Keseimbangan antara Religiusitas yang Menenteramkan dan Gairah Positivisme

Disasterchannel.co – “Nyuwun marang Gusti wae, Gusti Allah rak luwih sugih,” ungkap salah seorang korban gempa Jogjakarta 2007 silam, yang dikutip dari www.suarakorbanbencana.org. Dalam suara penuh optimisme tersebut, seolah ada ketidaksesuaian antara penerimaan dan respon atas penerimaan. Tapi, begitulah religiusitas berperan pada korban bencana.

Hasil penelitian yang dilakukan Argyle (2001), menunjukkan bahwa religiusitas membantu individu mempertahankan kesehatan mental pada saat-saat sulit.

Bila ditinjau dari dimensi pengalaman; dari teori lima dimensi religiusitas yang diungkapkan Ancok dan Suroso, perasaan dekat dengan Tuhan melalui pelbagai pengalaman menjadi salah satu pondasi dari ketenteraman respon korban terhadap bencana. Bahwa Tuhan selalu melindungi, dan doa akan senantiasa didengar.

Namun, di lain sisi, terdengar pula suara sumbang dari korban: “Bencana adalah akibat dosa kita.” Kata ‘kita’ di sini adalah kesimpulan yang emosional, karena jelas manusia—dengan segala keterbatasannya—tidak sanggup mengukur pahala dan dosa sendiri, apalagi manusia lainnya. Jelasnya, pernyataan melukai semacam itu seperti upaya yang terbatas mengukur yang tidak terbatas.

Baru-baru ini, Indonesia menggelar Perhelatan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IAB) di Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, yang mengusung tema “Membangun Kemandirian Industrialisasi dan Teknologi Berbasis Riset Kebencanaan Indonesia”. Di sana, kontestasi sains dalam upaya pengurangan risiko bencana terlihat.

Pelbagai terobosan berbasis sains terlihat di ruang pameran, baik dalam pendekatan teknologi, sosial, budaya, dan kajian lainnya. Gairah postivisme di tengah intensitas pengalaman bencana di Indonesia serupa angin segar, dan menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berupaya tangguh lewat pengalaman serta kerentanannya.

Berada pada posisi geologis di mana ancaman bencana alam mengintai, membangun kesadaran penuh bagi para ahli bencana Tanah Air untuk tidak membiarkan Indonesia terjerumus pada “komoditi” internasional. Untuk itu, kemandirian anak bangsa didorong melalui terobosan sains, dan diharapkan karya-karya tersebut dapat dipergunakan.

Gairah positivisme bukan dalam maksud meniadakan ketenteraman religiusitas. Positivisme adalah upaya merawat rasa syukur atas negeri yang penuh kekayaan alam sekaligus kerentanan. Dan, religiusitas juga perlu dirawat di tengah kesadaran atas keterbatasan kemampuan manusia. Apabila gairah positivisme menjadi angin segar, dan religiusitas menjadi angin sejuk, maka bukan tidak mungkin harapan terus tumbuh subur di tanah bencana. (RN)

Referensi:

“Jurnal Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada”. Volume 34, Nomor 2, 164 – 176.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz