Workshop Jurnalisme Bencana Bersama Pemuda

Melihatnya pentingnya peran dan partisipasi pemuda dalam hal pengelolaan bencana, Perkumpulan SKALA (SKALA) bersama DisasterChannel.co, Open Data Labs, dan Planas PRB (Pengurangan Risiko Bencana) menyelanggarakan workshop jurnalistik bagi para pemuda selama dua hari dengan tema “Jurnalisme Bencana Berbasis Data” di Jakarta pada Rabu, 09 November dan Senin, 14 November 2016 di Jakarta.

Bagaimana ketika pemuda terlibat dalam upaya PRB? Pertanyaan tersebut kerap menjadi pertimbangan yang seringkali dipertanyakan banyak pihak, termasuk para senior penggiat bencana, ketika berbicara tentang peran dan partisipasi pemuda. Pertanyaan selanjutnya – yang justru terkesan agak pesimis – bisa saja muncul: seberapa sukses PRB bisa dicapai jika melibatkan pemuda?

Tentu saja menjadi amat tidak relevan untuk mempertanyakan hasil dari keterlibatan pemuda dalam kerja-kerja PRB. Lebih lagi menimbang-nimbang kesuksesan sebuah program atau kegiatan jika hendak mengajak pemuda untuk bergabung. Anak muda adalah bagian penting dari setiap perencanaan maupun proses. Mereka merupakan kelompok yang tak mungkin untuk tidak dilibatkan ketika kita berbicara tentang keberlanjutan. Saat ini, mereka-lah kelompok dengan porsi yang cukup besar, yaitu berjumlah 62,4 juta orang atau sekitar 25% dari populasi penduduk Indonesia. Pulau Jawa menjadi kawasan dengan persentasi tertinggi yang mencapai lebih dari 57%. Jakarta sendiri memiliki 23% peduduk yang tergolong usia muda. (BPS, 2015)

SKALA melihat poin strategis itu. Apalagi pada era sekarang, anak muda sekaligus menjadi kelompok paling aktif pengguna Internet dan media sosial, salah satu saluran penting dalam kampanye saat ini. Maka pertanyaan perlu kita ubah, bukan menimbang lagi seberapa perlu pemuda dilibatkan, melainkan bagaimana kita berupaya meningkatkan kapasitas mereka agar bisa berpartisipasi lebih jauh pada dampak-dampak jangka panjang yang berkelanjutan.

Itulah alasan SKALA untuk memulainya melalui dukungan peningkatan kapasitas bagi pemuda. Selama dua hari pada dua pekan lalu, kami memperkuat kemitraan dengan kelompok pemuda melalui pelatihan jurnalistik bertajuk “Jurnalisme Bencana Berbasis Data.” Kami melihat bahwa pemuda akan dapat berperan dan berpartisipasi secara optimal jika diberikan dukungan dan akses, salah satunya adalah dengan meningkatkan kapasitas mereka, khususnya terhadap bidang jurnalistik dan data.

Hadir sebagai mentor pada workshop, antara lain Trinirmalaningrum, Sekjen Planas PRB dan Direktur Eksekutif SKALA; Antya Widita dari Open Data Labs Jakarta; Yosep Suprayogi dari TEMPO; dan Damar Juniarto dari Forum Demokrasi Digital. Keempat narasumber masing-masing menyajikan materi sesuai bidangnya, mulai dari pemahaman pada tren dan isu kebencanaan, open data, teknik menulis, hingga komunikasi di era digital. Sekitar lebih dari 20 pemuda mewakili berbagai kampus dan organisasi kepemudaaan, ikut berpartisipasi dalam pelatihan tersebut.

Tema “Jurnalisme Bencana Berbasis Data” dipilih bukan sekadar untuk memotivasi peserta memiliki engagement yang kuat pada media massa saja, melainkan mendorong mereka untuk mulai menulis topik bencana serta pemahaman dan pemanfaatan akan pentingnya menulis berdasarkan pada data bencana. Sebab, pemuda bisa jadi media itu sendiri. Mereka juga punya peran penting untuk memproduksi karya jurnalistik.

“Rangkaian workshop jurnalistik ini benar-benar memberikan wawasan baru tentang bagaimana caranya menulis berita tentang bencana yang baik dan benar serta berbasis data,” ungkap Fajar Shidiq dari Universitas Pertahanan.

Menurutnya, tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh para pemuda, penting untuk memberikan masyarakat informasi mengenai peristiwa atau kejadian bencana yang ada di sekeliling.

Mahasiswa yang juga adalah koordinator Indonesian Youth on DRR – sebuah forum pemuda yang bekerja untuk isu PRB – itu berkomentar: “Setidaknya masyarakat mendapatkan alternatif berita yang berimbang dan valid terhadap isu yang umumnya kurang ter-blow up oleh media massa besar, khususnya isu bencana.”

Usai mengikuti pelatihan, para peserta masih akan terus difasilitasi untuk bisa terus berlatih dan mengasah kemampuan menulis bersama-sama. Sebagian besar mereka memang adalah pemula. Maka, bukan hanya karya yang menjadi bernilai setelahnya, melainkan sebuah proses pembelajaran untuk menyertakan pemuda pada gerbong yang sama dalam upaya mengurangi kerugian dan dampak buruk risiko bencana.

Nurdiyansah Dalidjo

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz