Batik Merapi Balerante: Menggali Pesona Emosi, Sejarah dan Romantisme

Disasterchannel.co – Pada 2010, dimulai sejak September, Gunung Merapi mulai menggeliat, hingga puncaknya terjadi letusan, tepat pada 26 Desember 2010. Lebih dari 300 orang meninggal dunia, dan rumah-rumah di sekitar gunung itu mengalami kerusakan.

Letusan itu juga membawa dampak perubahan pada sektor ekonomi dan kultural. Aktivitas perekonomian lumpuh, sehingga harapan mesti dibangun untuk menggerakkan kembali rodanya.

Kehidupan di tenda pengungsian sungguh memprihatinkan. Para kepala keluarga sibuk memikirkan cara membangun kembali masa depan, para ibu menumpahkan tangis, anak-anak kehilangan alasan bercanda, dan pemuda-pemudi kehilangan gairah beraktivitas. Namun, bagi para korban, keganasan Merapi tidak bisa memusnahkan kecintaan mereka terhadap kampung halaman.

Relawan yang berdatangan dari pelbagai pihak, pada waktu itu, tidak hanya mengulurkan bantuan logisik, tapi juga membekali para korban dengan keterampilan. Lewat perbekalan itulah diharapkan para korban dapat membangun kembali masa depan yang luluh lantak.

Maka, dipelopori oleh Mahkota Batik asal Laweyan, Solo, kegiatan membatik dalam rangka trauma healing mulai diperkenalkan kepada warga Desa Balerante, yang berada di lereng Gunung Merapi.

Membatik, bagi warga Balerante, bukanlah keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun, atau tradisi yang berkembang dalam keseharian, melainkan ilmu dan keterampilan yang diajarkan oleh para relawan dalam tujuan membangun semangat wirausaha. Dimulai dari September 2010 hingga Januari 2011, keterampilan membatik intens diajarkan. Bahkan, setelah warga kembali ke desa, sekitar 30 orang dikirim ke Solo untuk memperdalam ilmu membatik.

Kesulitan sempat dialami tim relawan, dimulai dari teknis pembuatan batik, hingga persoalan pemasaran. Tapi untungnya, dengan ketekunan dan ikhtiar kemanusiaan, batik Merapi Balerante pun menjadi ciri khas desa itu. Pada awalnya, warga tidak percaya diri dengan hasil karya mereka. Mulwaningsih, misalnya, baru menyadari keindahan karyanya ketika dipuji orang lain.

Keindahan batik Merapi Balerante memang terletak pada keunikan motifnya yang berbeda dengan batik lain. Keunikan tersebut sebenarnya disebabkan tidak adanya tradisi membatik di kalangan warga di sana. Maka membatik, bagi mereka, seperti mencanting perasaan, menggali pesona emosi, sejarah, serta romantisme. Darwono, salah satu warga Desa Balerante, menggambarkan rumitnya lika-liku kehidupan dengan pelbagai permasalahan yang sangat kompleks akibat adanya letusan Merapi, lewat motif Gothic yang ditemukannya. Sedangkan Yanto, mencantingkan sisi keindahan serta kegagahan Merapi, lewat motif batiknya.

Saat ini, meski tidak membawa perubahan menggembirakan dari sisi ekonomi karena stganansi pemasaran, batik Merapi Balerante telah meniupkan sejuknya harapan. Paling tidak, lewat aktivitas membatik warga belajar merawat serta mewariskan kekayaan budaya Indonesia. Apalagi, dalam membatik para perajin setempat tetap berupaya arif dengan menggunakan pewarna alami yang didapatkan dari tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka. (RN)

Referensi

http://web.jalinmerapi.net/2014/05/26/kisah-batik-merapi-balerante-dibukukan/

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz