Siapa yang Tidak Belajar dari Kebakaran Glodok?

Glodok sebagai pusat perdagangan elektronik terkenal dengan segala pesonanya, menggoda siapa saja untuk menghabiskan isi dompet. Salah satu pesona itu adalah preferensi harga. Jika Anda membandingkan harga jual di tempat lain, barang dagangan di sana jauh lebih murah untuk Anda bawa pulang. Maka, Glodok tidak pernah sepi pengunjung. Mereka yang datang berkunjung pun tidak hanya dari Jakarta, mereka juga datang dari luar ibukota. Begitu menggodanya Glodok sebagai tempat belanja barang elektronik.

Tetapi, terlepas dari itu semua, Glodok pula terkenal sebagai pertokoan yang sering mengalami kebakaran. Akibatnya, ada banyak pemilik kios menanggung rugi. Menurut data yang dikeluargkan oleh data.jakarta.go.id, kebakaran sering terjadi karena korsleting listrik.

Sebut saja kejadian kebakaran pada 2012 yang menghanguskan 26 toko di lantai 3 seperti yang diwartakan viva.co.id. Kejadian itu pun memaksa 29 mobil pemadam kebakaran untuk memadamkan Si Jago Merah.

Kejadian kebakaran yang terbaru di Glodok terjadi pada Rabu, 2 Maret 2016. Saat kejadian berlangsung, saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri dan merekamnya dengan handycam. Kebakaran itu menghanguskan beberapa toko di sekitarnya. Belum diketahui pasti berapa kerugian yang ditaksir. Kejadian tersebut diduga terjadi karena lagi-lagi konsleting listik. Saat kejadian, jalan ke arah Gajah Mada dari Kota, tersendat parah.

Melihat hal di atas, ada beberapa hal yang harusnya kita pelajari bersama agar hal tersebut jangan terus terulang. Seperti kita tidak pernah belajar dari masa lalu. Seharusnya semua pihak saling bersinergi dalam menanggulangi bencana tersebut, termasuk lewat himbauan dan bagaimana cara membuat listrik agar tidak korslet.

Jangan sampai justru hal-hal sepele, seperti himbauan yang terkadang sering kita abaikan, malah menjadi bumerang bagi kita semua.

Afsokhi Abdullah

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz