Ekspedisi Palu Koro (Bagian 2)

Lihat Ekspedisi Palu Koro (Bagian 1)

Gempa kembali menghantam Indonesia dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian yang tidak sedikit. Kali ini Aceh yang dihantam setelah sebelumnya di tahun 2004 sudah tertimpa bencana gempa besar dan tsunami. Menurut sebuah seminar ahli geologi di Jakarta pada tahun 2014, ada 80 sesar aktif di Indonesia. Itu berarti ada 80 wilayah yang rawan gempa di Indonesia. Kapan gempa berikutnya dan di mana? Para ahli geologi pun tidak bisa memberikan prediksi yang akurat tentang itu.

Perkumpulan Skala dan IAGI Agustus lalu sudah mengadakan workshop tentang Ekspedisi Palu-Koro. Ekspedisi ini untuk mengekspos keindahan, kekayaan alam dan budaya di balik potensi bencana gempa dan tsunami di wilayah Sulawesi Tengah. Workshop ini juga didukung oleh Platform Nasional dan DisasterChannel.co. Hasil dari workshop ini ditulis dalam 2 tulisan di majalah Berita IAGI oleh Anif Punto Utomo, pemred Berita IAGI. DisasterChannel mempost 2 tulisan itu di sini mengingat pentingnya isi dari tulisan itu.

 

Sulawesi: Kerumitan berbuah Keunikan

Bagi seorang geolog, Sulawesi merupakan pulau yang menantang. Proses geologi yang sangat komplek dan rumit telah membentuk pulau yang menyerupai huruf K. Secara kasat mata, bentuk pulau tersebut jauh berbeda dibandingkan dengan empat pulau besar lain yang menghuni nusantara, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Papua.

Setidaknya ada lima hal yang membuat pulau di tengah Zona Wallacea itu penuh dengan keunikan. Sebagian terkait langsung dengan proses geologi yang terjadi sejak puluhan juta tahun lalu sampai sekarang, sebagian yang lain akibat tidak langsung dari proses geologi yang membentuk pulau tersebut.

Keunikan pertama yang menjadi sumber dari keunikan yang lain adalah proses pembentukan Sulawesi sehingga membentuk pulau seperti huruf K. Terbentuknya pulau dengan empat lengan tersebut terjadi  karena bergabungnya gabungan dari empat pulau ‘mengapung’ yang saling bertumbukan dan kemudian menjadi satu.

Di dalam bisnis dikenal istilah merger atau penggabungan, yakni dua atau lebih perusahaan digabungkan menjadi satu. Istilah merger tampaknya tepat untuk dianalogikan di Sulawesi, karena pada dasarnya pulau tersebut adalah hasil merger dari empat pulau yang dibawa oleh tiga lempeng besar yaitu  lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik, serta lempeng Filipina yang lebih kecil.

Dari rekonstruksi terbentuknya pulau Sulawesi yang dibuat oleh Robert Hall sejak 55 juta tahun lalu, terlihat jelas bagaimana masing-masing lempeng-lempeng tersebut saling bergerak ‘membawa’ pulau. Sekilas tampak pulau-pulau tersebut seperti mengapung di lautan, bergerak menuju satu arah sampai akhirnya apungan pulau tersebut bertemu dan membentuk pulau besar bernama Sulawesi. (PPt Robert Hall)

Pergerakan lempeng yang mengangkut pulau tersebut memperlihatkan bahwa Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah utara, lempeng Pasifik bergerak ke arah barat dan lempeng Eurasia yang bergerak ke arah selatan-tenggara, serta lempeng Filipina dari utara ke selatan. Sampai sekarang pergerakan lempeng tersebut masih terjadi dengan kecepatan sekitar 3-7 cm per tahun.

 

Di buku ‘Geologi Sulawesi’ karya Armstrong F Somputan ditulis proses tumbukan keempat lempeng menyebabkan Sulawesi memiliki empat buah lengan dengan proses tektonik berbeda-beda yang membentuk satu kesatuan mosaik geologi. Kondisi tektonik sangat komplek, begitu pula dengan geologinya.

Proses tektonik itu juga menyebabkan terbentuknya sesar yang merobek-robek Sulawesi. Inilah keunikan kedua, yakni terjadinya sesar yang malang melintang. Sesar terbesar adalah  sesar Palu Koro, kemudian ada sesar Poso, sesar Matano, sesar Lawanopo, sesar Walanae, sesar Gorontalo, sesar Batui, sesar Tolo, dan sesar Makassar.

Sesar yang merobek-robek Sulawesi masih aktif hingga sekarang sehingga potensi terjadi gempa sangat tinggi. Danny Hilman, geolog dari LIPI dalam presentasinya di workshop Palu Koro, memaparkan bahwa rambatan gempa yang diakibatkan sesar Palu Koro dan sesar Matano berada pada level tinggi, yakni dengan akselerasi gravitasi 0,6 G. ‘’Kalau 0,6 G sudah parah,’’ kata Danny.

Danny Hilman

Sejarah gempa menunjukkan bahwa gempa besar pernah terjadi di Sulawesi, termasuk gempa darat yang diakibatkan oleh sesar Palu Koro. Pada 1828 misalnya, sesar Palu Koro memproduksi gempa dengan kekuatan 7,9 SR dengan korban meninggal cukup banyak.  Gempa darat terbesar yang disebabkan sesar Semangko di Sumatera berkekuatan  7,7 SR.

Berdasarkan studi paleoseismologi yang dilakukan Mudrik Daryono, di Sulawesi Tengah terjadi siklus gempa besar adalah 130 tahun. Pada tahun 1907 terjadi gempa yang bersumber dari retakan sesar yang berarah tegak lurus Sesar Palu Koro sekitar Kulawi hingga Lindu. Dua tahun berikutnya, terjadi gempa bumi 1909 yang bersumber dari sesar utama Palu Koro dengan kekuatan lebih besar yang menghancurkan seluruh rumah.

Mudrik Daryono

Kemudian pada 2012 silam terjadi gempa di wilayah yang hampir sama dengan karakteristik gempa identik dengan gempabumi 1907. Jika siklus berulang, dimana gempa pertama akan disusul oleh gempa kedua yang jauh lebih besar dengan jarak dua tahun, berarti kawasan Sulawesi tengah terancam gempa berkekuatan besar di atas 7 SR dalam waktu tidak lama lagi. Ini yang harus diwaspadai.

Ancaman gempa besar di Sulawesi juga akan terjadi di bagian utara pada daerah antara Sulawesi dan Filipina dimana di wilayah itu terjadi megatrust yang memanjang sejauh 1.000 km. ‘’Di situ berpotensi gempa di atas 9 SR,’’ kata Danny. Dan karena gempa tersebut akan terjadi di laut, maka ancaman terjadinya tsunami juga perlu diwaspadai.

Keunikan ketiga, struktur dan stratigrafi yang sangat rumit karena terdiri atas berbagai batuan yang bercampur aduk hasil tabrakan dari empat lempeng sehingga menciptakan beragam litotektonik. Berdasarkan struktur litotektonik, Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya dibagi menjadi empat, yaitu Mandala barat (West and North Sulawesi Volcano-Plutonic Arc), Mandala tengah (Central Sulawesi Metamorphic Belt),  Mandala timur (East Sulawesi Ophiolite Belt), dan Fragmen Benua Banggai-Sula-Tukang Besi.

Keunikan tersebut semakin tampak di wilayah yang terkait dengan sesar Palu Koro. Menurut Ade Kadarusman yang sudah 20 tahun meneliti daerah tersebut, di daerah Palu Koro terdapat campuran batuan mantel dan kerak benua di pegunungan yang relatif muda. Selain itu juga terdapat batuan dari rentang waktu yang sangat lebar.

‘’Kita temukan batuan yang asalnya dari kedalaman 120 km muncul di permukaan. Di situ pula tercampur batuan yang berumur 1 miliar tahun sampai 2 juta tahun, bahkan dating yang dilakukan sebuah perusahaan ada yang berumur 3,5 miliar tahun,’’ kata Ade.

Di sepanjang sesar Palu Koro juga terjadi pembentukan multiple magma generation yang terus terjadi sampai sekarang. Jadi tak perlu heran jika di sepanjang jalur sesar terdapat seri batuan yang berbeda generasi, karena pembentukan batuan tersebut terjadi secara beruntun dalam kurun waktu yang berbeda.

Ade Kadarusman

Menurut Ade, daerah itu juga memiliki ultra high pressure, batuan hasil tekanan tinggi yang berasosiasi dengan intan (dengan catatan intan di sini berbeda dengan intan di Afrika) dan kuarsa. Tekanannya mencapai 100 kilo bar atau setara dengan kedalaman 100 kilometer. Batuan tersebut juga terangkat ke permukaan.

Bagaimana batuan dalam itu terangkat ke permukaan? Jawabnya karena sesar Palu Koro merupakan sesar dalam dengan kedalaman sampai lower mantel. Proses pergeseran pada sesar dalam inilah yang pada akhirnya mengangkat batuan tua dan dalam ke permukaan. ‘’Ada batuan yang usianya 27 juta tahun dan berkedalaman 120 km muncul di permukaan, jadi bisa kita hitung, setiap 1 juta tahun naik 4,5 kilometer ke permukaan,’’ kata Ade.

Keunikan keempat adalah percampuran fauna yang menjadikan fauna di Sulawesi sangat variatif. Penelitian yang dilakukan ahli biogeografi Alfred Russel Wallace pada 1857, menemukan fakta bahwa fauna di Sulawesi sangat  mirip fauna Asia/oriental, sebagian lagi mirip fauna Australia, dan fauna transisi yang menjadi khas (endemik) fauna Sulawesi.

Wallace punya kecurigaan bahwa keunikan fauna di Sulawesi tak lepas dari peristiwa geologi yang membentuk pulau tersebut. Dan beberapa tahun kemudian kecurigaan tersebut terbukti dengan adanya teori pergerakan lempeng yang menggambarkan tentang penyatuan empat kepingan  dari Sundaland, Australia, dan Pasifik menjadi Sulawesi.

Keunikan kelima adalah ditemukannya peninggalan megalitik di Sulawesi Tengah. ‘’Patung itu terbuat dari batu granit yang keras, dan dibuat dengan halus. Ini luar biasa,’’ kata Danny. Patung itu berupa patung manusia (kepala, bahu, dan kelamin), kalamba (jambangan besar), piringan (tutu’na), batu-batu cembung (batu dakon), mortir batu, dan tiang penyangga rumah yang berbeda-beda bentuknya. Penyebarannya ada di lembah Bada, Besoa, dan Napu.

Beberapa bentuk megatitik tersebut berdasarkan pengamatan Danny mirip dengan megalitik yang terdapat di Gobekli Tepe, Turki dan di Easter Island, sebuah pulau di lautan Pasific selatan yang masuk di wilayah terotorial Chili. Kemiripan tersebut salah satunya bisa dilihat dari patung manusia dengan kedua tangan yang diletakkan di perut dan juga patung binatang. ‘’Apakah ada hubungannya? Itu yang masih misteri,’’ kata Danny.

Begitulah Sulawesi. Pulau hasil merger  tersebut, selain rumit dan unik, rupanya juga menyimpan misteri. Itulah kenapa ekspedisi Palu Koro penting untuk direalisasikan.@ Anif Punto Utomo


 

Untuk informasi yang lebih lengkap silahkah kunjungi situs Ekspedisi Palu-Koro di sini: http://ekspedisipalukoro.co


Baca tulisan lainnya:
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1)
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2)
Ekspedisi Palu-Koro Akan Segera Dilaksanakan Bulan April 2017
POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO & TEKNOLOGI GPS
Waspadai Siklus Gempa pada Sesar Palu-Koro
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Wilayah Rawan Gempa Besar di Sulawesi
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Kerawanan Bencana Gempa dan Tsunami
Gempa Bumi Berdasarkan Kedalaman Episenternya
Dirgahayu Republik Indonesia

 

 

Leave a Reply

4 Comments on "Ekspedisi Palu Koro (Bagian 2)"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
trackback

[…] Ekspedisi Palu-Koro Akan Segera Dilaksanakan Bulan April 2017 Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1) Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2) Ekspedisi Palu-Koro dan Beberapa Aspek Unik Yang Mesti Dikedepankan. POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR […]

trackback

[…] tulisan lainnya: Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1) Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2) Ekspedisi Palu-Koro Akan Segera Dilaksanakan Bulan April 2017 POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO […]

trackback

[…] tulisan lainnya: Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1) Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2) Ekspedisi Palu-Koro Akan Segera Dilaksanakan Bulan April 2017 POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO […]

trackback

[…] tulisan lainnya: Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1) Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2) Ekspedisi Palu-Koro Akan Segera Dilaksanakan Bulan April 2017 POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO […]

wpDiscuz