Peran Sektor Swasta dan Menurunnya Besar Anggaran PRB di Indonesia

DisasterChannel, Jakarta 5 Oktober 2016. Ekskalasi bencana terkait perubahan iklim akan semakin meningkat. Melihat trend dan data yang dikekuarkan oleh BMKG, seharusnya bulan ini masih masa transisi dari musim panas ke musim hujan, tetapi curah hujan tinggi, apalagi nanti saat masuk musim penghujan.

Namun sayangnya anggaran bencana saat ini dipangkas, dari per tahun 1,2 triliun menjadi 750 miliar per tahun. Sehingga dibutuhkan peran atau keterlibatan masyarakat, apalagi lembaga usaha untuk ikut mengatasi dan menghadapinya. Demikian Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB saat berbicara dalam workshop setengah hari yang membahas tentang Peran Sektor Privat Merespon Isu Global.

Hadir juga sebagai pembicara dari beberapa perusahaan besar Indonesia, seperti Agus Purnomo (Direktur SMART/Sinar Mas Agro Resources and Technology), Taruli Aritonang (Manajer CSR PT HM Sampoerna Tbk.). Dua perusahaan besar ini memaparkan peran dan keterlibatan mereka dalam program PRB (Pengurangan Risiko Bencana) dalam tahun-tahun terakhir ini. Sampoerna bahkan memaparkan program-program CSR-nya yang sangat terkait dengan program PRB.

Sedangkan Trinirmalaningrum, sekjen Platform Nasional, menyampaikan, bahwa “Peran lembaga usaha bagi kami sangat penting, apalagi dalam penanganan kebencanaan dan perubahan iklim. Bukan hanya soal keberlanjutan lembaga usahanya, tetapi bagaimana rantai pasok (supply chain) tetap terjaga, karena rantai pasok in berkait juga dengan masyarakat, sehingga Perkumpulan skala bekerjasama dengan IRIDES, G Safety merasa penting untuk memberikan ruang bagi sektor privat untuk saling sharing informasi ke lembaga lain. Dan untuk melihat kemungkinan dalam menjalin kerjasama strategis.

Workshop yang dimoderatori oleh Victor Rembeth, praktisi dan pemerhati sektor privat berlangsung sejak pukul 09:00 tadi pagi akan berlangsung hingga siang nanti. Hadir juga sebagai pembicara Yahuhito Jibiki, Assistant Professor IRIDeS, University of Tohoku, Japan yang memaparkan pengalaman Jepang bersama sektor privat dalam menghadapi bencana.

Indonesia adalah wilayah rawan bencana alam, terutama karena berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik yang dapat menghasilkan gempa bumi dan tsunami kapan saja. Menurut ahli geologi dalam sebuah Seminar tahun 2014 lalu, ada 80 titik wilayah rawan gempa di Indonesia. Bencana gempa bumi dan tsunami telah terjadi beberapa dekade terakhir ini, sehingga masih diperlukan berbagai upaya untuk mensosialisasi bahaya bencana alam ini. Demikian juga upaya untuk menjalankan berbagai program PRB untuk menurunkan angka korban dan kerugian. Tentu saja peran sektor privat menjadi sangat penting.

Belajar dari berapa peristiwa bencana, sektor privat menderita kerugian yang lebih besar dibanding lainnya. Bahkan sektor privat pula yang memikul kerugian itu sebagaimana tergambar dalam 2 grafik di bawah ini.

screenshot-16

screenshot-15

 

Workshop ini diselenggarakan oleh Perkumpulan SKALA bekerja sama dengan IRIDeS, University of Tohoku, Japan dan kelompok sektor privat. Diskusi masih berlangsung untuk memperjelas atau menyusun peran sektor privat dalam PRB di Indonesia.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz