Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Wilayah Rawan Gempa Besar di Sulawesi

Untuk mempersiapkan Ekspedisi Palu-Koro yang akan dilaksanakan pada bulan September 2016, Planas, Perkumpulan SKALA, DisasterChannel.co dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), serta Komite Eksplorasi Nasional (KEN) menyelenggarakan sebuah workshop hari ini, 11 Agustus 2016.

Ekspedisi ini akan mengungkap potensi bencana gempa dan tsunami di wilayah Sulawesi, terutama wilayah yang berada di atas wilayah Sesar Palu-Koro yang membentang dari Teluk Palu hingga ke Teluk Bone. Hasil ekspedisi ini akan berbentuk film dokumenter yang akan di tayangkan di TV dan juga berbentuk sekumpulan foto serta buku dengan fokus kajian yang berbeda-berda.

Workshop dibuka oleh sekjen Platform Nasional (Planas), Trinirmalaningrum yang menjelaskan tentang apa itu Planas dan apa yang dikerjakan oleh Planas selama ini. Sekjen juga menjelaskan tentang banyaknya wilayah rawan gempa di Indonesia, sehingga diperlukan program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di wilayah itu untuk mengurangi korban jiwa dan kerugian material.

Wisnu Wijaya dari BNPB selanjutnya memberi sambutan. Ia berterimakasih kepada mereka yang menginisiasi ekspedisi ini, karena memang penting untuk memetakan wilayah rawan gempa seperti di Sulawesi ini. Wisnu Wijaya juga menyampaikan angka statistik tentang mereka yang bisa selamat dari bencana, yaitu mereka yang memiliki pengetahuan tentang bencana lebih memiliki peluang untuk selamat dibanding mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan mengandalkan orang lain atau pihak luar.

Wisnu Wijaya juga menyampaikan bahwa penting untuk menggunakan bahasa yang populer atau cara yang mudah dipahami oleh masyarakat jika ingin mensosialisasikan program PRB. Misalnya, ada istilah yang mudah diingat masyarakat untuk menghadapi gempa dan tsunami, yaitu 20, 20, 20. Dua puluh detik setelah terjadi gempa harus disikapi dengan 20 menit berlari ke tempat yang lebih tinggi 20 meter. Format ekspedisi yang dipilih Perkumpulan SKALA menjadi menarik dalam kerangka PRB.

Lebih jauh Wisnu Wijaya menyampaikan, bahwa meski science yang dikembangkan untuk program PRB terus semakin maju, namun kearifan lokal harus digali, karena masyarakat yang hidup di atas wilayah bencana sudah membangun kearifan lokalnya sendiri, sehingga lebih mampu untuk selamat.

Wisnu Wijaya juga menyampaikan, bahwa ekspedisi ini cocok dengan program BNPB, karena BNPB memang memiliki program yang memproduksi film dokumenter pendek untuk mendokumentasikan dan mensosialisasikan berbagai wilayah bencana di Indonesia.

Sedangkan Sukmandaru Prihatmoko, ketua IAGI menyampaikan bahwa sejak awal disampaikan oleh panitia ekspedisi, IAGI sudah antusias dengan ekspedisi ini, karena sejalan dengan apa yg selama ini dan akan dikerjakan oleh IAGI. Para ahli geologi sebenarnya cukup intens melakukan kajian-kajian yang diperuntukkan bagi mitigasi bencana. Para ahli geologi mengira para aktifis PRB memang akan lebih tepat untuk menjadi corong para ahli geologi untuk mensosialisasikan soal-soal Sesar Palu-Koro, karena akan disampaikan dengan cara yang lebih efektif, misalnya dengan memanfaatkan media platform yang lebih tepat. Sukmandaru memang menyebut soal social media platform yang akan dimanfaatkan tim ekspedisi ini untuk mensosialisasikan program PRB di wilayah ini.

Sukmandaru juga menyampaikan, bahwa workshop ini akan mengedepankn 4 points penting dari sudut pandang geologi, yaitu 1. Soal Tektonik, 2. Bencana yang tersimpan, 3. Sumber daya alam (tambang), dan 4. Geo wisata.

Dalam diskusi sesi pertama yang dimoderatori oleh Arief Pramono anggota IAGI, salah satu nara sumber, Danny Hilman Natawidjaja memaparkan peta-peta sesar di Sulawesi yang harus dianggap penting, karena kehidupan di atasnya harus menyesuaikan diri dengan kemungkinan munculnya gempa kecil atau pun besar yang entah kapan. Pemerintah sebaiknya meletakkan perhatian pada wilayah Sulawesi, karena menurut para ahli geologi, wilayah Sulawesi memiliki catatan gempa yang lebih kuat dibanding wilayah lain di Indonesia, termasuk wilayah Sumatera. Pemerintah harus terlibat mensosialisasikan misalnya tentang bangunan atau infrastruktur yang tahan gempa.

Di sampaikan juga soal peluang untuk geo wisata, karena ada banyak situs megalitik dan ada ribuan artefak yang tersebar di wilayah sulawesi tengah. Hal ini menarik, karena beberapa pola atau bentuk artefak memiliki kesamaan dengan artefak yang ada di Turki.

Tiga topik yang dipaparkan oleh  para ahli geologi dalam sesi pertama workshop ini:

  1. Tektonik dan Geologi Struktur Sulawesi dipaparkan oleh Danny Hilman – LIPI/IAGI
  2. Sesar Palu-Koro dan Potensi Bencana dipaparkan oleh Mudrik Daryono – LIPI
  3. Geologi dan Sumberdaya Kebumian di Sepanjang Sesar Palu–Koro dipaparkan oleh Ade Kadarusman – IAGI/MGEI

Workshop masih berlangsung hingga laporan ini ditulis. Nara sumber lain akan memaparkan antara lain tentang potensi sumber daya alam (tambang) di wilayah Sesar Palu-Koro ini. Diskusi akan dilanjutkan setelah makan siang dengan topik yang non-geologi, seperti kebudayaan, flora, fauna, dan sejarah migrasi manusia purba.

 

 

Leave a Reply

1 Comment on "Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Wilayah Rawan Gempa Besar di Sulawesi"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
trackback

[…] GEMPA BUMI DI SESAR PALU-KORO & TEKNOLOGI GPS Waspadai Siklus Gempa pada Sesar Palu-Koro Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Wilayah Rawan Gempa Besar di Sulawesi Ekspedisi Palu-Koro Mengungkap Kerawanan Bencana Gempa dan Tsunami Gempa Bumi Berdasarkan Kedalaman […]

wpDiscuz