Ekspedisi Palu-Koro dan Beberapa Aspek Unik Yang Mesti Dikedepankan

Workshop untuk mempersiapkan Ekspedisi Palu-Koro telah diselenggarakan tanggal 11 Agustus 2016 lalu di Gedung DEN, Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Workshop ini terselenggara berkat dukungan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Komite Eksplorasi Nasional (KEN) dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Ekspedisi yang diinisiasi oleh Perkumpulan SKALA dan Platform Nasional (Planas) untuk Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ini sejak awal sekali didukung oleh IAGI yang diketuai oleh Sukmandaru Prihatmoko. Menyusul datang juga dukungan dari BPPT dan BNPB. Lalu menyusul juga KEN diwakili oleh Ketuanya Andang Bachtiar yang kut memberi dukungan dalam pidato singkat untuk menutup acara workshop tersebut.

Ekspedisi ini ditujukan untuk mengungkap potensi bencana gempa dan tsunami di wilayah Sulawesi, terutama wilayah yang berada di atas wilayah Sesar Palu-Koro yang membentang dari Teluk Palu hingga ke Teluk Bone. Hasil ekspedisi ini akan berbentuk film dokumenter yang akan di tayangkan di TV dan juga berbentuk sekumpulan foto, seminar serta buku dengan fokus kajian yang berbeda-berda.

Workshop dibuka oleh sekjen Platform Nasional (Planas), Trinirmalaningrum yang menjelaskan tentang apa itu Planas dan apa yang dikerjakan oleh Planas selama ini. Sekjen juga menjelaskan tentang banyaknya wilayah rawan gempa di Indonesia, sehingga diperlukan program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di wilayah itu untuk mengurangi korban jiwa dan kerugian material.

Wisnu Wijaya dari BNPB selanjutnya memberi sambutan. Ia berterimakasih kepada mereka yang menginisiasi ekspedisi ini, karena memang penting untuk memetakan wilayah rawan gempa seperti di Sulawesi ini. Wisnu Wijaya juga menyampaikan angka statistik tentang mereka yang bisa selamat dari bencana, yaitu mereka yang memiliki pengetahuan tentang bencana lebih memiliki peluang untuk selamat dibanding mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan mengandalkan orang lain atau pihak luar.

Wisnu Wijaya juga menyampaikan bahwa penting untuk menggunakan bahasa yang populer atau cara yang mudah dipahami oleh masyarakat jika ingin mensosialisasikan program PRB. Misalnya, ada istilah yang mudah diingat masyarakat untuk menghadapi gempa dan tsunami, yaitu 20, 20, 20. Dua puluh detik setelah terjadi gempa harus disikapi dengan 20 menit berlari ke tempat yang lebih tinggi 20 meter. Format ekspedisi yang dipilih Perkumpulan SKALA menjadi menarik dalam kerangka PRB. Lebih jauh Wisnu Wijaya menyampaikan, bahwa meski science yang dikembangkan untuk program PRB terus semakin maju, namun kearifan lokal harus digali, karena masyarakat yang hidup di atas wilayah bencana sudah membangun kearifan lokalnya sendiri, sehingga lebih mampu untuk selamat. Wisnu Wijaya juga menyampaikan, bahwa ekspedisi ini cocok dengan program BNPB, karena BNPB memang memiliki program yang memproduksi film dokumenter pendek untuk mendokumentasikan dan mensosialisasikan berbagai wilayah bencana di Indonesia.

Sedangkan Sukmandaru Prihatmoko, ketua IAGI menyampaikan bahwa sejak awal disampaikan oleh panitia ekspedisi, IAGI sudah antusias dengan ekspedisi ini, karena sejalan dengan apa yg selama ini dan akan dikerjakan oleh IAGI. Para ahli geologi sebenarnya cukup intens melakukan kajian-kajian yang diperuntukkan bagi mitigasi bencana. Para ahli geologi mengira para aktifis PRB memang akan lebih tepat untuk menjadi corong para ahli geologi untuk mensosialisasikan soal-soal Sesar Palu-Koro, karena akan disampaikan dengan cara yang lebih efektif, misalnya dengan memanfaatkan media platform yang lebih tepat. Sukmandaru memang menyebut soal social media platform yang akan dimanfaatkan tim ekspedisi ini untuk mensosialisasikan program PRB di wilayah ini.

