Ekspedisi Palu-Koro, Gempa, Tsunami dan Berkah yang diberikan Sebuah Sesar

Seperti kita ketahui Indonesia adalah negeri yang sudah kerap mengalami bencana dan terus terancam bencana. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya pertemuan setidaknya tiga lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasific yang terus bergerak dan menimbulkan gempa dan tsunami di beberapa wilayah tertentu. Pergesekan dan tumbukan dua lempeng tektonik ini disebut oleh ahli geologi menghasilkan Sesar atau Patahan. Aktifitas sesar ini juga mempengaruhi aktivitas gunung berapi yang berarti juga adanya ancaman gunung meletus.

Sejauh ini kita lebih banyak menyoroti sesar aktif Semangko yang berada di Sumatra. Sekarang Sesar Palu-Koro yang berada di Sulawesi mulai banyak dibicarakan para ahli. Dua sesar ini terus diamati oleh para ahli geologi seluruh dunia, juga para ahli manajemen bencana atau para aktivis Pengurangan Risiko Bencana. Bahkan, sebuah seminar para ahli geologi dan bencana di Jakarta pada tahun 2014 lalu menghasilkan peringatan, bahwa ada 80 Sesar Aktif di Indonesia. Setiap sesar bisa menghasilkan gempa yang para ahli belum bisa memprediksi secara tepat kapan munculnya, padahal gempa itu bisa kecil dan bisa besar. Para ahli hanya bisa mengamati siklusnya saja.

Meski demikian, dibalik sejarah panjang dan ancaman bencana itu, pertemuan lempeng tektonik tadi juga sekaligus menghasilkan sumber daya alam (tambang mineral) dan energi. Ancaman bencana gempa bumi memang dibalut dengan keindahan alam, keanekaragaman hayati, sekaligus kekayaan budaya manusia yang hidup di atasnya.

Di wilayah sesar ini juga ditemukan satu keunikan di antara berbagai keunikan, yaitu berbagai artefak berusia 2500-4000 tahun. Berbagai artefak yang terbuat dari batu granit yang sangat keras ini terserak di wilayah yang luas, yaitu setidaknya di 3 lembah: Bada, Gimpu dan Besoa. Ada lebih dari 1000 artefak tersebar di wilayah ini. Salah satu artefak ini berbentuk silinder dan oleh para arkeologi disebut Kalamba  (untuk menaruh jenazah).

Kalamba juga ditemukan di Vietnam. Misteri dari artefak ini adalah sumber batunya tidak ditemukan di sekitar tempat artefak ini ditemukan. Entah dari mana diambil. Para arkeolog bersama dengan ahli geologi masih terus melakukan penelitian soal ini. Media Kompas dan peneliti lain juga pernah melakukan penelitian di wilayah ini dan menemukan jejak peradaban manusia yang paling tua berada di wilayah Sulawesi Tengah.

Perpaduan dua hal yang bertolak-belakang itu tentu menarik untuk diangkat menjadi sebuah film dokumenter untuk acara TV, pameran foto, penulisan buku serta seminar. Apalagi jika dikaitkan dengan program Pengurangan Resiko Bencana (PRB) yang mulai digalakkan di Indonesia sejak lebih dari 1 dekade terakhir ini. Terlebih lagi, kebanyakan acara TV dokumenter di Indonesia masih terfokus pada keindahan alam dan budayanya saja, belum menonjolkan aspek geologi dan ancaman bencananya.

Berdasarkan latar belakang itu, kami dari Perkumpulan SKALA, Platform Nasional, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Aksi Cepat Tanggap (ACT), DisasterChannel.co, BPPT, Kementrian Maritim, BNPB serta Metro TV telah bersinergi untuk meluncurkan sebuah ekspedisi yang berkaitan dengan hal di atas. Secara khusus, ekspedisi ini akan menyusuri Sesar Palu-Koro yang membentang mulai dari Teluk Palu, Lembah Palu, Lembah Koro sampai ke Teluk Bone. Sesar Palu-Koro ini melewati beberapa wilayah yang kaya akan sumber daya alam, energi, budaya serta keindahan alam yang dilengkapi dengan keanekaragaman flora dan fauna. Bahkan sesar ini  juga berada di sekitar situs megalitik di Lembah Bada masih terus diteliti oleh para arkeolog, antropolog dan geolog.

Ekspedisi akan melibatkan sekitar 25 peneliti geologi, antropologi, sosiologi dan biologi serta penulis buku, jurnalis, dan film maker. Ekspedisi akan menjadi spesial, karena secara khusus akan menghasilkan film dokumenter yang memiliki format yang cocok untuk ditayangkan di TV swasta sebanyak belasan episode. Selain itu, ekspedisi juga akan menghasilkan serangkaian buku, foto untuk dipamerkan, seri diskusi atau seminar.

Riset Awal sudah dilaksanakan belum lama ini, yaitu tanggal 12-23 Mei 2017 lalu yang melibatkan 11 peneliti untuk lebih mematangkan pelaksanaan ekspedisi yang akan dilaksanakan bulan September mendatang. Hasilnya akan segera kami pasang di http://ekspedisipalukoro.co .


 

Untuk informasi yang lebih lengkap silahkah kunjungi situs Ekspedisi Palu-Koro di sini: http://ekspedisipalukoro.co


Baca tulisan lainnya:
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1)
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2)
Ekspedisi Palu-Koro Akan Segera Dilaksanakan Bulan April 2017
POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO & TEKNOLOGI GPS
Waspadai Siklus Gempa pada Sesar Palu-Koro
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Wilayah Rawan Gempa Besar di Sulawesi
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Kerawanan Bencana Gempa dan Tsunami
Gempa Bumi Berdasarkan Kedalaman Episenternya
Dirgahayu Republik Indonesia

 

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz