Kebakaran Hutan dan Lahan Menurun 61% di Tahun 2016

Kemarin, 29 Agustus 2016, bertempat di kantor pusat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB mengadakan konferensi press untuk menjelaskan situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Penjelasan diberikan di akhir bulan Agustus, karena untuk menyambut puncak musim kemarau di bulan Agustus ini.

Sutopo menyampaikan bahwa sebagaimana di tahun-tahun lalu, puncak karhutla berada di bulan Agustus. Sutopo juga memaparkan melalui data-data yang terutama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bahwa hotspot (titik karhutla) yang terekam oleh satelit di tahun 2016 ini berkurang sebesar 61% dari tahun 2015.

Screenshot (91)

Secara umum, hutan dan lahan Indonesia dalam keadaan tidak memproduksi asap yang berbahaya, meski beberapa hari lalu sempat ada asap karhutla yang mengganggu negeri jiran, seperti Singapura. Namun disampaikan oleh Sutopo itu karena ada banyak titik karhutla di wilayah Riau, yaitu sejumlah 85 dan kebetulan angin bertiup ke arah negeri jiran. Sekarang karhutla Riau sedang ditangani secara serius.

Salah satu faktor penyebab berkurangnya karhutla disampaikan oleh Sutopo adalah faktor cuaca di tahun 2016 ini yang disebutkan lebih lembab di tahun 2015 lalu. Ada anomali cuaca dan menguatnya La Nina menyebabkan curah hujan meningkat selama musim kemarau sehingga mengurangi karhutla. Ia juga menyebut faktor lain, seperti penegakkan hukum, di mana sudah ada sejumlah perusahaan yang dibawa ke meja hijau, karena disangka menyebabkan karhutla. Juga strategi melawan karhutla sudah banyak perbaikan.

Meski demikian Sutopo menyebutkan bahwa karhutla 2016 ini 99% dilakukan oleh masyarakat sekitar. Meski demikian menurut citra satelit wilayah karhutla itu sering berada di dalam wilayah milik perusahaan perkebunan. Menurut Sutopo lagi, masyarakat sekitar membakar wilayah itu karena mengira wilayah itu wilayah tak bertuan, sehingga mereka gunakan untuk berladang dengan cara membakar pepohonan.

Sutopo juga memaparkan angka-angka anggaran yang tersedia dari pemerintah Indonesia dan pemerintah Cina untuk penanggulanan bencana karhutla. Selain itu Sutopo juga memaparkan fasilitas yang dimiliki untuk melawan karhutla, begitu juga soal strategi melawan karhutla yang memanfaatkan banyak pihak seperti:  Unsur Pemerintah Daerah, Manggala Agni KemenLHK, TNI, POLRI, Masyarakat Peduli Api, Relawan serta Instansi/Lembaga terkait lainnya.

Sejauh ini nampaknya upaya pemerintah melalui jajarannya sudah cukup membuahkan hasil, meski di wilayah Riau karhutla masih terjadi dalam skala yang cukup mengkhawatirkan. Nampaknya strategi melawan karhutla harus disertai dengan kampanye yang gencar dan itu akan mungkin akan melibatkan dana yang cukup besar.

(foto: BNPB)

Mengenai Kebakaran Hutan dan Lahan, DisasterChannel.co sebagai media partner dari Perkumpulan Skala menerbitkan sebuah buku berjudul Di Balik Tragedi Asap: Catatan Kebakaran Hutan dan Lahan 2015. Lihat beritanya di sini.

Leave a Reply

1 Comment on "Kebakaran Hutan dan Lahan Menurun 61% di Tahun 2016"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
anggel
Guest

No explanation was given at the end of August , due to greet the peak of the dry season in August.
togel singapura

wpDiscuz