Sukmandaru juga menyampaikan, bahwa workshop ini akan mengedepankan 4 points penting dari sudut pandang geologi, yaitu 1. Soal Tektonik, 2. Bencana yang tersimpan, 3. Sumber daya alam (tambang), dan 4. Geo wisata.

Dalam diskusi sesi pertama yang dimoderatori oleh Arief Pramono anggota IAGI, salah satu nara sumber, Danny Hilman Natawidjaja memaparkan peta-peta sesar di Sulawesi yang harus dianggap penting, karena kehidupan di atasnya harus menyesuaikan diri dengan kemungkinan munculnya gempa bumi kecil atau pun besar yang entah kapan. Pemerintah sebaiknya juga meletakkan cukup perhatian pada wilayah Sulawesi, karena menurut para ahli geologi, wilayah Sulawesi memiliki catatan gempa yang lebih kuat dibanding wilayah lain di Indonesia, termasuk wilayah Sumatera. Pemerintah harus terlibat mensosialisasikan misalnya tentang bangunan atau infrastruktur yang tahan gempa. Di sampaikan juga soal peluang untuk geo wisata, karena ada banyak situs megalitik dan ada ribuan artefak yang tersebar di wilayah sulawesi tengah. Hal ini menarik, karena beberapa pola atau bentuk artefak memiliki kesamaan dengan artefak yang ada di Turki.

Tiga topik yang dipaparkan oleh  para ahli geologi dalam sesi pertama workshop ini:

  1. Tektonik dan Geologi Struktur Sulawesi dipaparkan oleh Danny Hilman – LIPI/IAGI
  2. Sesar Palu-Koro dan Potensi Bencana dipaparkan oleh Mudrik Daryono – LIPI
  3. Geologi dan Sumberdaya Kebumian di Sepanjang Sesar Palu–Koro dipaparkan oleh Ade Kadarusman – IAGI/MGEI

Moderator untuk sesi kedua dalam workshop itu, Jojo Rahardjo dari DisasterChannel.co, menyampaikan dalam pembukaan diskusi, bahwa sebuah seminar ahli geologi dan ahli bencana (Seminar Nasional Jaya Giri Jaya Bahari) di tahun 2014 menghasilkan beberapa fakta penting antara lain bahwa ada 80 sesar aktif (patahan dari pertemuan 2 lempeng tektonik) di Indonesia yang dapat memicu gempa bumi kecil atau kuat. Itu artinya ada banyak wilayah yang rawan gempa atau rawan bencana di Indonesia. Apa yang disampaikan oleh para ahli geologi itu, antara lain Surono dari Badan Geologi dan Widjo Kongko dari BPPT, berguna bagi penyusunan berbagai gerakan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Untuk itulah Ekspedisi Palu-Koro dibuat, yaitu salah satunya untuk menterjemahkan kajian-kajian para ilmuwan agar menjadi program PRB yang lebih komunikatif dan lebih berguna bagi masyarakat.

Salah satu nara sumber dalam workshop tersebut, Mudrik Daryono dari LIPI menyampaikan, bahwa ia sudah meneliti Sesar Palu-Koro untuk disertasi gelar doktornya. Menurutnya Sesar Palu-Koro dibagi 3 segmen dan salah satu segmen berada di tengah kota Palu yang tentu saja harus disikapi dengan serius. Hasil penelitian ini belum pernah dipublikasikan karena masih membutuhkan penelitian yang lebih lanjut, apalagi publikasi untuk penelitian yang semacam ini harus hati-hati karena bisa menimbulkan keresahan atau kepanikan. Demikian antara lain yang disampaikan Mudrik dalam workshop kemarin.

Nara sumber yang lain, Ahmad Arief dari KOMPAS memaparkan berbagai ekspedisi yang pernah dilakukannya di berbagai wilayah di Indonesia dan terutama di Sulawesi. Ekspedisi yang dilakukannya bersama KOMPAS meliputi berbagai aspek yang mungkin boleh disebut nyaris lengkap. Hasil ekspedisi dituangkan dalam berbagai format, tentu termasuk format multimedia yang dapat dinikmati secara online. Salah satu aspek yang menarik adalah temuan bahwa flora dan fauna di Sulawesi menunjukkan bahwa Sulawesi di masa lampau adalah beberapa pulau yang berbeda yang kemudian menyatu. Bahkan benua Australia dan Asia pernah menjadi bagian dari Sulawesi. Ahmad Arief juga memaparkan bahwa wilayah Sulawesi di masa purba dulu pernah menjadi wilayah yang dilewati oleh migrasi manusia purba.

Nara sumber yang lain Heriyadi Rachmat dari IAGI/MAGI/BG menekankan, bahwa potensi geo wisata di wilayah Sesar Palu-Koro cukup besar, namun perlu diingatkan bahwa sebaiknya bukan hanya geo wisata yang didorong tetapi juga geo park, karena geo park melibatkan peran pemerintah daerah dan peran masyarakat sekitar, sehingga lebih menjamin kelestarian wilayah wisata tersebut. Heriyadi Rachmat banyak menampilkan contoh-contoh geo wisata dan geo park dari berbagai tempat di dunia dan di Indonesia. Ekspedisi ini sangat diharapkan untuk lebih mengkaji peluang-peluang geo wisata dan geo park, sehingga bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya.

Sedangkan nara sumber Arianto Sangaji dari York University, Toronto, Canada memaparkan latar belakang masyarakat Sulawesi berdasarkan sosiologi. Pemaparan Arianto Sangaji menjadi penting untuk memahami masyarakat di wilayah konflik Poso yang kebetulan berada di wilayah Ekspedisi Palu-Koro. Arianto Sangaji menyinggung nama-nama antara lain Tibo dan Santoso yang menjadi terkenal karena konflik sosial di wilayah itu untuk menggambarkan rumitnya penjelasan (secara sosiologi) latar belakang konflik itu. Pemaparan itu diberikan dalam kerangka program PRB yang harus menyesuaikan dengan latar belakang berbagai kelompok masyarakat di wilayah itu.

Arianto cukup lama berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat di Sulawesi sebelum ia melanjutkan studinya di manca negara. Ia lalu juga memaparkan, bahwa kelompok-kelompok masyarakat di Sulawesi dewasa ini bukan masyarakat asli yang telah bermukim lama di masing-masing wilayahnya, namun masyarakat yang aktif bergerak dan dipengaruhi oleh berbagai perubahan di tingkat nasional maupun dunia. Kapitalisme juga disebut oleh Arianto ikut membentuk perangai berbagai kelompok masyarakat di Sulawesi.

Sukmandaru Prihatmoko dan Anif Punto Utomo (IAGI) akhirnya menutup acara workshop dengan menyimpulkan antara lain, bahwa setelah berbagai paparan dari para nara sumber, baik dari geologi, maupun dari non geologi, maka disimpulkan bahwa Ekspedisi Palu-Koro ini menjadi penting. Ada beberapa aspek yang mesti dikedepankan dari wilayah yang berada di atas Sesar Palu-Koro, misalnya aspek gempa yang menghasilkan bencana, aspek geo wisata atau geo park yang bisa menunjang perekonomian lokal, aspek kemasyarakatan yang rawan konflik sosial, aspek sumber daya alam mineral, aspek ilmu pengetahuan yang lebih umum, namun berguna bagi kemanusiaan. Para ahli geologi juga akan lebih giat terlibat dalam gerakan PRB, karena memang sejak lama sudah melakukan kajian-kajian ilmiah yang terkait bencana, meski belum terekspose atau terpublikasi ke publik.


Baca tulisan lainnya:
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1)
Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2)
Ekspedisi Palu-Koro Akan Segera Dilaksanakan Bulan April 2017
POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO & TEKNOLOGI GPS
Waspadai Siklus Gempa pada Sesar Palu-Koro
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Wilayah Rawan Gempa Besar di Sulawesi
Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Kerawanan Bencana Gempa dan Tsunami
Gempa Bumi Berdasarkan Kedalaman Episenternya
Dirgahayu Republik Indonesia

Leave a Reply

2 Comments on "Ekspedisi Palu-Koro dan Beberapa Aspek Unik Yang Mesti Dikedepankan"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
trackback

[…] Segera Dilaksanakan Bulan April 2017 Ekspedisi Palu-Koro (bagian 1) Ekspedisi Palu-Koro (bagian 2) Ekspedisi Palu-Koro dan Beberapa Aspek Unik Yang Mesti Dikedepankan. POTENSI GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO & TEKNOLOGI GPS Waspadai Siklus Gempa pada Sesar […]

trackback

[…] dan dari media Kompas. Beberapa tulisan mengenai hasil dari workshop ini dapat di baca di sini: Ekspedisi Palu-Koro dan Beberapa Aspek Unik Yang Mesti Dikedepankan. Tanggal 28 Februari 2017 mendatang, Workshop kedua akan dilaksanakan untuk mematangkan rencana […]

wpDiscuz