunami dengan ketinggian 10 meter, dan tahun 1979 tsunami dengan ketinggian sekitar 10 meter.

Data lain menunjukkan bahwa pada periode tahun 1600-2000, telah terjadi 32 kali bencana tsunami di Maluku, dimana 28 tsunami disebabkan oleh gempa bumi, dan empat tsunami disebabkan akibat meletusnya gunung api di bawah laut. Harris adalah peneliti yang meramalkan terjadinya gempa di Sumatera, yang akhirnya melanda Aceh, tahun 2004. Dalam risetnya tentang patahan Sumatera, ia mengingatkan dalam papernya tahun 1997 ”Akan ada bencana besar di Sumatera karena adanya patahan aktif”.

Terlepas dari perdebatan soal hasil penelitian Harris yang juga meramalkan akan ada “the next Aceh di Maluku”, dimana peneliti Tsunami Research Center, Hamzah Latif, mengatakan informasi yang dirilis Harris tidak didukung data yang sahih, namun sebagai orang yang tinggal di Maluku, kita sekiranya harus ikhtiar dengan memiliki pengetahuan dan kemampuan tentang mitigasi bencana. Toh, ketika bencana itu mau datang dia tidak pernah memberi kabar. Bencana alam adalah keniscahyaan. Sudah kodrati, dan menjadi siklus alam.

Selain itu, kita juga tinggal di jalur ”The Pacifik Ring of Fire” (Cincin Api Pasifik) yang merupakan rangkaian jalur gunung api aktif di dunia. Berdasarkan data Global Volcanism Program, sedikitnya ada sembilan gunung api aktif yang berada di dalam wilayah Maluku, yakni Gunung Api Banda, Manuk, Serua, Nila, Teon, Wurlali, Gunung Api Wetar, Niewerkerk dan Emperor of China. Dua gunung terakhir ini berada di bawah laut.

Selain bencana tektonik dan vulkanik yang sudah menjadi rahasia alam, serta tidak bisa diprediksi dan dihindari, bencana hidrometeorologi yang banyak disebabkan akibat ulah manusia juga mengancam kehidupan kita saat ini. Meningkatnya aktivitas manusia, membuat kerusakan lingkungan semakin parah dan memicu terjadinya intensitas bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB) mencatat, dari tahun 2002 hingga 2005, trend bencana di Indonesia meningkat dan 95 persennya merupakan bencana hirdometeorologi seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, cuaca ekstrim dan kekeringan.

Selama tahun 2016 saja, telah terjadi sekitar 1700 kejadian bencana, dengan korban jiwa lebih dari 400 jiwa, dan lebih dari 2 juta penduduk menderita karena menjadi pengungsi. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan, tingginya angka kejadian bencana di Indonesia juga diakibatkan oleh berubahnya pola iklim yang diperparah oleh aktivitas manusia, kerusakan ekosistem, serta produksi karbon yang menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan hidup.

Mempertimbangkan segala potensi bencana yang kemungkinan terjadi kapan saja, maka siklus penanggulangan bencana perlu dilakukan secara utuh, dimulai dengan mengupayakan kesiapsiagaan dini melalui kampanye dampak perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. Upaya ini dilakukan, salah satunya melalui peningkatan kapasitas siswa sebagai agen perubahan dalam rangka mendukung pelestarian lingkungan yang berujung pada pengurangan risiko dan potensi ancaman.

Sebagaimana target dari Forum PRB Provinsi Maluku selanjutnya, semoga ikhtiar yang sudah dilakukan sebagai langkah awal ini dapat ditindaklanjuti secara serius kedalam ranah pendidikan agar adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana mencapai sasaran yang jauh lebih luas.

Mari kita perkenalkan kepada seluruh guru dan peserta didik, dengan cara mengintegrasikan informasi ini kedalam kurikulum sekolah, minimal menjadi bagian dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Di hadapan ribuan siswa dan guru, Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaff tegas menyatakan dukungannya. Semoga !!!!

M. AZIS TUNNY
Anggota Forum PRB Provinsi Maluku/Ketua Panitia Gubernur Mengajar 2017

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz